Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Warga Sawahan yang Akhirnya Terbebas dari BAB Sembarangan

Malu karena Pernah Difoto Waktu BAB di Sungai

25 November 2019, 15: 10: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

BERNOSTALGIA: Binti (kanan), Siti (dua dari kanan), dan Tri (tiga dari kanan) saat berada di bantaran sungai yang dulunya sering digunakan BAB sembarangan di Dusun Tosaritimur, Desa Kebonagung, Sawahan, kemarin (24/11).

BERNOSTALGIA: Binti (kanan), Siti (dua dari kanan), dan Tri (tiga dari kanan) saat berada di bantaran sungai yang dulunya sering digunakan BAB sembarangan di Dusun Tosaritimur, Desa Kebonagung, Sawahan, kemarin (24/11).

Share this          

Puluhan tahun warga Desa Kebonagung, Sawahan terbiasa buang air besar (BAB) di sungai. Kini, mereka telah meninggalkan kebiasaan tersebut. Tidak ada lagi warga yang kedapatan BAB sembarangan.

ANDHIKA ATTAR. SAWAHAN, JP Radar Nganjuk.

Semilir angin berembus di bantaran sungai besar yang membelah Dusun Tosaritimur, Desa Kebonagung, Sawahan, kemarin. Binti Rindiani, 40, tersipu mengingat kenangan yang terjadi di sana beberapa tahun silam.

Dengan blak-blakan, perempuan asli kelahiran setempat itu mengakui bahwa sejak kecil ia terbiasa buang air besar (BAB) di sana. Bahkan, hingga ia beranjak dewasa .

Memang bukan pengalaman yang patut dibanggakan. Namun, perjuangannya meninggalkan kebiasaan buruk itulah yang layak diapresiasi. Seperti kita tahu, kebiasaan sangat susah diubah. Apalagi jika sudah berumur puluhan tahun.

“Dulu ya tinggal ndodok (jongkok, Red) saja di batu yang di pilih. Plung.. Beres,” ujarnya enteng yang disusul tawa Bidan Desa Tri Amin Tartik dan Kader Open Defecation Free (ODF) Siti Fatimah.

Bagi warga di sana, BAB di sungai tak hanya soal buang hajat. Lebih dari itu, BAB di sungai juga bisa dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi. Bagaimana tidak, dalam sekali waktu bisa sampai tujuh orang yang BAB bersamaan. “Biasanya pagi hari itu yang ramai (orang BAB),” celetuknya sembari tersenyum simpul.

Warga di sana bisa saja berjajar, saling membelakangi, atau posisi lain yang dianggap paling enak oleh masing-masing. Yang pasti, sensasi tersebut memang sudah seperti membudaya di sana. Tak peduli umur. Tak peduli jenis kelamin. Untuk urusan BAB di sungai, “toleransi” warga pinggiran ini luar biasa besar.

Tidak ada bilik atau sekat yang memisahkan satu warga dengan lainnya ketika BAB. Bahkan, tidak ada pula kesepakatan titik mana yang digunakan untuk kaum hawa atau adam.

Bagi mereka, warga negara tidak hanya setara di hadapan hukum saja. Tetapi juga setara saat buang hajat. “Paling ya tinggal mencari batu yang agak besar saja untuk sembunyi,” kenang Binti.

Meski menjanjikan begitu banyak kemudahan, namun tidak selalu begitu yang dirasakannya. Tak sedikit pula kesulitan dan tantangan yang dihadapi saat BAB di sungai. Seperti halnya jika sakit perut dirasakan saat malam tiba.

Ditemani suara jangkrik, warga harus bersusah-susah membawa senter untuk BAB. Tak hanya malam, jika panas atau hujan tiba, mereka juga harus membawa payung saat BAB.

Sejatinya, ia dan beberapa warga lain yang masih BAB di sungai juga ingin memiliki jamban sendiri. Namun, apa daya kantong tak cukup tebal. Ada urusan yang lebih penting dari buang hajat.

Namun, sekitar 2016 silam, kesadarannya untuk tidak BAB sembarangan membuncah. Terutama saat ada orang yang diam-diam memotretnya bersama warga lain saat BAB di sungai. “Lama-lama malu sendiri. Pernah juga ada yang memfoto dari belakang saat BAB di sungai. Sejak saat itu sudah mulai sadar,” tutur Binti.

Kesadarannya pun bertambah kuat lagi karena dorongan Tri dan Siti. Mereka adalah kader yang menyadarkan warga Desa Kebonagung  untuk meninggalkan perilaku BAB sembarangan.

Sudah sejak setahun terakhir ini Binti dan keluarganya tidak lagi BAB di sungai. Ia telah memiliki jamban sendiri di rumahnya. Ia pun mengaku merasa lebih tenang. Sekarang tidak perlu repot-repot ke sungai untuk BAB. “Lebih enak di jamban sendiri. Tidak perlu merasa was-was,” aku ibu dua anak tersebut.

Hal itu pula yang dirasakan warga lainnya di sana. Desa Kebonagung kini telah resmi dinyatakan bebas dari BAB sembarangan. Mereka menjadi desa terakhir di Kecamatan Sawahan yang mendeklarasikan sebagai desa ODF.

Perjuangan Tri dan Siti memang tidak mudah. Mereka perlu memberikan pemahaman secara pelan-pelan kepada warga. Mereka sadar, untuk mengubah perilaku dibutuhkan waktu lama. Terlebih, jika yang bersangkutan belum memiliki kesadaran. “Ya diajak pelan-pelan. Diberi tahu efek-efek buruknya BAB sembarangan seperti bagaimana,” sambung Siti.

Tri yang sehari-hari menjadi bidan desa di sana pun memberikan pemahaman dari sisi kesehatan. “Tentunya banyak hal negatif yang bisa ditimbulkan dari BAB sembarangan. Banyak penyakit yang datang karena pola hidup tidak sehat. Mulai dari diare hingga penyakit kulit,” katanya memberi contoh.

Terpisah,  Kasi Kesehatan Lingkungan (Kesling) Dinkes Nganjuk I Ketut Wijayadi mengaku terkejut Kecamatan Sawahan justru sudah deklarasi ODF. Pasalnya, banyak tantangan yang ada di sana untuk menjadi kecamatan yang bebas dari BAB sembarangan.

Terutama jika melihat dari sisi geografis, Kecamatan Sawahan terletak di ujung Kota Angin. Belum lagi jika dilihat dari sisi kualitas sumber daya manusia (SDM) di sana. Namun, teori itu semua terbantah. “Saya benar-benar terkejut sekaligus kagum. Semua kerja keras kader-kader di sana akhirnya terbayarkan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Nganjuk saat ditemui di PKM Pace, Kamis (21/11).

Berbagai upaya memang dilakukan untuk menekan angka BAB sembarangan di sana. Mulai dari pemicuan hingga sosialisasi dan pemahaman kepada warga.

“Meskipun masih ada sekitar 10 persen warga yang numpang di jamban tetangganya, tetapi sudah tidak ada lagi yang BAB sembarangan,” tandas pria yang akrab di sapa Ikrom tersebut.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia