Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Puluhan Desa Belum Berstatus ODF

Dinkes Targetkan Rampung Tahun Depan

29 November 2019, 13: 26: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

ODF

BELUM ODF: Sungai Kuncir, Ngetos sering jadi tempat buang air besar warga. Karena perilaku ini, Kecamatan Ngetos belum menyandang status open defecation free hingga tahun ini. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Puluhan desa di Kabupaten Nganjuk belum sepenuhnya terbebas dari perilaku buang air besar (BAB) sembarangan. Berdasar data Dinkes Nganjuk, tercatat masih ada 53 desa yang BAB tidak di jamban.

Kasi Kesehatan Lingkungan (Kesling) Dinkes Nganjuk I Ketut Wijayadi mengamini kondisi tersebut. Ia mengakui masih ada masyarakat yang suka BAB sembarangan. Sehingga daerahnya otomatis belum bisa masuk kategori open defecation free (ODF). “53 desa tersebut tersebar di tujuh kecamatan yang ada di Kabupaten Nganjuk,” ujar pria yang akrab di sapa Ikrom itu.

Yaitu, Kecamatan Rejoso, Lengkong, Jatikalen, Prambon, Ngronggot, Ngetos, dan Berbek. Tujuh kecamatan itu dinilai Ikrom memiliki karakter masing-masing.

Hal tersebut otomatis berpengaruh kepada masyarakat yang tinggal di sana. Seperti halnya masyarakat di wilayah Rejoso yang masih belum bebas dari BAB sembarangan. “Di sana kebetulan wilayahnya luas. Banyak pula aliran sungai yang melewati daerah tersebut,” tuturnya.

Dengan wilayah luas membuat pengawasan relatif susah. Terlebih dengan banyaknya sungai yang digunakan masyarakat untuk BAB sembarangan. Kondisi tersebut sama seperti tantangan di Kecamatan Ngetos. Di sana, sungai Kuncir menjadi salah satu titik yang sering dimanfaatkan warga untuk buang hajat.

“Malah Kecamatan Sawahan dan Ngluyu yang notabene berada di pinggiran justru telah deklarasi sebagai daerah ODF. Saya sendiri juga terkejut,” imbuhnya.

Perilaku negatif tersebut diakui Ikrom memang telah turun-temurun dilakukan selama puluhan tahun. Yakni sejak zaman kakek-neneknya. Alhasil, untuk mengubah kebiasaan mereka tak semudah membalikkan telapak tangan. “Kalau tidak ada keinginan berubah dari diri sendiri memang akan sulit,” tuturnya.

Oleh karena itu, melalui kader ODF dinkes gencar melakukan sosialisasi, diskusi, hingga pemicuan. Itu dilakukan untuk membuka pandangan masyarakat agar menyadari kebiasaan tersebut buruk bagi kesehatan. Baik itu diri sendiri maupun orang lain.

Bahkan, pendekatan yang dilakukan kader ODF tidak hanya secara formal saja. Mereka juga menyampaikan hal tersebut saat pengajian, perkumpulan warga, dan kegiatan warga yang lainnya.

Dinkes Nganjuk menargetkan pada Oktober tahun depan seluruh daerah di Kabupaten Nganjuk terbebas dari kebiasaan BAB sembarangan. Meski yakin bisa tercapai, Ikrom menyadari tantangan yang akan dihadapi tidak akan mudah.

“Terutama dari faktor sumber daya manusia dan kesadarannya. Tapi kami yakin dapat mencapai target itu,” tandasnya.

Salah satu hal yang membuatnya yakin adalah desa yang telah deklarasi jumlahnya lebih banyak. Berdasarkan data dari Dinkes Nganjuk, sebanyak 231 desa di 13 kecamatan tercatat telah terbebas dari BAB sembarangan hingga November ini.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia