Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Area TPS Berubah jadi Pasar Dadakan

28 November 2019, 13: 02: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

Lapak

CARI UNTUNG: Belasan lapak penjual minuman berjajar di TPS Desa Ngadiboyo, Rejoso, kemarin (26/11) siang. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Sementara itu, Pemilihan kepala desa (pilkades) serentak tahap III yang berlangsung kemarin tidak hanya menjadi pesta demokrasi bagi warga setempat. Para pedagang keliling yang berjajar di area tempat pemungutan suara (TPS) ikut “pesta” setelah omzet mereka naik berlipat.

Terik matahari yang menyengat kemarin siang, tak menyurutkan niat warga Desa Ngadiboyo, Rejoso untuk mendatangi TPS. Sejak pukul 07.30, mereka rela antre hingga berjam-jam untuk bisa memilih kandidat calon kepala desa (cakades) yang disukai.

Kerumunan massa ini tak disia-siakan oleh para pedagang keliling. Mereka membuka lapak dadakan di pinggir lapangan. Menjajakan berbagai jenis minuman dan makanan ringan yang hampir sama, pemilik lapak tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut “berpesta”. “Saya sudah berjualan keliling sejak 2009,” ujar Samsu, salah satu pedagang.

Pria berusia 38 tahun itu mengaku selalu berjualan di TPS. Baik untuk pemilihan kepala desa, pemilihan kepala daerah, hingga pemilu. Berdasar pengalaman sebelumnya, dagangannya selalu laris manis diborong pembeli. “Kalau coblosan begini, orang yang datang disangoni. Mereka banyak uang,” lanjut pria asal Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk itu.

Jika biasanya dia hanya meraih omzet ratusan ribu, saat berjualan di ajang pilkades, Samsu bisa mengumpulkan uang hingga jutaan rupiah. Maklum, minuman dingin dibanderol jauh lebih mahal dari harga biasanya.

Aneka minuman jus saset yang biasanya hanya dijual Rp 3 ribu per bungkus, bisa laku Rp 5 ribu per bungkus. “Laris kalau seperti ini,” akunya sambil tersenyum senang.

Keuntungan yang didapatkannya sebanding dengan usaha yang dilakukan untuk bisa berjualan di sana. Dia lantas mengisahkan upayanya agar bisa ikut “berpesta” bersama warga Desa Ngadiboyo.

Sebelum berjualan, rupanya dia harus mendaftar kepada panitia sejak tiga hari sebelumnya. Jika tidak, dipastikan dia tidak bisa berjualan di sana karena tempat yang disediakan terbatas.

Setelah mendapat izin, bapak dua anak ini bisa langsung mendirikan tenda. Sehari sebelum berjualan, Samsu mulai menata tempat dan memasukkan barang-barangnya.

Malam hari sebelum pencoblosan, dia tidak bisa lagi leluasa keluar-masuk desa. Warga memasang palang pembatas masuk ke desa. Karenanya setelah semua dagangan terangkut, dia memilih menginap di tenda. “Kalau keluar masuk saat malam hari ribet, harus lapor ke warga desa karena malam sebelum nyoblos dianggap rawan,” akunya.

Bahkan, dia sempat diinterogasi karena harus mengambil barang yang tertinggal di rumahnya. “Untung ada Linmas yang saat itu mengenali saya. Jadi bisa aman masuk ke lokasi penjualan dekat dengan TPS,” kenangnya.

Suasana yang tegang jelang coblosan itu bukan kali pertama dirasakannya. Karenanya, dia mengaku sudah terbiasa. “Tidak apa-apa. Kalau tidak begitu, dagangan saya tidak laris,” bebernya terbahak.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia