Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Ketika Siswa SDN Mojoseto Terpaksa Belajar di Halaman Sekolah

Kepanasan, Berteduh di Bawah Pohon Mangga

25 November 2019, 14: 40: 04 WIB | editor : Adi Nugroho

SD

DARURAT: Asrori, guru kelas III SDN Mojoseto memberi penjelasan tentang cara mengerjakan soal matematika kepada siswanya yang belajar di halaman sekolah Rabu (20/11) lalu. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Kenyamanan belajar di ruang kelas, tidak lagi didapat oleh ratusan siswa SDN Mojoseto, Gondang. Selama beberapa bulan terakhir mereka belajar di kelas darurat. Salah satunya di halaman sekolah. Untuk menghindari terik matahari, berteduh di bawah pohon mangga pun tak apa.

REKIAN. GONDANG,JP Radar Nganjuk

Jarum jam menunjukkan pukul 10.30, Rabu (20/11) pagi lalu. Panas sinar matahari terasa mulai menggigit kulit saat puluhan siswa kelas III SDN Mojoseto, Gondang, tengah belajar di halaman sekolah. Duduk di kursi yang berderet di depan ruang kelas V, mata anak-anak itu mengarah ke papan tulis yang ditempel di jendela kelas. 

Pagi itu anak-anak sedang belajar matematika. Tiga soal akar kuadrat tertulis di papan. Sembari menulis di kursi yang dibalik, anak-anak tak bisa menyembunyikan keresehannya. “Susah. Tidak bisa,” celetuk salah satu siswa yang rata-rata berusia sembilan tahun itu.

Mendengar keluhan siswanya, Zainal Asrori, guru kelas III, langsung mendekati anak didiknya. Dengan sabar, guru berusia 37 tahun itu menjelaskan cara mengerjakan soal.

Usai mendapat penjelasan tentang cara mengerjakan, beberapa siswa terlihat tidak lagi mengalami kesulitan menggarap soal. Tetapi, masalah lain kini mulai datang. Sekitar pukul 11.00, sebagian siswa mulai kepanasan. Sengatan sinar matahari tampaknya mulai menggigit.

Tak hanya siswa yang belajar di halaman. Tetapi, enam siswi yang memilih duduk lesehan di teras, persis di bawah papan tulis juga merasakan hal yang sama. Mereka mulai gerah.

Memahami kondisi “kelasnya”, Asrori memilih memberi keleluasaan pada siswanya. Mereka boleh menyimak pelajaran sembari duduk selonjor. Ada juga yang duduk di tanah sembari menulis di kursi. Demikian juga yang memilih tengkurap di lantai.

Sejatinya, ada juga siswa kelas IV yang juga belajar di halaman sekolah. Tetapi, karena sedang ada pelajaran agama, siswa kelas IV pindah ke kelas PAUD yang ada di kompleks SDN Mojoseto.

Melihat keresahan anak didiknya yang mulai kepanasan, pria yang sudah sepuluh tahun mengabdi di SDN Mojoseto ini menyadari, pembelajaran di luar kelas hanya efektif hingga pukul 09.00. Selebihnya, anak-anak tidak akan bisa berkonsentrasi maksimal karena cuaca mulai panas.

Guru tidak tetap (GTT) ini bersyukur akrena anak didinya tetap bertahan. Tidak beranjak dari lokasinya belajar. Mereka hanya memilih berteduh di bawah pohon mangga agar sengatan matahari bisa sedikit terhalangi dedaunan yang tidak terlalu lebat itu.

Belajar di ruangan terbuka, sesekali senyum masih menyembul di bibir anak-anak itu. Mereka tetap bisa bercanda dengan teman-temannya di tengah keterbatasan.

Bagas Maulana, siswa kelas III mengaku tidak masalah belajar di halaman sekolah. Meski demikian, bocah berusia 9 tahun itu mengaku kangen dengan suasana belajar di dalam kelas. “Di sini panas, enak di dalam kelas,” akunya kepada JP Radar Nganjuk diamini teman-temannya.

Seolah kompak, Bagas dan teman-temannya ingin kembali belajar di dalam kelas seperti siswa di sekolah lain. “Kami ingin kembali ke kelas lagi kalau sudah diperbaiki,” lanjutnya.

Kepala Sekolah SDN Mojoseto Lasmi Hartini mengungkapkan, sebelum dipindah ke halaman, siswa kelas III lebih dulu belajar di teras sekolah. Rupanya mereka kesulitan belajar karena pantulan keramik membuat silau dan panas.

Jika siswa kelas III dan IV belajar di halaman sekolah, empat kelas lainnya terpaksa digabung. Mereka belajar di musala dan di ruang perpustakaan. Ada pula siswa yang nomaden belajar ke TK/PAUD di kompleks sekolah.

Melihat anak didiknya tidak bisa belajar di kelas, perempuan berjilbab itu mengaku sangat prihatin. Meski demikian, opsi belajar di luar kelas terpaksa diambil. Sebab, bangunan yang atapnya sudah rusak dan dindingnya retak itu sangat berbahaya jika terus digunakan.

Dia khawatir bangunan bisa ambruk dan membahayakan anak-anak. “Sudah ada kejadian di Pasuruan.Kami tidak ingin ada korban makanya memilih cara aman belajar di luar kelas,” tuturnya.

Kekhawatiran Lasmi memang tak berlebihan. Selain beberapa ruangan yang retak, saat ini sudah mulai pergantian musim. Dia takut bila sewaktu-waktu ada angin kencang menerjang ruang kelasnya, bangunan yang tampak rapuh itu bisa ambruk.

“Yang penting proses belajar mengajarnya berjalan, sebentar lagi anak-anak ini tempat belajarnya akan pindah  ke balai desa (Mojoseto, Red). Setidaknya bisa lebih nyaman dibanding jika di halaman,” urainya berharap anak-anak tetap semangat belajar.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia