Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Pertanyakan Pemindahan Limbah

Warga Protes Pencemaran di Sungai Klinter

02 Desember 2019, 16: 16: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

Limbah

PROTES: Warga memasang poster di pinggir jembatan sungai Klinter. Mereka meminta pemkab menindaklanjuti pencemaran air di sana. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

PATIANROWO, JP Radar Nganjuk-Warga yang tinggal di dekat kolam ikan milik Sutikno, di Desa Babadan, Patianrowo, meminta agar limbah abu slag aluminium (asalum) yang ada di lingkungan mereka segera dipindah. Pasalnya, saat hujan Sabtu (30/11) malam, limbah untuk timbunan itu kembali mengeluarkan bau. 

Murniatin, 57, warga setempat mengatakan, setelah lingkungannya diguyur hujan, limbah asalum di kolam Sutikno itu kembali mengeluarkan bau menyengat. Sepintas seperti bau pesing. “Kapan (limbahnya, Red) dipindahkan? Kami tidak tahan baunya,” keluh perempuan tua itu.

Menindaklanjuti keluhan warga terkait limbah di Desa Babadan, Bupati Novi Rahman Hidhayat mengatakan, pihaknya sudah meminta dinas lingkungan hidup (LH) untuk menindaklanjuti potensi pencemaran lingkungan di sana. “Dinas LH sudah membuat laporan soal limbah (di Babadan, Red) dan berkoordinasi dengan kementrian untuk penanganannya,” tegas Novi.

Seperti diberitakan, puluhan karung limbah asalum di kolam ikan milik Sutikno di Desa Babadan, Patianrowo dikeluhkan warga. Pasalnya, limbah yang mengeluarkan asap saat terkena air itu berbau menyengat. Bahkan, ada warga yang terpaksa dilarikan ke puskesmas karena mengalami sesak napas setelah menghirup limbah minggu lalu.

Menindaklanjuti temuan itu, LSM Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) mengecek lokasi Jumat (29/11) lalu. Hasilnya, LSM yang aktif melakukan kajian ekologi dan konservasi lahan basah memastikan limbah di sana kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Ecoton merekomendasikan agar limbah segera dipindahkan.

Terkait hal ini, Kepala Dinas LH Nganjuk Tri Wahju Koentjoro mengungkapkan, limbah di Desa Babadan, Kecamatan Patianrowo sudah ditangani kasusnya saat ini sudah ditangani Penegakan Hukum (Gakum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). “Yang ada di sana (Desa Babadan, Red) sudah pasti limbah B3. saat ini masih dicari dari mana asal limbah tersebut,” urainya.

Kapan pemindahan limbah dilakukan? Tri mengatakan, pemindahan limbah tidak bisa dilakukan sembarangan. Yang wajib mengelola limbah menurutnya adalah perusahaan asalnya. “Kami juga inginnya segera dipindahkan, tapi limbah B3 ini tidak boleh diangkut sembarangan. Itu juga menjadi kewenangan dari pusat,” tandasnya.

Sementara itu, protes terkait limbah tidak hanya terjadi di Desa Babadan, Patianrowo. Warga di Desa Kemaduh, Kertosono kembali memprotes limbah di sungai Klinter yang memunculkan bau tak sedap. Mereka memasang beberapa spanduk meminta agar pencemaran limbah yang diduga dari PT Jaya Kertas itu segera ditindaklanjuti.

Kastamun, 46, warga setempat mengatakan, pencemaran tidak hanya terjadi di sungai Klinter. Dia mensinyalir sudah mulai masuk ke pemukiman. Dia mencontohkan, rembesan air sumur di desanya jika diendapkan selama dua atau tiga hari akan berubah menjadi cokelat kemerahan. “Secara kasat mata, air sumur kondisinya sama dengan sungai Klinter,” aku pria berambut ikal ini.

Lebih jauh Kastamun mengatakan, saat musim kemarau, sedimen sungai dipenuhi serat kertas. Karenanya, dia meminta Pemkab Nganjuk segera menindaklanjutinya. Termasuk mengkaji ulang kandungan air di sungai Klinter.

Ditanya tentang dugaan pencemaran di sungai klinter, Tri mengatakan, Gakum Kementerian LHK sudah memberi sanksi administrasi. “Saat ini, sudah dilimpahkan ke Direktorat Pemulihan Kontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah B3,” terang Tri.

Dinas LH, tuturnya, hanya bisa memantau prosesnya. Adapun sanksi dan tindakan lanjutan merupakan kewenangan pusat. “Uji kelayakan lingkungan dilakukan dua kali sebulan secara rutin. Acak di pabrik-pabrik besar,” imbuhnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia