Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Telur Bercangkang Tipis Dijual Lebih Murah

18 November 2019, 18: 25: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

telur kediri

KURANG PRODUKTIF : Suasana salah satu kandang milik peternak di Dusun Temboran, Desa Plaosan, Kecamatan Wates. Cuaca dan harga pakan membuat harga telur naik. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Harga telur ayam masih mengalami flutuasi dalam beberapa hari terakhir. Setelah sempat mengalami kenaikan hingga Rp 21 ribu hingga Rp 22 ribu, kemarin harganya mulai turun. Di beberapa pasar tradisional, pedagang ada yang menjual dengan harga eceran Rp 20 ribu per kilogram.

Salah satunya di Pasar Sambi, Kecamatan Ringinrejo. Salah seorang pedagang, Eko Wahyudi, 44, mengatakan harga telur mengalami sedikit penurunan kemarin.

“Puncak peringatan Maulid Nabi harga sempat melonjak naik. Namun, beberapa hari ini harga turun dengan selisih hanya Rp 1.000,” terangnya.

Bagi Eko, kenaikan maupun penurunan harga yang terjadi tidak mempengaruhi hasil penjualannya. Saat harga telur naik beberapa minggu yang lalu, peminatnya juga masih stabil. “Karena kenaikan ini (telur,Red) masih normal,” akunya.

Justru, sambung Eko, dia harus bersaing dengan para penjual telur di jalanan. Sebab, mereka berani menjual sangat murah. Dengan selisih hampir Rp 3 ribu per kilogram. Namun, dia mengingatkan, yang dijual para pedagang jalanan itu kualitas telurnya di bawah yang dijualnya. Warnanya lebih putih dan cangkang telurnya lebih tipis.

Sementara, di Pasar Kras, harga telur lebih mahal. Masih berada di kisaran Rp 20.500 per kilogram. “Awalnya mencapai Rp 21.000 itupun dengan kualitas bagus,” ujar Sri Yuliastutik,37, warga Desa/Kecamatan Kras.

Menurutnya, meski harga telur mengalami kenaikan permintaan masih tinggi. “Karena memang kebetulan bertepatan dengan Maulid Nabi. Dan akhir-akhir ini juga banyak orang punya gawe (nikahan, Red),” ungkapnya kepada koran ini.

Sementara itu, para peternak ayam petelur mengakui, melonjaknya harga telur dalam beberapa hari terakhir tak hanya disebabkan faktor cuaca. Tapi juga melonjaknya harga pakan.

Darwati, peternak ayam petelur di Dusun Temboro, Desa Plaosan, Kecamatam Wates, mengatakan naiknya harga telur merupakan imbas dari kenaikan harga pakan. Kenaikan harga pakan itu sudah terjadi beberapa hari lalu. Semula, harga satu karung pakan ayam adalah Rp 330 ribu. Namun kemudian naik menjadi Rp 336 ribu.

"Harga pakan naik, mau tidak mau telur juga kami naikkan biar tidak merugi," ujarnya menyampaikan dalih.

Menurut wanita empat puluhan tahun ini, dia harus memutar otak agar bisa menyukupi makanan bagi 5 ribu ekor ayamnya. Karena itulah harga telur kemudian wajar bila mengalami  kenaikan.

Tapi Darwati juga membenarkan bila faktor cuaca juga mempengaruhi. Dengan cuaca seperti sekarang ini produktivitas ayamnya mengalami penurunan. Bahkan bisa dibilang turun drastis dibanding hari-hari biasanya. Biasanya, dalam sehari seribu ekor ayam bisa menghasilkan elur sebanyak 70 kilogram. Kali ini hanya bisa 50 kilogram saja.

Padahal permintaan di pasaran tetap banyak. Sementara stok mereka menurun. Akhirnya terjadi kenaikan harga telur. "Permintaan pasar memang cukup tinggi belakangan ini, sedang stok habis. Jadi kami naikkan akhirnya," aku Darwati.

Selain menurunnya produksi, cuaca juga membuat kualitas telur menurun. “Cuaca sangat berpengaruh, telurnya jadi nggak coklat tapi putih,” tutur Darwati.

Padahal, telur dengan warna putih itu kualitasnya di bawah yang warna coklat. Cangkangnya lebih tipis. Harga jualnya pun lebih murah. Selisihnya mencapai Rp 3 ribu per kilogramnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia