Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Gema Bayu Smata, Wadah Siswa Pecinta Karawitan di SMAN 3 Nganjuk

Berniat Lestarikan Budaya

30 November 2019, 12: 38: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

Boks

CINTA BUDAYA: Anggota Gema Bayu Smata berfoto di depan air terjun Sedudo usai menjadi pengrawit acara Siraman. (Gema Bayu Smata for radarkediri.id)

Share this          

Melawan arus. Tekad itu tersemat di benak anggota Gema Bayu Smata, grup karawitan SMAN 3 Nganjuk. Di tengah serbuan lagu-lagu barat dan K-pop, mereka meneguhkan diri untuk mencintai budaya Indonesia. Totalitas pun sering berbuah juara dalam lomba.

SRI UTAMI. NGANJUK, JP Radar Nganjuk

“Hari ini (kemarin, Red) sedang tidak ada latihan. Kami latihan setiap hari Senin sampai Kamis,” ujar Charis Putra Atmajaya membuka perbincangan di sanggar Gema Bayu Smata. Ruangan berisi sejumlah peralatan karawitan itu tengah sepi. Hanya ada beberapa siswa yang berada di sana.

Mereka asyik berbincang seputar tembang karawitan yang sedang jadi bahan latihan. Sesekali, Charis, demikian Charis Putra Atmajaya akrab disapa, ikut nimbrung. 

Tak hanya berbincang, Charis dan teman-temannya juga merapikan peralatan gamelan yang berada di tempat tak semestinya. “Kalau istirahat memang ada yang memilih ke sanggar walaupun tidak ada latihan,” tuturnya.

Selain hari Jumat dan Sabtu, sanggar karawitan itu hampir dipastikan akan riuh rendah. Puluhan anggotanya rutin berkumpul di sana untuk latihan. Mulai sinden hingga para pengrawit harus mematuhi jadwal yang ditetapkan. Yakni, latihan mulai hari Senin hingga Kamis.

Jadwal latihan bisa ditambah menjelang lomba. Seperti saat Gema Bayu Smata hendak mengikuti lomba di Universitas Gajah Mada pada tanggal 10 Oktober lalu. Saat itu, selama 10 hari berturut-turut mereka latihan secara khusus.

Tugas anak didik Antok Joko Wiranto ini memang tidak mudah. Mereka harus bisa mementaskan tembang Jaran Teji dalam dua versi. Yaitu, versi asli dan versi gubahan. “Sebenarnya waktu selama 10 hari itu masih kurang. Terlalu mepet,” kenang pemuda kelas XI IPA itu.

Beruntung, mereka sudah terbiasa latihan secara rutin. Sehingga, kemampuan para pengrawit dan sinden tinggal menyesuaikan improvisasi yang dibuat. Yakni mengubah tembang Jaran Teji dengan sentuhan khas Bali, Jawa Tengah, dan Jawa Timuran. Selebihnya, mereka bisa cepat melakukan penyesuaian. 

Di ajang Olimpiade Pariwisata yang digelar Fakultas Pariwisata Universitas Gajah Mada itu Gema Bayu Smata mampu tampil cemerlang. Mereka dinobatkan sebagai juara I di ajang tingkat nasional tersebut. “Rasanya campur aduk. Senang tapi juga ndredek,” tutur pemuda berusia 16 tahun itu.

Meski sudah langganan pentas di berbagai event, lomba yang diikuti oleh SMA dan SMK dari beberapa provinsi itu memang tidak bisa dianggap enteng. Apalagi, Jawa Tengah merupakan pusat berkembangnya budaya. Karenanya, di awal mereka sempat grogi.

Tetapi, setelah melihat penampilan peserta lain, semangat langsung muncul di benak anggota Gema Bayu Smata. “Kami berusaha tampil lepas. Membawakan gending asli dan yang diimprovisasi. Alhamdulillah bisa jadi juara,” urai Charis sambil tersenyum.

Prestasi yang diraih pada Oktober lalu itu bukanlah yang pertama. Sebelumnya, pada 2015 dan 2017 lalu Gema Bayu Smata juga menjuarai lomba karawitan bertajuk Aksara yang digelar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Selebihnya, mereka juga kerap menjuarai ajang serupa di berbagai tingkatan.

Raihan prestasi para senior itu pula yang memacu semangat anggota Gema Bayu Smata untuk terus berlatih. “Niat kami sebenarnya memang senang dengan karawitan dan bertekad untuk melestarikan budaya. Kalau menjadi juara dalam lomba itu berarti bonus kerja keras dalam berlatih,” beber pemuda asal Desa Selorejo, Bagor itu.

Tak hanya belajar karawitan, para anggota Gema Bayu Smata juga memiliki misi khusus dalam pelestarian budaya. Yaitu, menyebar virus menyukai karawitan di lingkungan teman-temannya. Hal itu, sekaligus untuk melawan gempuran lagu-lagu barat dan budaya K-pop di kalangan pelajar SMA.

Antok Joko Wiranto, pembina Gema Bayu Smata menambahkan, anak-anak yang tergabung dalam Gema Bayu Smata memang merupakan para pecinta seni karawitan. Mereka bergabung dengan grup karawitan sejak kelas X.

Selama setahun, anak-anak akan mendapat pelatihan tentang cara memainkan gamelan. “Di awal biasanya ada 70 anak yang masuk Gema Bayu Smata,” ungkap pria yang akrab disapa Antok itu.

Setelah berlatih selama setahun, anak-anak akan dipilih untuk bergabung menjadi tim inti. Jumlahnya sekitar 20 anak termasuk pesindennya. Mereka inilah yang sering mengikuti berbagai ajang lomba.

Termasuk saat anak-anak diundang untuk mengisi event di Pemkab Nganjuk. “Setiap tahun anak-anak rutin jadi penabuh acara Siraman di Sedudo,” terang Antok.

Dia bersyukur, anak didiknya selalu bersemangat dalam berlatih. Apalagi, selama ini Antok memiliki trik khusus mengatasi kebosanan yang sering melanda anggota Gema Bayu Smata.

Di antaranya, dengan menggelar latihan gabungan di luar sekolah. Jika biasanya anak-anak hanya berlatih di dalam sanggar, tiap tiga bulan sekali mereka akan berlatih bersama anggota grup karawitan dari tiga sekolah lainnya. Yaitu, dari SMAN 1 Tanjunganom, SMKN 1 Nganjuk, dan SMAN 1 Nganjuk.

Latihan grup gabungan yang bernama Jayastamba itu biasanya menghadirkan narasumber dari luar. “Biar anak-anak refresh. Mereka bisa belajar dari banyak guru,” tandas pria asal Dusun Pacarpelem, Desa Sonopatik, Berbek ini.

Dengan berbagai cara latihan itu, guru pengajar seni dan budaya ini berharap anak-anak bisa semakin semangat dalam belajar karawitan. Dampaknya, budaya asli Jawa ini akan semakin dicintai oleh generasi milenial. “Kalau bukan kita yang melestarikan budaya sendiri, lalu siapa lagi?” pungkasnya dengan nada tanya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia