Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features
Yang Berjaya dalam Anugerah Desa (9)

Turun-temurun Jaga Jaga Kelestarian Kesenian

24 November 2019, 12: 12: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

kepala desa gadungan

BERPRESTASI: Kades Gadungan Suprayitno. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Tujuh dusun di desa ini hampir semuanya memiliki kelompok seni jaranan dan bantengan. Itulah yang membuat desa ini mampu mempertahankan eksistensi kesenian yang telah melegenda tersebut.

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Bebunyian yang dihasilkan dari tabuhan gendang, gong, dan alat musik lainnya yang biasa mengiringi tari jaranan sudah terdengar sejak jarak 20 meter. Sumbernya berasal di halaman satu rumah di Dusun Kapasan, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu. Di halaman rumah yang menghadap utara itu berkumpul warga dari berbagai usia. Anak-anak hingga orang tua. Sebagian ada yang hanya menonton. Tapi yang paling banyak terlibat dalam latihan salah satu grup bantengan itu.

bantengan

BERLATIH : Beberapa pemuda berlatih seni bantengan dan caplokan di halaman rumah Khamim, kemarin sore. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Pemilik rumah itu bernama Khamim. Dia sekaligus salah seorang pengurus kelompok bantengan di dusunnya. Rumah Khamim memang biasa dijadikan tempat berlatih. “Biasanya berlatih jika (akan) ada tanggapan,” terang lelaki berumur 47 tahun itu.

Khamim bercerita, kesenian bantengan ini sudah ada sejak ia masih kecil. Bahkan sejak zaman kakek dan neneknya. Mereka bergelut dengan kesenian ini karena kecintaan mereka.

Menariknya, kelompok bantengan milik Khamim bukan satu-satunya yang eksis di Desa Gadungan. Dari tujuh dusun, setidaknya punya satu kelompok bantengan atau jaranan. Di Dusun Kapasan, tempat ia tinggal, ada sekitar empat kelompok bantengan tersebut. “Kalau tidak salah, cuma di Dusun Jatirejo, yang tidak ada kelompok bantengannya,” terangnya.

Hal itulah yang membuat setiap ada hajatan warga sering mementaskan atraksi seni jaranan maupun bantengan. Baik bila ada mantenan ataupun sunatan. “Bahkan pernah ditanggap (disewa, Red) oleh desa lain,” terang Kepala Desa (Kades) Gadungan Suprayitno.

Kades 60 tahun yang karib disapa Yitno itu menjelaskan, dia sendiri juga hobi seni bantengan. Tapi bukan sebagai pemain. Hanya penikmat saja. Karena itu dia juga getol membuat kebijakan yang melestarikan kesenian ini.

Yitno menjelaskan, adanya belasan kelompok bantengan yang aktif di desanya, Pemerintah Desa (Pemdes) Gadungan berusaha melestarikan. Salah satunya melalui acara Agustusan di desa tersebut.

Acara tahunan yang diadakan di lapangan desa itu memang menunjukkan seni beladiri pencak silat. Namun, sebelum pencak silat dimulai tampil lebih dulu kesenian bantengan. “Biasanya sebelum acara pencak silat ada arak-arakan bantengan yang mengelilingi desa. Menuju ke lapangan tempat pencak silatnya,” papar Yitno.

Ke depannya, Pemdes Gadungan sudah memiliki rencana untuk menggabungkan kelompok-kelompok tersebut. Karena hingga sekarang belasan kelompok tersebut berdiri sendiri-sendiri. Dengan penggabungan itu bisa lebih mudah dalam pengoordinasian bila ada acara besar.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia