Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Disangka Patirtan, Ternyata Bangunan Talud

Ekskavasi Situs Sumbergayu Dihentikan

25 November 2019, 14: 51: 04 WIB | editor : Adi Nugroho

Situs

BANGUNAN KUNO: Ekskavasi di situs Sumbergayu, Desa Klurahan, Ngronggot, yang berlangsung sejak Rabu (20/11) lalu memastikan bangunan yang awalnya disangka patirtan itu ternyata talud. BPCB Trowulan menghentikan penggalian kemarin (22/11). (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Ekskavasi situs di Dusun Sumbergayu, Desa Klurahan, Ngronggot selesai kemarin. Bangunan yang awalnya disangka merupakan patirtan itu ternyata talud. Sesuai strukturnya, situs diduga dibangun sebelum era Majapahit.

Ketua Tim Ekskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto Wicaksono Dwinugroho mengatakan, dilihat dari dimensi bata lebih besar dari situs Trowulan. “Panjang 42 sentimeter, lebar 28 sentimeter, dan tebal 11 sentimeter,” ujar Wicaksono.

Temuan bata tersebut, lanjut Wicaksono, sama seperti di gua Made Jombang dan situs Sekaran, Malang. Di dua lokasi tersebut, BPCB pernah menemukan porselen dan uang kepeng dari dinasti Song. “Diperkirakan abad 10-11 Masehi,” lanjutnya.

Adapun saat ekskavasi di Desa Klurahan, BPCB hanya menemukan gerabah kasar. “Berbeda dengan Majapahit yang lebih halus dan tipis,” ungkapnya.

Untuk memprediksi tahun bangunan, Wicaksono berujar, timnya masih mencari uang kepeng di sekitar lokasi. Hingga kemarin, menurutnya belum ada satu pun benda yang bisa menunjukkan tahun bangunan. “Untuk sementara ekskavasi dihentikan. Ini baru ekskavasi penjajakan untuk melihat potensi,” tegasnya.

Lebih jauh Wicaksono mengungkapkan, temuan situs Sumbergayu di Desa Klurahan, Ngronggot itu cukup menjanjikan. Dia menduga di sekitar lokasi ada pemukiman yang lebih besar. Apalagi, di Kecamatan Ngronggot banyak ditemukan bata bekas pemukiman kuno yang lebih luas. Indikasinya merupakan kedaton atau keraton kuno.

Dia berharap ekskavasi bisa dilanjutkan tahun depan. “Lihat potensi nanti perlu kolaborasi antara pusat, provinsi, dan kabupaten Nganjuk. Soalnya sebaran temuan berada di satu kecamatan,” tandasnya.

Kasi Sejarah, Museum dan Kepurbakalaan Disparporabud Nganjuk Amin Fuadi menambahkan, selain di Desa Kelurahan ada 12 titik yang diperkirakan masih jadi satu bagian dengan situs Sumbergayu. “Satu tempat dengan tempat lainnya ada kemiripan. Khususnya bangunan dari bata merah yang besar,” terang Amin.

Sementara itu, Wakil Bupati Nganjuk Marhaen Jumadi yang kemarin ikut meninjau lokasi menyebutkan, penemuan situs ini menunjukkan jika Nganjuk sudah punya peradaban lebih jauh dari era Majapahit. “Temuan-temuan ini harus kita jaga dan lestarikan,” tuturnya.

Apalagi, temuan bangunan kuno tidak hanya di satu tempat tapi menyebar di banyak desa di Kecamatan Ngronggot. Pantauan koran ini, ekskavasi sejak kemarin pagi sudah dihentikan. Bangunan talud yang sudah terbuka panjangnya sekitar 23 meter dengan kedalaman mencapai tiga meter. Saat penggalian, warga sekitar cukup antusias datang dan berharap temuan tersebut bisa menjadi ikon wisata desa.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia