Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

-- Byar-Pet --

24 November 2019, 14: 05: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

Byar Pet

Byar Pet (radarkediri.id)

Share this          

Ini pengalaman yang memukul kesadaran Matnecis. Selaku orang yang (bercita-cita) sugih mblegedhu. Dengan omah yang magrong-magrong. Di tengah kota.

Sudah beberapa bulan terakhir, hampir tiap Minggu, dia harus kepet. Kalaupun ingin mandi, terpaksa harus nunut. Ke tetangganya. Yang dekat. Yang masih punya sumur Dragon alias sumur pompa. Atau sumur kerekan. Karena cari sumur senggot sudah hampir ndak nemu lagi. Sekalipun di desa.

Itu gara-gara, hampir tiap Minggu, PLN melakukan pemadaman. Bergilir. Alasannya, untuk perbaikan. Atau pemeliharaan jaringan. Dan, kalau sudah PLN yang melakukan pemadaman, bukan cuma satu rumah –rumah Matnecis—yang kena. Tapi semua. Di wilayah itu. Yang sambungannya ikut dengan jaringan yang diperbaiki. Tiga-empat desa. Tiga-empat kelurahan. Sekaligus.

“Mateng aku…!,” keluh Matnecis sambil menepuk bathuk-nya.

Kepet adalah hal yang paling dia hindari. Apalagi di hari Minggu. Itu adalah hari pelesir baginya. Untuk tepe-tepe alias tebar pesona. Bagaimana dia bisa menebar pesona jika adus saja ndak bisa? Air di rumahnya cuma mengandalkan Sanyo. Dab. Sumur pompa listrik.

So, semagrong-magrong apa pun rumahnya, tanpa air, penghuninya akan mati kutu. Plethes. Inilah yang memukul kesadarannya. Masih beruntung yang langganan PDAM. Saat listrik mati, air masih mengalir. Walau kadang ikut ithir-ithir. Akibat terimbas listrik PLN yang mati.

“Tapi aku sehari-semalam kesumuken,” protes Dulgembul yang disebut masih beruntung karena rumahnya punya sumur pompa. Tumpukan daging dengan lemak di lapisan dalam tubuhnya memang membuat dia gampang sumuk.

Apalagi saat listrik mati. Kipas angin di rumahnya ndak ada yang bisa munyer. Padahal, itulah sumber kesejukan di sana. Dengan embusan angin yang tertiup dari kipas elektrik itu pula Dulgembul baru bisa tidur. Eh, lha kok tiba-tiba listrik mati. Ndak cuma siang. Tapi juga malam. Jam-jaman pula.

Dulgembul pun ngosek. Usrek. Mau tidur di mana saja ndak tenang. Dari kasur turun ke lantai. Dari kamar pindah ke emperan. Sama saja. Lha wong udara di luar memang sedang the hot is potatoes and not public gini. Panas kenthang-kenthang. Sauumuk ndak umum.

“Kowe-kowe iki lo, dadi wong kok ora bersyukur,” komentar Matkriting waktu mendengar kresah-kresuh kawannya itu. “Listrik mati sehari saja sudah ngomel ndak karuan.” Dia membandingkan dengan orang-orang di luar Jawa yang listriknya sudah biasa byar-pet. Ndak cuma sehari. Tapi hampir tiap hari.

Tentu saja Dulgembul dan Matnecis ndak terima. Sebab, bagi mereka, orang-orang di luar Jawa itu ndak ngomel bukan karena lebih bersyukur. Tapi karena memang sudah saking biasanya. Sehingga ndak tau lagi harus berbuat apa. Kecuali hanya pasrah menerima.

Orang-orang itu tau, mbok ngomel sehari-semalam, gulung koming Kediri-Surabaya balapan dengan Harapan Jaya, ndak mampu mengubah keadaan. Lha wong satu-satunya pabrik listrik yang ada cuma PLN.

“Kowe iki ngalihne perhatian,” ucap Dulgembul sambil njendul kepala Matkriting yang hendak ngemplok trasi dele.

“Masalahnya bukan pada bersyukur atau tidak. Tapi, byar-pet yang dulu sudah berhasil diatasi PLN, sekarang mbalik lagi. Jadi langganan lagi,” sambung Matnecis yang kali ini rada pinter. “Memangnya, kalau aku ndak protes seperti kawan-kawan di luar Jawa sebagaimana kamu sebut tadi, byar-pet-nya terus terselesaikan?”

Jika dulu bisa, sekarang tidak, lalu di mana masalahnya? Inilah yang Dulgembul dan Matnecis coba tanyakan. Itu seperti waktu listrik Jakarta padam beberapa saat lalu. Hingga ada ‘sengon hitam’ yang dipersalahkan. Sengon yang nilainya Rp 1 triliun.

“Byar-pet yang terjadi hampir tiap Minggu seperti sekarang, apa ya kelanjutan saja dari peristiwa ‘sengon hitam’ itu to, Kang?,” tanya Dulgembul pada Kang Noyo yang baru duduk dan pesan sego tumpang.

Yang ditanya hanya menggelengkan kepala. Sebab, Kang Noyo sendiri juga bertanya. Jika PLN menyebut masih punya ribuan ‘kopassus’ yang bisa memperbaiki dan memelihara listrik tanpa mematikannya, lalu mengapa masih ada byar-pet di hampir tiap Minggunya? (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia