Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Permintaan Luar Kota Picu Harga Tinggi

03 Desember 2019, 13: 33: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

MASIH MAHAL : Pedagang tomat di Pasar Grosir, Ngronggo saat melayani pembeli, kemarin.

MASIH MAHAL : Pedagang tomat di Pasar Grosir, Ngronggo saat melayani pembeli, kemarin. (HABIBAH A MUKTIARA - JP RADAR KEDIRI)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Berbeda dengan cabai, meski panen, harga tomat tetap terjaga. Harganya tetap tinggi. Kondisi ini diduga dipicu masih banyaknya permintaan tinggi dari luar kota.

Seperti diungkapkan pedagang tomat di Pasar Grosir, Ngronggo Hermawan Wahyudi. “Setiap hari harga tomat mengalami perubahan,” terang Hermawan Wahyudi, 45, ketika ditemui di lapaknya kemarin.

Di lapaknya, harga salah satu komoditas sayuran ini per kilogramnya dijual dengan harga Rp 7 ribu.  Di mana sebelumnya, harga tomat per kilogram dijal dengan harga Rp 7.500. Meski dengan turunnya sekitar Rp 500, harga tomat masih di atas harga normal. Namun meski begitu, harga tomat bisa dikatakan tidak begitu mahal.

Harga Rp 7000 per kilogram bertahan selama dua minggu. Meski begitu, tomat menjadi salah satu jenis sayuran yang masih dicari konsumen. Padahal, di daerah Kediri memang sedang panen. Akan tetapi, banyak barang yang dikirim. Hal tersebut dikarenakan banyaknya pesanan dari luar pulau. Tidak hanya permintaan dari luar saja, namun juga disebabkan oleh gagal panen di beberapa tempat.

“Sebagian besar peminat tomat berasal dari kalimantan,” imbuhnya. Ketidakstabilan harga tomat, tidak hanya dikarenakan jumlah permintaan yang tinggi. Kurangnya stok tomat juga disebabkan kegagalan panen sebagian petani tomat. Penyebab gagal panen tersebut dikarenakan kurangnya pasokan air di persawahan karena sedang musim kemarau. “Memang di wilayah Kediri masih tercukupi airnya, namun di luar kota ada yang kekurangan air,” tutur Hermawan.

Hermawan menambahkan, pernah suatu kali harga tomat mencapai Rp 15 ribu perkilogram. Dalam satu hari, Hermawan menyetok tomat berasal dari daerah Sumberpodang, Semen; Gurah dan Karangtalun, Kras.

Dalam sekali stok, Hermawan mengatakan dapat mendatangkan sekitar 1200 kilogram. Stok tersebut digunakan dalam penjualan satu hari. Masih di pasar yang sama, hal tersebut juga diungkapkan oleh Nurul, pedagang tomat lainnya.

“Meski dengan harga saat ini, tomat masih banyak yang mencari,” terang pria 25 tahun tersebut.

Tidak jauh berbeda dengan milik Hermawan, di lapak, Nurul harga tomat dijual mulai dengan harga Rp 6500 hingga Rp 7000 per kilogram. Sebelumnya harga tomat dijual dengan harga Rp 7500 hingga Rp 8000 per kilogram. “Untuk tomat memang banyak yang mencari, terutama di luar Jawa,” imbuhnya.

Untuk stok barang, Nurul mengambil tomat tidak hanya dari wilayah Ngancar namun juga dari wilayah luar kota. Dalam sekali stok, ia mengambil dari petani sekitar 300 hingga 500 kilogram.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri Ita Sacharani mengatakan mahalnya harga tomat dikarenakan faktor cuaca. Dengan kondisi cuaca yang esktrim panas, menyebabkan kekurangan air. “Sebagian kecil juga karena serangan hama penyakit,” terang Ita.

Untuk stok tomat di wilayah Kota Kediri, sebagian besar diambil dari Kabupaten Kediri, Malang, dan Batu. Dari survei yang dilakukan oleh DKPP, harga tomat rata-rata di pasaran dijual dengan harga Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu. Dengan harga tersebut, masih tergolong tinggi. Karena standar harga tomat di pasaran, per kilogram dijual dengan harga Rp 6 ribu hingga Rp 8 ribu. 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia