Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Abu Dukung Penuh Keluarga

Tarik Shalfa Bersekolah di Kediri

02 Desember 2019, 20: 57: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

MENGADU: Shalfa (dua dari kiri) bersama ibunya (kiri) dan kuasa hukum menemui Wali Kota Abu di rumah dinas, kemarin.

MENGADU: Shalfa (dua dari kiri) bersama ibunya (kiri) dan kuasa hukum menemui Wali Kota Abu di rumah dinas, kemarin. (Anwar Bahar Basalamah - JP Radar Kediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Wali Kota Abdullah Abu Bakar memberikan respons terhadap kasus yang menimpa atlet senam lantai Shalfa Avrila Sania. Abu menegaskan akan membawa pulang pelajar 17 tahun itu dari Kabupaten Gresik ke Kota Kediri. Pemkot pun menyiapkan sekolah baru. Serta akan membinanya menjadi atlet berprestasi.

Pernyataan Abu itu keluar saat menerima rombongan keluarga Shalfa di rumah dinasnya, di Jalan Basuki Rahmat, kemarin. Shalfa datang dengan ditemani oleh ibunya, Ayu Kurniawati, kuasa hukum keluarga Imam Muklas, dan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Kediri.

Selama satu jam pertemuan itu berlangsung. Tapi berlangsung secara tertutup, mulai pukul 09.00.

Usai pertemuan itu, Wali Kota Abu mengaku kecewa dengan tuduhan tim pelatih kepada Shalfa. Yaitu mengembel-embeli pencoretan karena sang atlet sudah tidak perawan.

Sebenarnya, menurut Abu, kasus Shalfa bukan yang pertama dialami atlet Kota Kediri. “Ini yang kedua. Dulu juga ada perlakuan kurang baik dialami atlet (Kota) Kediri,” kata Abu kepada awak media usai pertemuan dengan keluarga Shalfa.

Menurutnya, pencoretan Shalfa sebagai atlet yang akan tampil di SEA Games Manila kurang mendasar. Kalaupun indisipliner, seharusnya pelatih bisa memberikan pembinaan. “Pelatih itu harus membesarkan hati atletnya,” ungkap wali kota yang akrab disapa Mas Abu ini.

Selain itu, Abu menambahkan, ketika atlet mengalami masalah indispliner seharusnya dites adalah kesehatannya. Bukan tes keperawanan seperti yang terjadi pada Shalfa. “Tidak ada hubungannya prestasi dengan virginitas. Seharusnya ada tes kesehatan. Bagiamana berat badannya, apakah naik atau turun,” ujarnya.

Apalagi, dari hasil perbincangan dengan keluarga Shalfa, Abu mengatakan, pencoretan pelajar kelas XII di SMAN 1 Kebomas Gresik itu tanpa melalui surat resmi. Sehingga, menurutnya hal itu tidak beretika.

“Mestinya ada surat. Ditegur dan diperlukan baik-baik. Supaya anaknya bangkit kembali. Ini sepertinya ada like dan dislike,” ungkap Abu.

Karena itulah, dalam hal ini pemkot mendukung penuh upaya yang dilakukan keluarga menempuh jalur hukum. Pasalnya, dari kejadian tersebut, Shalfa mengalami tekanan psikologis akibat tuduhan tidak perawan dari jajaran pelatih di Persatuan Senam Indonesia (Persani).

Atas kejadian itu, Abu meminta induk olahraga tersebut mencopot pelatih yang tidak berkompeten. Sebab, pernyataan soal tidak perawan sudah membuat kegaduhan luar biasa. Lebih-lebih membawa dampak trauma terhadap Shalfa. Seperti diketahui, setelah peristiwa itu, remaja asal Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto itu memutuskan berhenti berlatih dan tidak ingin menjadi atlet senam lagi.

Untuk mengangkat kembali mental dan prestasinya, Abu menandaskan, pemkot akan menarik Shalfa ke Kota Kediri. Pihaknya akan memerintahkan dinas pendidikan (disdik) untuk mengurus kepindahannya. “Senin (hari ini, Red), kami akan urus kepindahan Shalfa,” tandasnya.

Di Kota Kediri, Abu berjanji akan membina Shalfa menjadi atlet yang berprestasi. Karena itu, pemkot siap mencarikan arena tanding di luar negeri. “Dia atlet yang berprestasi. Sudah 49 medali yang pernah diraih. Jadi kebanggaan Jawa Timur,” ujarnya.

Sementara itu, Imam Muklas, kuasa hukum keluarga Shalfa mengatakan, upayanya tidak berhenti di wali kota. Rencananya, keluarga ingin menemui Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa. “Besok insy Allah kami beremu gubernur jam 1 (13.00, Red),” kata Muklas.

Dikuti dari JawaPos.com, pelatih kepala Indra Sibarani membantah keras. Dia mengatakan, pencoretan itu terjadi murni karena prestasi Shalfa yang melorot drastis dalam kualilifikasi PON yang berlangsung 1 – 4 November. Dengan status atlet SEA Games, tambah Indra, seharusnya Shalfa bisa menjadi juara pada nomor balance beam maupun floor. “Nggak prestasi, dibawa ke SEA Games? Kok enake!” kata Indra.

Untuk diketahui, pertemuan kemarin juga dihadiri anggota Komisi X DPR RI Abdul Hakim Bafagih. Dia mengatakan, akan meminta penjelasan kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) soal tuduhan tersebut. “Kenapa ada isu soal tidak perawan. Kasihan atletnya. Nanti kami tanyakan ke Kemenpora,” kata Hakim.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia