Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Nyaris Hilang Nyawa karena Iba oleh Anak Kos yang Ditolongnya

24 November 2019, 12: 58: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

jumiah coba dibunuh anak kos

RENTA: Jumiah berjalan di ruang sidang setelah memberikan kesaksian dalam sidang kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Ibarat pepatah air susu dibalas air tuba, seperti itulah cerita nasib yang diterima Jumiah, 60. Warga Jalan Brawijaya, DesaTulungrejo, Kecamatan Pare ini tak hanya mendapat imbalan jahat dari anak kos yang ditolongnya. Bahkan, nyawanya pun nyaris hilang karena berusaha dibunuh oleh anak kos tersebut,

“Dia sudah tiga kali melakukan pencurian,” terang Jumiah, saat bersaksi di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri kemarin (20/11).

Jumiah dihadirkan di pengadilan sebagai saksi korban dalam kasus yang mendudukkan Juan Poltak, 19, sebagai terdakwa itu. Sebelumnya, pemuda asal Jalan Filisium, Desa Helvetia Tengah, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan itu didakwa melakukan percobaan pembunuhan pada Jumiah. Juan melakukan itu karena tepergok saat melakukan pencurian.

Dalam sidang yang diketuai Agus Tjahjo Mahendra itu, Jumiah yakin Juan yang mengambil uangnya. Karena di rumah itu hanya dia dan Juan yang tinggal. Meskipun demikian, Jumiah tidak langsung mengusir Juan. “Saya sudah pernah menasehati namun diabaikan,” imbuhnya.

Menurut Jumiah, Juan datang ke Pare awalnya untuk kursus di Kampung Inggris. Karena persoalan biaya, akhirnya dia tak jadi ikut kursus. Juan akhirnya kos di rumah Jumiah.

Selama dua minggu tinggal di tempat kosnya, laki-laki kelahiran 2000 itu terlihat sebagai pemalas. Selain ketahuan mengambil uang, juga sering ketahuan mengambil makanan ataupun barang-barang lainnya.

Jumiah menceritakan, kejadian terakhir terjadi pada 18 Agustus 2019. Saat itu, Jumiah ke ruang tidur untuk salat. Begitu masuk ruangan, ia merasa ada seseorang yang memukulnya dari belakang. Mulutnya juga disumpal menggunakan kain.

“Waktu itu saya langsung pingsan,” kenang perempuan berkerudung putih.

Setelah dipukul, Jumiah tidak mengingat apa yang telah terjadi. Dia baru tersadar ketika berada di rumah sakit. Setelah itu dia tahu perhiasannya hilang. Yaitu tiga gelang emas dan tiga cincin emas.

 Keterangan Jumiah sempat disangsikan penasihat hukum (PH) terdakwa, Baguw Wibowo. Bagus bertanya bagaimana Jumiah yakin bahwa perhiasan itu dicuri oleh terdakwa. “Bagaimana bisa menuduh terdakwa sebagai pencuri, jangan-jangan dibuat belanja?” tuding Bagus.

Jumiah mengelak dan menolak tudingan itu. Ia menegaskan tidak pernah lupa dengan uang yang telah dibelanjakan. Dia mengatakan, alasan kuat menuduh juan karena dia sempat memergoki anak kosnya itu melakukan pencurian.

Selain Jumiah, saksi lain yang dihadirkan adalah Dedi Agus, tetangga Jumiah. Dedi yang sempat menanyakan keberadaan Jumiah kepada terdakwa. “Ketika saya tanya, jawabnya keluar membawa mukena ke masjid,” terang Dedi.

Dedi menerangkan, sebelumnya tetangganya yang bernama Sudarmi, 60, datang ke rumah Jumiah. Karena sudah janjian ke hajatan bersama-sama. Namun suasana rumah Jumiah dalam keadaan gelap. Panggilan Sudarmi juga tak mendapat respon.

“Saya juga seperti mendengar teriakan saat maghrib,” terangnya.

Namun, menurut Dedi, suara teriakan itu seperti bukan teriakan minta tolong. Karena itu dia mengabaikannya. Namun, karena sampai malam kondisi rumah tetap gelap akhirnya dia masuk paksa ke rumah Jumiah. Saat itu dia juga ditemani beberapa tetangganya.

Begitu pintu berhasil dibuka, mereka kemudian mencari Jumiah. Korban akhirnya terlihat tergeletak di kamarnya. “Kondisinya bersimbah darah” tutur Dedi.

Jumiah kemudian dilarikan ke rumah sakit. Berdasarkan hasil visum et repertum, terdapat luka di beberapa tubuh Jumiah. Luka robek di bagian kepala dan leher, serta di pergelangan tangan.

Terdakwa Juan hanya bisa membenarkan keterangan saksi saat ditanya oleh majelis hakim. Karena masih terdapat saksi lain yang dihadirkan, sidang akan kembali dibuka pada Senin (25/11). Sebelumnya, JPU Ribut Suprihatin menjerat terdakwa dengan dakwaan primer pasal 338 KUHP jo pasal 53 ayat (1) KUHP dan subsider pasal 365 ayat (2) ke-1 dan ke- 4 KUHP.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia