Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features
Yang Berjaya dalam Anugerah Desa (7)

Dulu Nominator karena Mobil Siaga, Kini Menang dengan KKS

19 November 2019, 18: 21: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

kepala desa kandat

PEDULI: Kades Kandat Elmy dengan trofi Anugerah Desa. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Pemerintah Desa Kandat punya cara menjaga agar warganya hidup sehat dengan. Di antaranya adalah dengan Kartu Kandat Sehat. Terobosan yang mampu memikat perhatian dewan juri Anugerah Desa 2019.

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri  

Pagi itu, pukul 08.00 WIB. Poskesdes Kandat masih terlihat lengang. Hanya beberapa petugas kesehatan yang mulai mempersiapkan peralatan, baik medis maupun nonmedis.

Anugerah Desa 2019

CEK KESEHATAN: Petugas di Poskesmas Desa Kandat memeriksa kondisi Mat Sayit, warga desa. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Tak berapa lama berselang satu per satu orang berdatangan di poskesdes yang satu lokasi dengan balai desa tersebut. Kemudian duduk mengantre di kursi hijau yang tersedia di depan poskesdes. Di tangan mereka terselip kartu berwarna kuning jeruk.

“Itu KKS (Kartu Kandat Sehat, Red). Dengan kartu itu warga dapat berobat secara gratis,” terang Elmy Yuni Suntari, kepala Desa Kandat.

Perempuan kelahiran 1964 bercerita, KKS mulai diadakan medio 2018. Merupakan kelanjutan dari program layanan mobil siaga yang lebih dulu mengawali. Anggaran awalnya menggunakan dana program hadiah saat mereka jadi nominator kategori desa bidang kesehatan dalam Anugerah Desa 2016. Saat itu dengan layanan mobil siaganya.

Hadiah itu digunakan pemdes untuk mendirikan poskesdes serta KKS. Mulai tahun ini klaim anggaran KKS mulai menggunakan anggaran dari dana desa (DD).

Lalu, mengapa KKS? Menurut Elmy sebelumnya warganya kurang memahami pentingnya kesehatan. Selain itu banyak warga yang merasa kesulitan saat didera sakit. Terutama dalam hal biaya pengobatan. Apalagi jarak puskesmas relatif jauh. Jaraknya sembilan kilometer dari Desa Kandat.

“Kami ingin meringankan beban masyarakat saat mengurusi kesehatannya,” ujar Elmy.

Merencanakan KKS perlu waktu sekitar dua tahun. Terutama untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat. Mereka awalnya mencetak 2 ribu keping kartu. Setiap satu keluarga mendapat satu KKS yang bisa digunakan untuk seluruh anggota keluarga. Di KKS itu tertera nomor kartu keluarga (KK).

Hanya, tidak semua pengobatan penyakit yang bisa ditangani di poskesdes. Penyakit yang berat harus dirujuk ke pelayanan kesehatan lebih tinggi. “Karena keterbatasan biaya, penyakit yang ditangani seperti flu, batuk, dan pengecekan seperti gulah darah hingga kolestrol,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara.

Kebetulan, pagi itu ada seorang warga yang harus dirujuk ke puskesmas. Warga itu, Mat Sayit, 53, menderita penyakit diabetes melitus. Kuku kakinya lepas. Pihak poskesdes itu diminta ke puskesmas agar mendapat rujukan berobat ke rumah sakit.

Secara umum, kehadiran KKS disambut gembira oleh warga. Seperti yang diutarakan oleh Darmati Sutrisno, warga lain yang hari itu tengha cek kesehatan. “Saya sangat terbantu karena jarak rumah dengan puskesmas jauh,” ungkap perempuan 50 tahun itu.

Jarak yang jauh memang jadi kendala bagi wanita yang tinggal di Dusun Galuhan ini. Kendaraan yang dia miliki hanya sepeda kayuh. Karena itu poskesdes dengan KKS-nya jadi andalannya.

Inovasi baru ini sangat bermanfaat bagi warga desa yang masuk wilayah Kecamatan Kandat in. Terutama para lanjut usia (lansia). Apalagi saat datang dan pulang sudah tersedia armada antar-jemput dari pemdes. Juga, ada senam sehat yang digelar rutin di halaman balai desa.

Setelah senam, para lansia ini menjalani pemeriksaan kesehatan satu per satu. Tiap lansia menunjukkan KKS yang telah dimiliki. “Dengan KKS, kami tidak perlu jauh-jauh ke rumah sakit dan membayar untuk memeriksakan kesehatan. Sekarang, cukup dengan datang ke Poskesdes Kandat,” ujar Darmiati.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia