Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Targetkan Tiga Hari Bangunan Bisa Terlihat

BPCB Ekskavasi Situs di Klurahan

25 November 2019, 14: 24: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

Patirtan

BANGUNAN KUNO: Struktur batu bata kuno mulai terlihat setelah satu unit ekskavator melakukan penggalian di situs patirtan di Dusun Sumbergayu, Desa Klurahan, Ngronggot sejak Rabu (20/11) lalu. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGRONGGOT, JP Radar Nganjuk- Janji Balai Pelestarian Budaya (BPCB) Trowulan untuk mengekskavasi situs di Dusun Sumbergayu, Desa Klurahan, Kecamatan Ngronggot, direalisasikan Rabu (20/11) lalu. Bersama Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Nganjuk, mereka melakukan penggalian menggunakan satu unit ekskavator.

Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum dan Kepurbakalaan Disparporabud Nganjuk Amin Fuadi mengatakan, penggalian dilakukan sejak pagi sampai sore hari. Luas galiannya mencapai 10x25 meter. “Kedalamannya sekitar dua meter,” ungkap pria yang tinggal di Kelurahan Mangundikaran ini.

Penggalian, lanjut Amin, untuk membuka bangunan situs yang diduga adalah patirtan di era Majapahit itu. Amin mengungkapkan, penggalian situs tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar. “Kami perkirakan bisa terbuka dalam waktu tiga hari mulai hari ini (Rabu lalu, Red),” lanjut Amin.

Untuk diketahui, ekskavasi yang dilakukan mulai Rabu lalu itu berbeda dengan penggalian situs umumnya. Mereka sengaja menggunakan ekskavator untuk mempermudah penggalian. Selain itu, penggunaan alat berat menurut Amin bisa sedikit mengurangi biaya penggalian.

Jika dilakukan secara manual, waktu penggalian akan lebih lama lagi. Sehingga, dari segi biaya akan lebih mahal. Ditanya tentang kekhawatiran akan kerusakan situs, Amin menjelaskan, tim sudah memastikan titik penggalian yang tidak ada bangunannya. “Alat berat ini untuk mempermudah saja,” terangnya.

Pantauan koran ini, selama penggalian tim tidak menemukan adanya benda-benda bersejarah. Seperti sebelumnya, bangunan bata berukuran raksasa itu diperkirakan merupakan dinding atau tembok patirtan.

Hingga kemarin, bangunan bata merah itu sudah terbuka sepanjang 23 meter. “Bentuk batanya masih bagus,” tutur Amin tentang struktur batu bata berukuran besar yang mulai terlihat.  Dia memperkirakan bangunan itu masih memanjang.

Seperti diberitakan, penemuan situs patirtan ini pertama kali diketahui pada Agustus lalu. Saat itu, Sri Widyati, 48, sang pemilik tanah sedang menggali septic tank. Saat digali dengan kedalaman beberapa meter, dia menemukan struktur batu bata merah berukuran besar.

Yaitu, panjang 24 sentimeter dan lebar delapan sentimeter. Menyadari ada bangunan di bawah tanahnya, Sri melaporkan temuan itu ke Disparporabud Nganjuk. Dalam penggalian kemarin, tim juga tidak bisa meneruskan galian secara utuh. Sebab, selain tanah Sri, diduga bangunan itu juga melebar ke tanah warga lainnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia