Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Ikan Mahal, Pembeli Berkurang

19 November 2019, 17: 54: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

ikan

PILIH IKAN: Para pedagang di Pasar Setonobetek memilih ikan yang baru datang untuk dibawa ke lapak masing-masing. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Tidak hanya telur ayam yang harganya sangat fluktuatif dalam beberapa hari terakhir. Harga semua jenis ikan pun juga demikian. Bahkan, dalam dua bulan terakhir harga ikan menunjukkan tren naik.

Situasi seperti itu justru tidak menguntungan bagi pedagang. Sebab, seiring dengan naiknya harga ikan, jumlah konsumen mereka langsung menurun.

“Kondisi pasar sepi (pembeli),” aku Ngatiningsih, seorang pedagang ikan di Pasar Setonobetek.

Pedagang yang biasa dipanggil Ning ini mengatakan, dia berdagang ikan bermacam-macam jenis. Semuanya dia dapat dari pedagang besar di Lamongan. Beberapa jenis ikan itu masih terus mengalami kenaikan. Seperti nila yang naik dari semula Rp 32 ribu per kilogram menjadi Rp 35 ribu.

Hal serupa juga dikatakan oleh pedagang lain di pasar yang sama, Amir. Menurut lelaki ini harga ikan mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir ini. “Sudah hampir satu bulan ini harga ikan naik,” ungkap laki-laki 37 ini.

Amir mengaku pasokan ikannya diambil dari Tulungagung. Jenis ikan yang dia jual adalah gurami dan patin. Di lapak miliknya, sebelum mengalami kenaikan harga ikan gurami dijual Rp  34 ribu per kilogram. Namun kini per satu kilogram dijual dengan harga Rp 35 ribu. “Karena banyak tambak surut, ikan jadi sulit,” imbuhnya.

Sulitnya suplai ikan itu terlihat dari stok milik Amir. Dia kini hanya bisa mendapat suplai sekitar 100 kilogram selama sehari. Padahal biasanya bisa lebih dari jumlah itu.

Langkanya ikan serta fluktuasi harga itu, salah satu penyebabnya, adalah faktor cuaca. Menurut Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri, cuaca kali ini menyebabkan produktivitas petani ikan berkurang. Kemudian mendongkrak harga di pasaran.

“Penyebab stok berkurang karena faktor cuaca,” terang Asri Andaryati, plt kepala DKPP.

Asri menjelaskan, karena di Kediri tidak memiliki lahan yang cukup, membuat stok ikan harus mendatangkan dari luar kota. Khusus untuk ikan tawar, kebanyakan mendatangkan dari daerah Lamongan dan Tulungagung.

Saat ini, ketika terjadi kemarau panjang, banyak tambak yang kekurangan air. Yang otomatis membuat panenan ikan para petani juga berkurang. Dalam kondisi normal, ketika cuaca baik, jumlah ikan di pasaran banyak. Dan harganya akan cenderung turun. Sebaliknya, dalam kemarau seperti ini harga memang cenderung naik. Karena tidak ada ikan.

“Namun, meskipun naik, tapi belum naik tajam. Masih wajar,” terangnya.

Berdasarkan survei DKPP, harga beberapa jenis ikan mengalami kenaikan sejak Oktober lalu. Gurami misalnya, saat Oktober lalu harganya masih Rp 43 ribu per kilogram. Namun, masuk Oktober dan November saat ini sudah menjadi Rp 50 ribu per kilogram.

Demikian pula dengan ikan bandeng. September lalu harganya masih berkisar Rp 23 ribu per kilogram. Namun, memasuki bulan berikutnya naik sekitar Rp 2 ribu per kilogram. Harga itu tetap bertahan hingga minggu keempat bulan ini. Sedangkan untuk nila, harga saat ini mencapai Rp 35 ribu per kilogram.

Sementara itu, Kepala UPT Balai Benih Ikan Kota Kediri Sudanto mengatakan, harga ikan di Kota Kediri sangat terpengaruh pada kondisi tambak di daerah lain. Sebab, selama ini kebutuhan konsumsi ikan sangat tergantung pada suplai dari daerah lain. Faktornya adalah tidak ada lahan tambah di Kediri. Terutama untuk jenis ikan konsumsi.

“Di wilayah Kediri kebanyakan membudidaya ikan hias,” terang Sudanto.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia