Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Jalankan Prostitusi Online, Pemuda Asal Pagu Dibekuk

Berkilah karena Faktor Ekonomi

28 November 2019, 19: 04: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

prostitusi online

TERBONGKAR: Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal (kiri) menunjukkan barang bukti dan tersangka Diko, kemarin (27/11). (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri -Polres Kediri kembali membongkar jaringan prostitusi online. Seorang pemuda bernama Asyddiki, 20, berhasil dibekuk. Pria asal Desa Tenggerkidul, Kecamatan Pagu itu menjadi penyedia jasa prostitusi alias muncikari.

          Praktik prostitusi online yang dijalankan Muhammad Asyddiki sebagai mucikari tergolong rapi. Pria yang akrab dipanggiln Diko ini tak sembarangan memberikan pelayanan untuk lelaki hidung belang yang dijalankan oleh anak buahnya.

Ia hanya melayani klien yang sudah dia kenal dan tergabung dalam group whatsapp (WA). “Penggerebekan ini dilakukan berdasarkan aduan masyarakat terkait merebaknya prostitusi online di kampung Inggris,” ungkap Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal Saiful Faton.

Menurutnya, Diko sudah satu tahun berkecimpung dalam bisnis esek-esek ini. Selama itu, Diko mengaku telah memiliki lima orang anak buah. Salah satu anak buahnya yang terciduk saat operasi yang digelar Polres Kediri yaitu Nadia,23, perempuan yang beralamat di Desa Katerungan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo.

Diadiamankan petugas di salah satu hotel di Kabupaten Kediri ketika sedang melayani pelanggannya. “Kami sudah lama lakukan pengintaian terhadap aktivitas tersangka. Setelah kami ikuti ternyata mereka melakukan bisnis tersebut di salah satu hotel di Katang,” tegasnya.

Untuk melayani lelaki hidung belang, masih kata Roni, rata-rata pelacur online yang disediakannya berumur 22 hingga 25 tahun. Semuanya berdomisili luar kabupaten Kediri. Menurut keterangan polisi, Diko mematok tarif lumayan. Untuk sekali kencan, lelaki hidung belang harus menyediakan uang antara Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. “Besaran tarif itu belum termasuk biaya hotel,” imbuhnya.

Ketika dikonfirmasi koran ini, Diko mengaku terlibat bisnis haram ini karena motif ekonomi. Dia tergiur dengan pendapatan yang bisa diperoleh dengan cara menjual wanita. Sebagai mucikari, Diko mendapatkan imbalan sekitar 20 persen dari tarif kencan. “Jadi komisinya sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu,” terangnya

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Kediri AKP Gilang Akbar mengungkapkan, penggerebekan tersebut bukan kebetulan saja. Mereka terlebih dahulu mendapatkan informasi tentang praktik prostitusi online ini di kawasan Kampung Inggris, Kecamatan Pare.

Setelah dilakukan penyelidikan, kemudian mengarahkan pada aktivitas di salah satu hotel di Jalan Erlangga, Katang. “Petugas pun lantas menggerebek pasangan mesum ini di kamar 918,” ungkapnya kepada koran ini.

Hingga saat ini, Reskrim Polres Kediri terus melakukan pengembangan atas kasus prostitusi online ini. Dari hasil penangkapan tersebut, petugas berhasil mengamankan beberapa barang bukti. Yaitu uang tunai Rp 500 ribu dan handphone merek Vivo type Y12, dan Smartfren Andromax. Serta pakaian yang dikenakan pelaku seperti celana dalam, bra korban pun turut disita oleh polisi. “Nadia hanya dijadikan saksi. Kami masih lakukan asesmen lebih lanjut,” terangnya. Akibatnya, Diko terancam pasal 296 KUHP jo 506 KUHP tentang Perzinaan dengan hukuman paling lama tiga bulan kurungan penjara.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia