Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Dropping Air Tetap Dilanjutkan

BPBD Perpanjang Tanggap Darurat Kekeringan

02 Desember 2019, 16: 13: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

Air

MASIH SULIT AIR: BPBD Nganjuk melakukan dropping air di Desa Ngepung, Lengkong. Debit air hujan yang masih kecil membuat warga belum terbebas dari kekeringan karena sumur-sumur dan sumber air mereka belum terisi secara normal. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Sejumlah daerah di Nganjuk sudah diguyur hujan selama beberapa minggu terakhir. Tetapi, dropping air di sejumlah daerah yang mengalami kekeringan tetap dilanjutkan. Ini setelah Pemkab Nganjuk memperpanjang status tanggap darurat bencana kekeringan hingga akhir Desember.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Hendro Djoko Soedarsono mengatakan, perpanjangan masa tanggap darurat di tujuh desa dilakukan dengan catatan. Yakni, bisa di dasarian pertama Desember ini curah hujan sudah turun rutin. Selanjutnya, sumber mata air di desa sudah kembali normal, pengiriman air akan dihentikan.

Dasar penghentian dropping air, lanjut Hendro, adalah surat atau pernyataan dari masing-masing desa yang terdampak. “Setelah ada surat, nanti pengiriman air bisa dihentikan (sebelum akhir Desember, Red),” ujar Hendro sembari meminta koran ini menanyakan teknisnya ke bidang terkait.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Nganjuk Nugroho menambahkan, ada beberapa mekanisme yang akan dilakukan BPBD sebelum menghentikan pengiriman air. Setelah desa membuat surat pernyataan tentang kondisi kekeringan di wilayahnya, BPBD akan menghentikan dropping untuk sementara.

Seminggu berselang, BPBD akan mengecek kondisi sumur-sumur warga.

“Jika setelah satu minggu airnya nyumber, pengiriman dihentikan secara permanen,” terang Nugroho tentang tahapan penghentian dropping air.

Dikatakan Nugroho, sebelumnya BPBD sudah mengajak perwakilan tujuh desa yang terdampak kekeringan untuk berkoordinasi. Hasilnya, mereka menyebut jika semua desa masih mengalami kesulitan air bersih.

Meski sudah turun hujan, menurut Nugroho intensitasnya masih relatif kecil. Hujan hanya turun dalam waktu singkat dan di tempat tertentu. “Belum merata,” imbuhnya.

Dengan curah hujan yang masih sedikit, debit air sumurnya belum bisa meningkat. Dari sana, diputuskan dropping air tetap dilakukan hingga kondisi sumber air kembali normal.

Seperti diberitakan, tujuh desa terdampak bencana kekeringan adalah Desa Ngepung, Lengkong; sebanyak 857 jiwa. Kemudian, di Desa Gampeng, Ngluyu; mencapai 1.922 jiwa.

Selanjutnya, di Desa Tempuran dan Desa Lengkonglor, Ngluyu; masing-masing sebesar 962 jiwa dan 270 jiwa. Hingga, 890 jiwa warga di Desa Pule, Jatikalen. Ada pula 1.089 jiwa warga Desa Genjeng, Loceret; dan 557 jiwa warga di Desa Oro-Oro Ombo, Ngetos.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia