Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
HABIBAH A. MUKTIARA

-- Toxic --

24 November 2019, 14: 33: 21 WIB | editor : Adi Nugroho

Habibah A. Muktiara

Oleh: Habibah A. Muktiara (radarkediri.id)

Share this          

Akhir-akhir ini topik seperti kesehatan mental, bullying, body shaming, hingga toxic relationship menjadi topik bahasan di kalangan masyrakat.  Toxic relationship itu apa? Toxic  bisa dibilang orang-orang yang, dalam tanda kutip, beracun. Di mana orang seperti ini memiliki pribadi yang suka menyusahkan.

Tidak hanya itu saja,  bisa sampai merugikan orang lain. Baik secara fisik maupun emosional. Tanpa kita sadari, ada kalanya lingkungan social, di mana kita berada menjadi toxic yang  besar bagi seseorang. Toxic relationship, tidak hanya  dapat terjadi pada hubungan antara pasangan ataupun keluarga. Hal ini juga dapat tejadi di lingkungan kerja. Lepas dari itu semua,  tanpa disadari apa yang kita lakukan bisa memberikan dampak bagi orang lain.  Hanya saja,  dampak itu bisa baik atau malah sebaliknya..

Hal ini akan sangat berdampak bagi seseorang. Terutama bagi mereka yang memiliki masalah. Memang masalah orang lain, bukan urusan kita untuk ikut campur ataupun menjadi urusan kita. Akan tetapi, setidaknya kita bisa menghargai permasalahan yang sedang dihadapi orang tersebut.  Contohnya, tidak membuat masalah tersebut menjadi semakin berat. Karena tidak semua orang memiliki daya tahan diri yang sama.

Namun, sangat disayangkan, sikap menghargai maupun batasan untuk berucap atau memberikan komentar masih menjadi sebuah persoalan yang besar  bagi kita. Kenapa bisa seperti itu?  Hal tersebut  dikarenakan pada faktanya, kebanyakan orang hanya berucap sesuai dengan apa yang mereka lihat.  Tanpa mau memahami sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi.

Toxic di lingkungan kerja  dapat sangat berpengaruh dengan kinerja seseorang.  Sabagai makhluk sosial,  hubungan teman kerja tidak hanya sebatas untuk urusan pekerjaan. Akan tetapi,  juga adanya pengertian antara kebutuhan atasan dan bawahannya.

Jika hal tersebut tidak berjalan dengan baik, akan menyebabkan tidak nyaman dalam bekerja. Yang berujung pada penurunan kinerja. Hubungan ini, merupakan toxic relationship. Karena hal tersebut,  perasaan tidak nyaman akan menyelimuti  ketika bekerja di kantor.

Tidak hanya atasan dan bawahan,  toxic relatinship juga dapat terjadi antarteman kerja.  Hal ini juga sering terjadi  fake relationship/ pertemanan palsu.  Biasanya mereka hanya pura-pura berlaku baik ketika di hadapan seseorang.

Memang tidak dapat dipungkiri  bahwa hidup tidak akan pernah jauh dari komentar orang-orang sekitar.  Ibarat sebuah roda,  kehidupan selalu berputar. Di mana akan selalu ada gilirannya waktu untuk bersedih atau bahagia.  Sehingga ada masa ketika seseorang  pernah merasa menjadi tidak berharga, sangat payah, dan lebih buruk dari manusia paling buruk sekali pun.

Berhentilah menjadi toxic untuk orang lain. Di mana mungkin hal tersebut tanpa disadari, dapat saja mampu membunuh jiwa dan semangat orang lain. Karena setiap manusia pastilah memiliki kekurangan dan tentunya kelebihannya masing-masing. Sebagai manusia kita tidak pantas untuk saling menghakimi. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia