Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Tujuh Desa Belum Bebas dari Kekeringan

Ribuan Jiwa Tetap Kesulitan Air Bersih

25 November 2019, 15: 26: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

Drop

TUNGGU DROPPING: Warga Desa Gampeng, Ngluyu mengambil air di tandon yang baru saja diisi petugas BPBD Nganjuk. Hingga November ini mereka masih terus menunggu bantuan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Hujan mulai mengguyur wilayah Nganjuk sejak minggu kedua November lalu. Tetapi, curah hujan yang belum merata membuat tujuh desa di Kota Angin belum terbebas dari bencana kekeringan. Hingga minggu ketiga November ini, ada tujuh desa yang tetap rutin mendapat bantuan air bersih.

Di Kabupaten Nganjuk, total ada 6.549 warga yang kesulitan air bersih selama musim kemarau. “Desa yang mengalami kesulitan air bersih tetap. Tidak ada penambahan sejauh ini,” ujar Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Nugroho.

Tujuh desa tersebut adalah Desa Oro-Oro Ombo, Ngetos, yang meminta bantuan air bersih pada pertengahan Oktober lalu. Selebihnya, ada enam desa lain yang juga mengalami kekeringan tahun lalu. Yaitu, Desa Ngepung, Lengkong; Desa Gampeng, Ngluyu; Desa Tempuran, Ngluyu;  Desa Oro-oro Ombo, Ngetos. Selanjutnya, Desa Genjeng, Loceret; Desa Lengkonglor, Ngluyu; dan Desa Pule, Jatikalen.

Selain desa-desa tersebut, ada tiga desa lain yang tahun lalu juga meminta dropping air bersih. Tetapi, tahun ini mereka bisa terbebas dari bencana kekeringan. Yaitu, Desa Ketawang, Gondang; Desa Sumberejo, Gondang; dan Desa Pinggir, Lengkong.

Khusus untuk Desa Ketawang dan Sumberejo, menurut Nugroho mereka tidak lagi kekeringan setelah terbantu proyek ketersediaan air berish dari Pamsimas. Saat ini, air di dua desa tersebut masih lancar.

Setelah ada tiga desa yang terbebas dari kekeringan, saat ini pemkab menyiapkan pengeboran di Ngluyu untuk mengatasi kekeringan di sana. “Pihak desa sedang mencari sumber air yang ada di sekitar bukit,” urai Nugroho.

Menggunakan alat khusus, diharapkan proyek pengeboran ini bisa menyelesaikan krisis air bersih di Kecamatan Ngluyu. “Semoga tahun depan sudah terbebas dari kekeringan,” harapnya.

Untuk diketahui, status darurat bencana kekeringan sejatinya berakhir Oktober lalu. Tetapi, BPBD memperpanjang status darurat bencana kekeringan hingga November ini karena desa-desa tetap kesulitan air bersih.

BPBD, tutur Nugroho, terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Sesuai prediksi, hujan baru akan turun pada akhir bulan ini. “Perkiraan musim hujan ya akhir November ini,” ungkap Kepala Teknis Stasiun Geofisika BMKG Kelas III Sawahan, Sumber Harto kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Diakui Harto, hingga saat ini hujan masih belum turun merata. Misalnya, pada Kamis (21/11) lalu, hujan hanya turun di wilayah Patianrowo dan Rejoso.

 “Setiap hari kami selalu update tentang cuaca saat ini,” tutur pria yang tinggal di Sawahan ini.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia