Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

8 Bulan akibat Esek-Esek, Liyan 2 Kali Terjerat Bisnis Prostitusi

28 November 2019, 18: 25: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

panti pijat

SIMAK: Liyan Permata Putra mendengarkan putusan yang dibacakan oleh majelis hakim dalam sidang kemarin (26/11). (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Liyan Permata Putra, 32, hanya bisa pasrah. Lelaki itu terdiam saat hakim membacakan vonis untuk dirinya. Dan, lelaki asal Kelurahan Mojoroto, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini tak menolak saat hakim mengetuk vonis untuknya selama 8 bulan penjara. Plus denda Rp 5 juta yang harus dia bayar.

“Apabila tidak bisa membayar maka akan diganti dengan hukuman satu bulan penjara,” kata Guntur Pambudi Wijaya, ketua majelis hakim saat sidang yang berlangsung  Selasa (26/11) itu.

Menurut majelis hakim,  Liyan secara sah terbukti telah mempekerjakan anak di bawah umur. Ironisnya anak di bawah umur itu dijadikan terapis pada bisnis panti pijat esek-esek yang dikelolanya, D’glamour Cafe and Massage.

Vonis majelis hakim itu lebih ringan dua bulan bila dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Moch. Iskandar. Sebelumnya, laki-laki kalahiran 1987 dituntut selama sepuluh bulan penjara. Sedangkan denda yang dituntutkan JPU sama dengan vonis hakim.

“Terdakwa memiliki hak untuk berdiskusi dengan penasihat hukum, apakah  mengajukan banding, terima putusan, atau pikir-pikir,” ujar Guntur setelah membacakan putusan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Liyan hanya bisa pasrah. Dia mengatakan menerima hukuman yang diberikan. Begitupula dengan jaksa, juga menerima putusan yang diberikan hakim. Setelah mendengar hal tersebut, Guntur langsung mengakhiri sidang yang berlangsung di ruang Kartika Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri.

Liyan sendiri bukan kali ini mendapat hukuman pengadilan. Sebelumnya dia juga pernah menjalani hidup di lembaga pemasyarakatan (LP). Ironisnya, sebelumnya dia dihukum empat bulan dalam kasus yang sama. Kasus bisnis prostitusi yang dikamuflase sebagai panti pijat. Fakta ini juga menjadi faktor pemberat bagi hakim. Sedangkan, sikapnya selama persidangan yang sopan dianggap menjadi faktor peringan.

Liyan kembali diseret ke meja hijau karena telah mempekerjakan dua orang terapis yang masih di bawah umur. Dua terapis itu berinisial SB, 17, dan  RF, 16. Fakta itu terungkap saat tim Polres Kediri melakukan razia panti pijat pada 30 Juli lalu. Selain dua terapis remaja itu, Liyan juga mempekerjakan Intan dan Hani. Hanya dua orang itu sudah berusia 18 tahun lebih. Atas perbuatannya itu Liyan dijerat dengan Pasal 88 jo pasal 761 UU nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak.

Berdasarkan keterangan yang didapatkan, praktik prostitusinya di panti pijat D’glamour Cafe and Massage sudah berlangsung lama. Panti pijatnya itu berada di Desa/Kecamatan Gampengrejo. Penggerebekan pada panti pijat tersebut, bukan pertama kalinya. Pada 18 Januari 2019, tempat tersebut pernah digrebek oleh Polda Jatim.

Pekerja di panti tersebut menerima layanan plus-plus. Pelayanan tersebut dipatok dengan harga Rp 500 ribu  per satu orang terapis. Mereka juga melayani hand job (HJ) dengan tarif Rp 200 ribu,  blow job (BJ) dengan tarif Rp 300 ribu, dan full job dengan tarif Rp 500 ribu di luar paket kamar.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia