Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Siswa SMK YP 17 saat Puting Beliung Menerjang Sekolahnya

Terjebak di Kelas karena Tak Bisa Dibuka

27 November 2019, 17: 38: 57 WIB | editor : Adi Nugroho

bencana smp yp 17

DI ANTARA PUING: Siswa SMK YP 17 Sedang melintasi sisa plafon yang berjatuhan akibat puting beliung yang terjadi Senin (25/11). (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Awalnya, tak ada yang menyangka hujan di siang hari itu berujung pada bencana. Merembet menjadi puting beliung yang memorak-porandakan sebagian wilayah Kecamatan Pare.   

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Kemarin pagi, sekitar pukul 07.00 WIB, suasana belajar-mengajar di SMK YP 17 berjalan seperti biasa. Siswa-siswa tetap masuk. Mengikuti pelajaran seperti biasa.

bencana alam

RUSAK: Bangunan di SMP YP 17 Pare. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Tapi ada yang berbeda. Mulai kemarin pagi siswa jurusan akuntansi tak bisa belajar di kelas mereka. Harus mengungsi ke kelas  teori teknik sepeda motor. Penyebabnya, ruang kelas mereka belum bisa digunakan. Karena masih rusak setelah diterjang angin puting beliung dua hari lalu.

Sejak kejadian Senin (25/11) itu, hingga kini kondisi kelas masih porak-poranda. Bangku-bangku berserakan. Langit-langit yang terjatuh serpihannya berserakan di lantai. Beberapa genting pun terlepas karena tertiup angin.

Tidak hanya merusakkan bangunan, sebatang pohon sawo juga tumbang. Pohon itu sebelumnya tumbuh tidak jauh dari gedung kelas itu. Patahan batang pohon tersebut  menimpa beberapa kendaraan yang sedang diparkir di sekitarnya. Beruntungnya, tak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Hanya kerugian material.

“Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB,” terang Revika Putri Ferbriana, 17, seorang siswa.

Siang itu, seperti biasa sekitar pukul 12.00 WIB, tanda jam pelajaran usai berbunyi. Setelah bel berdering, siswa beranjak meninggalkan kelas. Namun tidak dengan Revika. Gadis kelas XII Akutansi itu memilih tinggal di dalam kelas. Bersama dengan beberapa temannya, Nike Puja, Niki Amelia, Nungki Rahmawati, Rina Yulianti, dan Risa Dwi. “Saat itu kami sedang melakukan kerja kelompok, mengerjakan tugas makalah PKWU,” terangnya.

Sekitar pukul 13.00 WIB, keenamnya mulai melakukan kerja kelompok. Setengah jam berselang hujan mulai mengguyur. Semula dengan curah yang biasa. Namun ketika jarum jam menunjukan pukul 14.00 WIB, suara angin mulai terdengar. Kencangnya embusan angin itu tersebut membuat jendela yang berada di kelas terutup sendiri.

“Semula kami mengerjakan di bangku (bagian) tengah. Namun karena bocor membuat kami pindah ke sisi lain,” kenang Revika.

Tidak lama kemudian, dua murid dari kelas XII AKA 4 mendatangi kelas Revika. Mereka adalah Risna Ayu dan Risa Mariska. Begitu masuk kedalam kelas, keduanya mengatakan genting yang berada di ruang kelasnya berjatuhan. Karena kondisi angin semakin kencang, kedelapan siswa tersebut hendak meninggalkan kelas. Namun, upaya itu tak mudah. Mereka sempat beberapa saat terjebak dan tak bisa membuka pintu. “Mungkin karena dorongan angin kencang dari  luar membuat pintu sulit dibuka,” ceritanya.

Delapan orang itu berusaha mendobrak secara bersama-sama. Upaya itu akhirnya berhasil. “Saat kami berhasil keluar kami memanggil pak tukang yang berada di bawah,” imbuhnya.

Pada saat itu, Revika dan kawan-kawan diminta untuk kembali ke ruang kelas. Sempat masuk ke dalam kelas mereka kemudian nekat keluar kelas dan turun ke lantai bawah. Namun, ketika hendak turun mereka sempat terhalang scaffolding yang diletakkan anak tangga. Meski sempat terhalang, mereka berhasil turun.

Berselang lima menit setelah turun, mereka mendengar suara runtuh dari lantai atas. Dari luar bangunan, ia juga dapat melihat beberapa genting sudah tidak berada di tempatnya lagi.

Ketika kejadian tersebut Kepala SMK YP 17 Purwadi Setyo Atmodjotengah rapat di ruangan kelas. Tepat di bawah kelas teori kelas akutansi. “Saat itu angin kencang sekali. Bahkan airnya sampai masuk ke dalam ruangan,” terangnya.

Tidak lama kemudian, ketika rapat sedang berlangsung terdengar suara pohon tumbang. Semula mereka hanya mengira hanya pohon tumbang saja. Namun ketika keluar ruangan mereka mengetahui bahwa bangunan kelas juga mengalami kerusakan.

“Ada atap ruang kelas yang bocor, akibat terhantam genting yang berterbangan,” ujar Purwadi.

Dalam insiden tersebut, Purwadi mengatakan selain kerusakan bangunan. Namun juga kerusakan pada LCD dan layar proyektor yang terpasang di empat kelas tersebut.

Sementara itu, Pemerintah Kecamatan Pare langsung bereaksi terkait bencana yang melanda dua desa itu. “Kami sudah instruksikan pemerintah desa (pemdes) untuk mendata dan langsung melakukan perbaikan rumah yang terdampak,” terang Camat Pare Anik Wuryani.

Menurutnya, kompensasi tersebut selain dalam wujud renovasi rumah, pemerintah kecamatan juga menginstruksikan kepada pemdes membagikan paket sembako terhadap warga yang terdampak bencana. “Total ada 7 KK (kepala keluarga, Red) di Desa Darungan dan 6 KK di Desa Pelem,” ujarnya kepada koran ini.

Anik menegaskan, bantuan kompensasi renovasi rumah tersebut diambil dari pos kebencanaan yang ada di masing-masing desa. “Kita lakukan skala prioritas terlebih dahulu. Untuk anggaran kami belum bisa memastikan. Yang jelas anggaran tersebut diambil dari pos kebencanaan desa masing-masing,” tandasnya.

Dia juba berharap setiap pemdes memiliki tim siaga bencana dan sarana dan prasarana yang memadai. Tujuannya agar bisa melakukan tindakan preventif.

Hujan disertai angin terjadi Senin (25/11) siang. Menimpa Desa Pelem dan Desa Darungan. Menurut Kades Pelem Ali Sukron, pihaknya saat ini sedang melakukan pendataan ulang terhadap rumah warga yang terdampak. “Kami sudah berkoordinasi dengan tim BPBD dan PLN untuk melakukan normalisasi aliran listrik warga yang sempat terputus,” terangnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia