Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Shalva Tak Ingin Jadi Atlet Lagi

Tuntut Pemulihan Nama Baik

30 November 2019, 16: 03: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

BUKTI: Ayu dan Imam Muklas, kuasa hukum keluarga, menunjukkan hasil tes keperawanan Shalva yang dilakukan di RS Bhayangkara Kediri. Pihak Keluarga ingin nama baik Shalva dipulihkan.

BUKTI: Ayu dan Imam Muklas, kuasa hukum keluarga, menunjukkan hasil tes keperawanan Shalva yang dilakukan di RS Bhayangkara Kediri. Pihak Keluarga ingin nama baik Shalva dipulihkan. (ANWAR BAHAR BASALAMAH - JP RADAR KEDIRI)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Pencoretan atlet senam lantai nasional Shalva Avrila Sania berbuntut panjang. Remaja asal Kota Kediri itu memutuskan berhenti berlatih. Lebih ironis lagi, dia juga tak ingin lagi menjadi atlet.

Menurut Ayu Kurniawati, ibu Shalva, keputusan tragis atlet potensial itu merupakan imbas kasus yang dia alami. Usai pencoretan yang kontroversial itu Shalva mendapat tekanan psikologis yang amat berat. Sebelumnya, pelajar SMAN 1 Kebomas, Kabupaten Gresik itu dicoret dari pelatnas senam lantai SEA Games 2019. Alasan sang pelatih, Shalva dicoret karena sudah tidak perawan.

“Anaknya down. Wis emoh latihan. Setelah lulus sekolah, saya akan bawa pulang ke Kediri,” kata Ayu saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri kemarin.

Ayu sendiri menganggap bahwa alasan pencoretan itu terlalu mengada-ada. Karena itu, kuasa hukum keluarga juga mendesak agar nama baik Shalva dipulihkan.

Ayu menceritakan, pencoretan anaknya dari pelatnas SEA Games 2019 itu terjadi pada 13 November lalu. Saat itu dia menerima telepon dari salah seorang pelatih.

”Saya ditelepon. Katanya Shalva sering pulang malam karena pacaran. Selaput daranya sudah sobek. Kayak orang diperkosa. Saya kaget mendengar kabar itu. Saya langsung berangkat ke Gresik,” kata Ayu saat ditemui di kediamannya, di Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, kemarin.

Selama ini, atlet 17 tahun itu memang mengikuti pelatnas di Gresik. Menurut Ayu, putrinya itu sudah dua bulan ikut latihan untuk persiapan SEA Games di Manila. Setelah mendapat kabar tersebut, dia langsung menjemput Shalva.

Ayu mengaku tidak langsung percaya dengan pernyataan pelatih. Karena itulah, setelah kembali ke Kediri, dia menginterograsi anak sulungnya itu. “Shalva memang mengakui pernah pacaran. Tapi dia tahu batas-batasnya,” ungkap ibu dua anak ini.

Informasi yang menyebutkan Shalva tidak perawan lagi sangat mengganggu pikirannya. Apalagi, selama ini, sang anak belum pernah dites keperawanan. “Belum ada tes, tapi dibilang tidak perawan,” ujarnya.

Untuk membuktikannya, Ayu membawa sang anak ke Surabaya pada 18 November lalu. Tujuannya, untuk tes keperawanan. Sayang, banyak rumah sakit (RS) yang menolak. Karena itulah, sang ibu meminta izin agar tes dilakukan di RS di Kediri. “Saat itu, pelatih mengizinkannya. Bahkan, sebelum itu, Shalva sudah diminta untuk berlatih kembali,” katanya.

Tes keperawanan dilakukan di RS Bhayangkara Kediri pada 20 November lalu. Hasilnya, selaput dara pelajar kelas 12 itu masih utuh. Itu berarti tuduhan pelatih soal keperawanan tidak benar. “Hasilnya saya sampaikan ke pelatih,” ungkap Ayu.

Namun usaha tersebut sia-sia. Pasalnya, menurut Ayu, jajaran pelatih meminta tes keperawanan dilakukan di RS Petrokimia Gresik. “Saya menolak. Kasihan anak saya. Merasakan sakit,” katanya.

Sejak keputusan tersebut, Shalva tidak bergabung lagi di pelatnas. Bahkan, kata Ayu, sang anak memutuskan tidak mau menjadi atlet senam lagi. Shalva berhenti latihan.

Ayu mengaku, sebenarnya pihak keluarga bisa menerima pencoretan Shalva dari skuad SEA Games. Namun embel-embel sang anak tidak perawan lagi membuat keluarga keberatan. “Kami terima Shalva dicoret karena indisipliner. Tapi kenapa ada kata-kata tidak perawan? Padahal kenyataannya tidak benar,” kata perempuan yang membuka usaha pencucian pakaian di rumahnya ini.

Melalui kuasa hukumnya, keluarga menuntut pemulihan nama baik Shalva. Imam Muklas, kuasa hukum keluarga, mengatakan, sudah mengadukan persoalan tersebut ke Presiden Joko Widodo. Selain itu, pihaknya juga menyurati Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Persatuan Senam Indonesia (Persani). “Kami masih upayakan jalur non-ligitasi (di luar pengadilan),” kata Muklas.

Melalui jalur tersebut, pihaknya mendesak Persani untuk melakukan investigasi internal terkait pengelolaan dan pembinaan atlet. Sebab, seharusnya keluarga tidak berhak menerima informasi yang tidak layak. “Tes keperawanan juga tidak menjadi pertimbangan atlet dicoret,” ungkapnya.

Muklas menambahkan, pihaknya menunggu iktikad baik dari Persani. Pasalnya, pernyataan tersebut sangat mengganggu psikologi Shalva. “Nama baiknya harus dipulihkan. Kalau tidak ada iktikad baik, kami bisa tempuh jalur ligitasi,” katanya.

Dikutip dari JawaPos.com, Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Gatot S. Dewa Broto mengaku, baru mendapatkan info terkait berita pemulangan atlet asal Kota Kediri tersebut. “Kami langsung call Bu Ita (Ketua Umum PB Persani Ita Yuliati). Katanya tidak betul bahwa terjadi pemulangan paksa,” tulis siara pers Kemenpora.

“Yang benar kata Pak Indra (Indra Sibarano, Red) pelatihnya di Jawa Timur bahwa atlet tersebut indisipliner dan kurang fokus. Ini berdampak pada prestasinya yang menurun, sehingga diputuskan oleh pelatih tidak disertakan di SEA Games. Dia digantikan atlet lain yang peringkatnya jauh lebih tinggi. Jadi tidak ada hubungannya dengan masalah, mohon maaf, cek keperawanan,” kata Gatot.

Namun jika benar pemulangan atlet itu karena dugaan masalah keperawanan, Kemenpora akan melakukan tindakan tegas. Karena hal ini, selain masalah privasi dan kehormatan seseorang, juga itu tidak ada hubungannya dengan soal prestasi. 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia