Selasa, 18 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Perbaikan SDN Mojoseto Diusulkan Tahun Depan

Disdik Menduga Kerusakan karena Tanah Gerak

20 November 2019, 12: 34: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

Sekolah

BERBAHAYA: Salah satu siswa SDN Mojoseto mengecek dinding kelas mereka yang retak dan menyisakan rekahan selebar 1,5 sentimeter. Ruangan itu tidak lagi digunakan karena khawatir bisa ambruk setiap saat. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

GONDANG, JP Radar Nganjuk-Kerusakan enam kelas di SDN Mojoseto baru bisa diperbaiki paling cepat tahun depan. Pasalnya, Dinas Pendidikan (Disdik) Nganjuk baru mengusulkan perbaikan kelas di sana tahun 2020 nanti.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Nganjuk Mokhamad Yasin melalui Kasi Sarana dan Prasarana (Sarpras) Restiyan Effendi mengatakan, dia bersama tim sudah turun ke lokasi kemarin. Hasilnya, keretakan bangunan merata di total sembilan ruangan di sana. Yang terbaru, dinding retak sejak dua minggu lalu. “Paling selatan sebenarnya juga parah,” ujar Restiyan kepada JP Radar Nganjuk, kemarin.

Hasil asesmen tim disdik, lanjut Restiyan, mereka tidak menemukan adanya konstruksi bangunan yang rusak pada proyek rehabilitasi tahun 2018 lalu. Sebab, perbaikan senilai sekitar Rp 300 juta tahun lalu itu tidak menyentuh fondasi. Melainkan, menggarap atap di lima ruangan di sana.

Apakah retaknya dinding itu akibat kelebihan beban atap di ruang kelas? Ditanya demikian, Restiyan membantahnya. Menurutnya, keretakan dinding tidak hanya terjadi di lima ruang kelas yang atapnya direhab tahun lalu. Melainkan terjadi di beberapa ruangan lainnya.

Karenanya,  keretakan dinding kelas di SDN Mojoseto itu karena lokasi gedung itu tanahnya gerak. Menindaklanjuti kerusakan di sana, Restiyan menegaskan, disdik mengusulkan perbaikan sekolah pada tahun 2020 nanti. “Prioritasnya adalah perbaikan konstruksi, struktur bangunannya harus dibenahi lebih dulu,” tegasnya sembari menyebut perbaikan di sana masuk prioritas.

Terpisah, Bendahara CV Pranata Konstruksi Kuncoro berujar, proyek tahun 2018 lalu di SDN Mojoseto hanya mengerjakan atap untuk lima ruang kelas. “Saat pengerjaan sudah 60 persen, pemilik CV Sigit Pranoto meninggal dunia. Proyeknya kami selesaikan sampai tuntas,” urainya.

Terkait dinding yang retak di proyek tahun 2018 lalu, menurut Kuncoro merupakan dinding bangunan lama. Dinding terlihat baru karena dilakukan pengecatan ulang. “Dinding yang retak itu bukan hasil dari pengerjaan kami,” tandasnya.

Dikatakan Kuncoro, pihaknya bersama disdik juga mengecek lokasi SDN Mojoseto, kemarin. “Kami juga menduga tanahnya gerak karena hampir semua bangunan juga mengalami kondisi yang sama,” terang pria berusia 45 tahun ini.

Seperti diberitakan, siswa kelas I-VI SDN Mojoseto harus belajar di luar kelas. Sebab, enam ruang kelas mereka semuanya rusak. Proses belajar mengajar pun dilakukan di teras kelas, musala, dan perpustakaan.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia