Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Events
RT-RT yang Berjaya di Prodamas Award 2019 (3)

Grup Campursarinya Kini Makin Ramai ‘Tanggapan’

30 November 2019, 15: 41: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

SENIMAN: Driharso menerima trofi dari Kajari Martini, Selasa (26/11) serta saat berlatih bersama warga di rumah Tri Prijanto (kaus biru).

SENIMAN: Driharso menerima trofi dari Kajari Martini, Selasa (26/11) serta saat berlatih bersama warga di rumah Tri Prijanto (kaus biru). (Mualifu Rosyidin - JP Radar Kediri)

Share this          

Inovatif, bermanfaat, dan berkelanjutan. Di RT 04/RW 02 Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota, warga memanfaatkan dana prodamas untuk melestarikan kesenian tradisional yang sudah ada cikal bakalnya.

IQBAL SYAHRONI-KOTA, JP Radar Kediri

Bunyi gamelan terdengar dari dalam rumah Tri Prijanto di RT 04 RW 02 Kelurahan Setonopande, Kecamatan/Kota Kediri, kemarin sore (29/11). Selain Tri yang memukul kendang, ada dua lelaki lain yang sedang memainkan alat musik tradisional itu. Mathew, anak Tri, mengetuk saron sedangkan Ari, tetangga, memukul gong. Di sebelah mereka, Driharso, ketua RT, turut bergabung.

Alunan musik tradisional itu menggema dengan merdu. Menandakan bahwa mereka semua sudah cukup terlatih memainkan. “Sudah sekitar lima tahunan ini kami rutin berlatih,” terang Driharso.

Hasrat berkesenian warga RT tersebut memang cukup tinggi. Di sana ada kelompok karawitan. Namanya Guci Mas. Anggotanya warga senior. Peralatan pun sudah ada, tapi terbatas. Hanya saron, slenthem, dan satu gong. Biasanya mereka berlatih di rumah Tri. Driharso menjadi salah satu penggerak kelompok itu. Dia memang seniman. Bisa mendalang. Bisa pula menari.

Itulah yang dilihat Driharso sebagai potensi yang bisa dikembangkan. “Kami coba ajak pemuda untuk bergabung,” katanya. Energi para pemuda yang berlebih harus mendapat penyaluran yang tepat. Agar tidak nggladrah, sia-sia.

Begitu Pemerintah Kota Kediri di bawah kepemimpinan Wali Kota Abdullah Abu Bakar meluncurkan program pemberdayaan masyarakat (prodamas), Driharso segera menyiapkan usulan. “Tahun 2017, kami mengajukan pengadaan peralatan gamelan,” ungkap ketua RT berusia 56 tahun itu.

Gong besar, gong suwukan, kenong, dan kendang melengkapi peralatan gamelan yang sudah ada sebelumnya. Latihan pun semakin intens. Warga juga semakin bersemangat. Para pemuda semakin banyak yang tertarik untuk ikut berlatih. Termasuk Mathew yang baru berusia 14 tahun.

Seiring dengan itu, warga mengusulkan agar kegiatan berkesenian tersebut diperluas. Bukan hanya karawitan, tapi juga campursari. Apalagi, sebagian warga punya peralatan musik pribadi yang bisa dimanfaatkan. Seperti organ, gitar, dan bas.

Pada titik ini, prodamas terbukti semakin memunculkan kreativitas dan inovasi dari warga. Juga membawa manfaat. Driharso dan warganya pun mulai memikirkan tentang sustainibilitas. Keberlanjutan. Jangan hanya berhenti pada latihan dan sebatas menyalurkan hobi. Tapi, kegiatan berkesenian itu juga harus membawa manfaat. Meningkatkan kesejahteraan warganya. Kesenian itu bisa ‘dijual’.

Makanya, selain memperluas jenis kesenian yang dimainkan, peralatan harus terus dilengkapi. Pada prodamas 2018, RT tersebut kembali mengusulkan pengadaan perlengkapan soundsystem. “Agar semakin percaya diri kalau ada yang ngundang,” kata Driharso yang menjadi ketua RT sejak 2015. 

Dipicu dana prodamas, kelompok kesenian itu semakin berkembang. Bukan hanya karawitan dan campursari. Mereka juga bisa menampilkan tarian, ludruk, dan wayang kulit. Undangan tampil semakin banyak. “Biasanya di hajatan warga seperti nikahan atau syukuran,” imbuh Driharso. Juga pada peringatan hari-hari besar keagamaan maupun hari besar nasional.

Semula hanya dari warga sekitar kelurahan. Lalu meluas di kelurahan lain dalam kota. Bahkan hingga luar kota. “Kami pernah dapat tanggapan di Lamongan,” ungkap guru agama Kristen di SDN Jagalan ini.

Itu artinya, kegiatan berkesenian tersebut mulai menghasilkan. “Sementara sekadar cukup untuk honor pemain dan kas kelompok,” imbuh Tri Prihanto. Jika ada kegiatan yang membutuhkan biaya, mereka mulai bisa membiayainya sendiri.

Ke depan, Driharso dan warganya bertekad untuk terus mengembangkannya. “Kami ingin warga yang terlibat dan merasakan manfaatnya terus bertambah,” harap Driharso.

Di sini, sebagaimana dikehendaki oleh prodamas, kemandirian warga mulai terwujud. Lewat program tersebut, warga RT ini bukan hanya semakin guyub dan rukun. Akan tetapi, juga bisa merancang masa depan lingkungannya sendiri.

Sayup-sayup, suara gamelan kembali terdengar. Meningkahi suara gerimis yang mulai membasahi bumi Kota Kediri.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia