Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features
Pergelaran Cinta Seni di SLG

Biasa Latihan 5 Jam Sehari, Yang Diajari Kaget

Guruh Soekarnoputra Latih 52 Pelajar Menari

25 November 2019, 19: 25: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

TINGKATKAN KUANTITAS: Guruh Soekarnoputra saat melatih 52 pelajar menari jelang tampil dalam Pergelaran Cinta Seni di SLG, Ngasem.

TINGKATKAN KUANTITAS: Guruh Soekarnoputra saat melatih 52 pelajar menari jelang tampil dalam Pergelaran Cinta Seni di SLG, Ngasem. (Mualifu Rosydin Alfarizi - JP Radar Kediri)

Share this          

Di antara penampil pada Pergelaran Cinta Seni dan Musik Nusantara yang digelar Kemenpar di SLG adalah 52 pelajar asli Kediri. Mereka dilatih khusus oleh Guruh Soekarnoputra. Sehingga harus beradaptasi dan mengikuti standar latihan layaknya di sanggar GSP.

DWIYAN SETYA NUGRAHA

Sabtu malam itu (23/11), Guruh Soekarnoputra datang di kawasan monumen Simpang Lima Gumul (SLG), Ngasem. Dia mengenakan jaket hitam. Dari kejauhan, sesekali matanya mengamati gerak tari puluhan pelajar.

Guruh telah mengajarkan gerak tari itu selama dua minggu terakhir. Dia berada sekitar 50 meter dari panggung Pergelaran Cinta Seni dan Musik Nusantara SLG. Acara ini yang diadakan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia ini mengambil tema Indonesia Raya, Ibu Pertiwiku.

Pertunjukan tersebut merupakan suguhan akulturasi budaya dari Guruh kepada masyarakat Kabupaten Kediri. “Alhamdulillah kami bisa dipercaya kementerian (Kemenpar, Red) untuk mengisi pertunjukan tarian di Kabupaten Kediri,” terang pria bernama lengkap Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra ini.

Guruh mencoba menghadirkan dua konsep tarian yang menjadi ciri khas Indonesia dengan kearifan lokal Kediri. Dia mencoba untuk memahami berbagai kebudayaan di tanah yang yang pernah menjadi pusat kerajaan kuno Kadiri ini.

Guruh menghadirkan jenis tarian yang dapat memberikan sentuhan-sentuhan kritik sosial yang terjadi saat ini. “Indonesia saat ini dilanda berbagai jenis permasalahan hidup. Kesenjangan sosial inilah yang kami coba sampaikan melalui tarian-tarian ini,” ungkap pemilik sanggar kesenian Gencar Semarak Perkasa (GSP) ini.

Putra bungsu dari pasangan Presiden pertama Indonesia, Soekarno dan Fatmawati, ini menilai Kediri memiliki potensi kebudayaan yang luar biasa. Salah satunya kebudayaan tarian tradisional dan berbagai jenis batik khas Kediri. Melalui pergelaran inilah, Guruh menghadirkan sajian-sajian yang menggabungkan keduanya.

“Sesekali kami hadirkan tarian yang menggunakan instrumen khas Kediri. Seperti Batik Kediri maupun tarian jaranan,” terangnya kepada koran ini.

Guruh mengakui, sempat mengalami kesulitan dalam mengasuh 52 penari yang diambil dari pelajar yang tersebar di Kabupaten Kediri. Bahkan, ia harus turun langsung dalam mengaplikasikan tarian yang sudah terkonsep dengan matang. “Potensi ada, cuma puluhan penari ini harus mendapatkan pendampingan yang intens,” ujarnya.

Dengan dibantu empat coach penari, Guruh mengapresiasi niat tulus penari yang ia latih selama dua pekan ini. Namun ia menyadari, puluhan penari tersebut memang kurang cepat beradaptasi. Hingga membuatnya harus meningkatkan kuantitas latihan.

“Mungkin mereka kurang bisa beradaptasi. Kalau saya di Jakarta biasanya lima jam latihan dalam sehari. Jadi mereka sedikit kaget,” ungkap pria kelahiran 13 Januari 1953 ini.

Tak hanya itu, Guruh juga mengajarkan cara mencintai Indonesia melalui tarian. Inilah yang mungkin ia tanamkan kepada seluruh penari yang dilatihnya selama ini.

Langkah inilah yang dirasa sukses untuk menyuarakan aspirasi rakyat melalui media kesenian. “Pokoknya semua penari dari Sabang hingga Merauke pasti saya ajarkan cara ini,” paparnya.

Sejak tahun 1975 terjun di dunia kesenian tari, Guruh selalu menggabungkan nilai-nilai kesenian melalui akulturasi budaya berbagai suku bangsa Indonesia. Dengan memadukan tarian kebudayaan Kediri, ia mengatakan, sedikit ingin mem-branding Kerajaan Kadiri melalui tarian kolosal yang dibawakannya.

“Kami tahu Kediri memiliki Kerajaan Kediri yang menyimpan banyak potensi. Mungkin melalui tarian ini bisa sedikit memberikan referensi seluruh rakyat Indonesia,” imbuhnya.

Guruh juga berpesan kepada masyarakat Kabupaten Kediri untuk selalu memegang teguh dan menjaga kebudayaan kearifan lokal Kediri. Pesan inilah yang ia selalu haturkan setiap menginjakkan kakinya di Kabupaten Kediri.

“Kediri memiliki banyak potensi kebudayaan. Banyak hal yang bisa digarap dan disinergikan dengan pemangku kebijakan, dalam hal ini Pemkab Kediri. Itu untuk mengembangkan kesenian Kediri,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia