Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Warga Protes Limbah Aluminium

Dinas LH Akan Koordinasikan dengan Pemprov

28 November 2019, 14: 26: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

Limbah

SUMBER BAU: Warga menunjukkan peternakan lele di Desa Babadan, Patianrowo. Timbunan kolam di sana diduga menggunakan limbah aluminium. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

PATIANROWO, JP Radar Nganjuk-Peternakan lele di Dusun Sugihwaras, Desa Babadan, Patianrowo, menuai protes. Pasalnya, peternakan milik Sutikno itu diduga menggunakan timbunan limbah abu slag aluminium (asalum) yang berbahaya. Senin (25/11) lalu, salah satu warga yang sesak napas setelah mencium bau limbah itu sempat dilarikan ke puskesmas.

Agus Susanto, 33, warga setempat mengungkapkan, peternakan lele milik Sutikno beroperasi selama dua bulan. Sejak saat itu, warga kerap mencium aroma tak sedap dari sana.

Bau busuk itu terasa semakin menyengat usai turun hujan. Uap berwarna keputihan seperti asap keluar dari tumpukan yang diduga asalum di dekat kolam.

Puncaknya terjadi pada Senin (25/11) lalu. Belasan warga terpaksa mengungsi setelah menghirup bau busuk dari tanggul kolam Sutikno. “Yang menghirup bau itu mengeluh sakit kepala, mual, sesak napas, dan pusing,” ujar Agus.

Puji Astuti, istri Agus, bahkan sempat dilarikan ke puskesmas karena mengalami sesak napas dan pusing-pusing setelah menghirup bau limbah. “Bau limbah masuk ke dalam rumah,” lanjut Agus.

Satu jam menjalani perawatan di puskesmas, Puji yang kondisinya membaik diperbolehkan pulang. Setelah kejadian itu, Agus mengungsikan istrinya ke rumah kerabat yang jauh dari lokasi kolam.

Tak hanya Puji, Agus juga mengajak anak dan tetangganya untuk mengungsi Senin lalu. “Di sekitar rumah saya ini sedikitnya ada enam balita. Kalau orang dewasa saja matanya perih dan sesak napas, bagaimana dengan anak-anak?” urainya dengan nada tanya sembari menunjukkan rekaman munculnya uap keputihan dari arah kolam setelah terkena air hujan Senin lalu.

Tak hanya Agus, Murniati, 57, warga yang tinggal di dekat peternakan juga sempat mengungsi. “Baunya sangat menyengat kalau baru kena air,” keluh perempuan yang tinggal hanya berjarak sekitar 10 meter dari kolam itu.

Dia pun meminta aktivitas kolam lele dihentikan. Sehingga, tidak mengganggu lingkungan sekitar. Dia khawatir limbah itu bisa mencemari air sumur.

Sayang, Sutikno belum bisa dikonfirmasi koran ini. Saat Jawa Pos Radar Nganjuk mendatangi rumahnya kemarin siang, salah seorang pekerja mengatakan Sutikno sedang tidur. “Nanti saja agak sore kalau mau ketemu,” kata pria berotot itu sembari menyebut dirinya hanya seorang pekerja.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Nganjuk Tri Wahju Kuntjoro mengatakan, dinas LH sudah turun ke lokasi menindaklanjuti keluhan warga. Menurut Tri, aroma tak sedap berasal dari limbah di kolam. “Sumber bau dari tanggul kolam yang ditimbun menggunakan limbah dari kegiatan di luar daerah,” terangnya.

Pemilik peternakan, jelas Tri, tidak mengetahui jika timbuhan limbah yang digunakan bisa mengeluarkan bau tak sedap. Limbah yang diduga abu slag alumunium itu, menurut Tri dibeli Sutikno dari temannya di Jombang. “Dia tidak mengetahui kalau itu limbah,” lanjutnya.

Menindaklanjuti masuknya limbah dari luar daerah ke Nganjuk, Tri berujar pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Pemprov Jatim. Dinas LH juga akan melakukan uji laboratorium untuk mengetahui kemungkinan adanya pencemaran air dan tanah. “Ini soal pengawasan (limbah dari luar daerah, Red),” tegasnya.

Agar bau menyengat tidak keluar lagi saat musim hujan, Tri meminta agar pemilik memasang terpal di lokasi sumber bau. Tetapi, hingga kemarin belum ada terpal yang terpasang di tanggul kolam.

Pantauan koran ini, puluhan karung berisi serbuk mirip pasir berwarna keabu-abuan masih terlihat terbuka. Di bagian atas, ada beberapa karung yang dalam kondisi terbuka. Karenanya, warga khawatir bau tak sedap muncul lagi saat turun hujan.

Timbunan Limbah di Babadan:

-Warga mengeluhkan bau tak sedap dari peternakan lele milik Sutikno di Desa Babadan, Patianrowo

-Bau menyengat muncul setelah timbunan yang diduga limbah aluminium terkena air

-Dinas LH akan berkoordinasi dengan Pemprov Jatim terkait pengawasan limbah

-Dinas LH juga akan melakukan uji laboratorium untuk mengetahui potensi pencemaran

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia