Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal
Angin Kencang Terjang Pare

Enam Rumah Rusak, Atap SMK YP 17 Jebol

26 November 2019, 08: 26: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

MENGANGA: Kondisi langit-langit di salah satu ruang kelas milik SMK YP 17 Pare yang menjadi korban angin ribu.

MENGANGA: Kondisi langit-langit di salah satu ruang kelas milik SMK YP 17 Pare yang menjadi korban angin ribu. (DOK. SMK YP 17 PARE FOR JP RADAR KEDIRI)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri– Hujan deras disertai angin kencang terjadi di wilayah Pare, Senin sore (25/11). Menyebabkan puluhan pohon tumbang dan beberapa rumah warga rusak parah. Untungnya, belum ada laporan adanya korban jiwa dalam bencana ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, hujan disertai angin itu terjadi di dua lokasi. Yaitu di Desa Pelem dan Desa Darungan. Beberapa warga terpaksa mengungsi karena rumahnya tak bisa dihuni.

“Kejadian ini terjadi sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu, hujan memang deras dan disertai angin kencang,” ungkap Kepala Desa Pelem Ali Sukron.

MERANA: Imam Muksin berjalan di antara reruntuhan tembok dan genting rumahnya, pasca-angin kencang menerjang desanya kemarin.

MERANA: Imam Muksin berjalan di antara reruntuhan tembok dan genting rumahnya, pasca-angin kencang menerjang desanya kemarin. (DWIYAN SETYA NUGRAHA - JP RADAR KEDIRI)

Kerusakan terbanyak terjadi di Desa Pelem ini. Enam rumah menderita kerusakan. Satu di antaranya rusak berat. Terutama di bagian atap.

Kerusakan itu terjadi di Dusun Pelem dan Dusun Ngeblak. Rumah yang rusak parah itu milik Imam Muksin, warga Dusun Ngeblak. “Kerugian di taksir sekitar Rp 100 juta,” paparnya.

Anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri Agus Kriswahyudi yang berada di lokasi menjelaskan, bencana angin ribut tak hanya menerjang rumah. Puluhan pohon bertumbangan di Desa Pelem dan Darungan. Tadi malam BPBD langsung berkoordinasi dengan PLN. Sebagian aliran listrik diputus untuk sementara waktu.

“Beberapa warga juga masih banyak yang melakukan evakuasi pasca-hujan angin tersebut,” tegasnya.

Imam Muksin,42, yang rumahnya rusak parah, terpaksa mengungsi ke rumah saudaranya. Sebab, rumahnya belum bisa ditempati. Atap rumahnya ambrol akibat diterjang angin tersebut. Padahal, rumah tersebut baru saja selesai perbaikan. “Terpaksa kami harus mengungsi, kami trauma dengan kejadian ini,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan, Sumiyati,55, warga Dusun Pelem merasakan trauma. Pasalnya, genting rumah yang ia tempati terkena kanopi yang jatuh dari lantai dua. Akibatnya, genteng rumahnya ambrol seketika. “Saya masih takut untuk menempatinya,” ujarnya.

Sementara itu, hujan deras disertai angin juga membuat langit-langit di empat kelas SMK YP 17 Pare ambruk. Beruntung tak ada korban dalam insiden itu. Namun, empat kelas itu tak bisa difungsikan untuk aktivitas belajar-mengajar.

Menurut Kepala SMK YP 17 Pare Purwadi Atmojo, ambruknya plafon itu terjadi sangat cepat. “Kami (para guru) sedang rapat di (lantai) bawah, tiba-tiba terdengar gradak...gradakkk, brakkkk,” cerita Purwadi. Para guru pun terkejut dan menghentikan rapat. Mereka kemudian melihat apa yang terjadi.

Ternyata, empat kelas XII Akuntansi yang berada di lantai dua rusak parah. Atapnya ambruk. Reruntuhannya menimpa meja dan kursi yang ada di bawahnya. “Kami hanya bisa bersyukur, kerusakan tidak terjadi di lab (laboratorium, Red) komputer,” ucap Purwadi saat dihubungi kemarin petang.

Angin puting beliung sebenarnya berlangsung tak terlalu lama. Hujan deras sudah turun sejak pukul 14.00. Selang 30 menit kemudian angin puting beliung menerjang. Karena itu ambruknya langit-langit itu berlangsung saat kelas kosong karena siswa sudah pulang ke rumah masing-masing.

Purwadi mengakui, bencana itu akan membuat proses belajar-mengajar terganggu. Namun, karena siswa kelas XII persiapan jelang ujian, dia akan mengalihkan merekake kelas yang lain. Alternatif lain sebagian siswa masuk siang.  “Yang pasti, siswa tetap masuk seperti biasa,” jelasnya.

hujang angin di wilayah Pare dan sekitarnya ini berlangsung sekitar pukul 14.00. Hujan angin diperkirakan berlangsung sekitar satu jam. Sedikitnya puluhan rumah mengalami rusak ringan dan parah. Seperti di Dusun Ngeblek, Desa Pelem, Kecamatan Pare. Sejumlah rumah plafonnya juga roboh. “Di blok sini saja ada tujuh rumah, semuanya rusak,” tutur Santoso, salah satu warga. Jika bukan di depan rumah, ada pula plafon dalam rumah.  Di rumah Santoso sendiri, plafon rumahnya juga ambrol.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, terdata tiga rumah yang mengalami rusak berat dan ringan. Kerusakan berat dialami rumah Hantoro, 33 di Desa Darungan, Kecamatan Pare. Puluhan pohon pun bertumbangan dan menutup jalan. “Petugas kami langsung melakukan pembersihan agar jalur kembali lancar,” terang Plt Kepala BPBD Kabupaten Kediri Randy Agatha Sakaira.

Saat ini, BPBD Kabupaten Kediri masih terus melakukan pemantauan di lapangan untuk mengecek kondisi rumah yang terkena bencana. Diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah. Sebab, masih ada desa lainnya di wilayah Pare yang ikut terdampak.

Sementara itu, kebakaran kembali terjadi di Desa Karangtalun, Kecamatan Kras. Kali ini sebuah pabrik penggilingan gula jawa milik Hariyadi, 45, ikut terbakar.

“Kebakaran itu diakibatkan oleh sisa penggilingan yang tidak dimatikan dan menjalar ke penggilingan tebu,” ungkap Kapolsek Kas AKP Ridwan Sahara.

Menurutnya, lokasi kejadian tersebut terjadi di dua lokasi. Pertama, kebakaran menjalar di pabrik yang berukuran 8 x 50 meter dengan bangunan beratap asbes dan api pun langsung menjalar di bangunan tersebut. Kedua, kebakaran tersebut menjalar di gudang penggilingan tebu yang mengenai penerangan listrik dengan instalasi pada bangunan pabrik. Akibatnya api tersebut langsung menjalar. “Dua lokasi tersebut memang berdekatan. Beruntung  warga langsung tanggap dan langsung melaporkan tersebut di PMK dan Polsek Kras,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia