Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features
Yang Berjaya dalam Anugerah Desa 2019 (5)

Lebur Karang Taruna Dusun Menjadi Satu

18 November 2019, 18: 09: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

anugerah desa puncu

SEMANGAT MUDA: Kades Puncu Hengki Dwi Setiawan menunjukkan trofi Anugerah Desa di kantornya, Jumat lalu (15/11). (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

Pemerintah desa ini tahu betul potensi pemudanya. Dari semula berdiri sendiri di masing-masing dusun, mereka kini tergabung di karang taruna desa. Hasilnya, banyak program ditelurkan. Pengembangan usaha sampai keagamaan.

ANWAR BAHAR BASALAMAH, Kabupaten, JP Radar Kediri

Pemerintah Desa/Kecamatan Puncu menamai program mereka “Getar Jiwa”. Yakni Gerakan Karang Taruna Beriman dan Bertakwa. “Kami membuat gerakan untuk para pemuda di sini,” kata Kepala Desa (Kades) Puncu Hengki Dwi Setiawan saat ditemui koran ini di kantornya, Jumat lalu (15/11).

sepatu

KREATIF: Anggota karang taruna dengan produk unggulannya. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Sebagai mantan ketua karang taruna, Hengki –sapaan kades ini–tahu potensi pemuda di desanya. Dulu, setiap dusun punya karang taruna sendiri. Ada karang taruna di Dusun Puncu, Laharpang, Sukomoro, Pugeran, Margomulyo, dan Mangli.

“Semuanya aktif. Tapi masih di dusun. Saya sendiri dulu ketua (karang taruna) di Pugeran,” kata pria kelahiran 16 September 1985 ini.

Melihat kondisi tersebut, sejak menjabat kades pada 2017 lalu, Hengki ingin karang taruna di dusun dilebur menjadi satu. Pasalnya, meski berada di satu desa, tidak semua pemuda antardusun saling mengenal.

“Waktu nonton dangdutan terus tiba-tiba senggolan, lalu mau berantem, akhirnya tidak jadi. Karena sudah kenal,” ujarnya seraya tertawa.

Namun, sebenarnya bukan itu alasan utama Hengki meleburkan organisasi karang taruna di desanya. Sebagai desa yang berada di kaki Gunung Kelud, dia melihat banyak potensi yang bisa dikembangkan lewat karang taruna.

Karena itu, ketika menjadi karang taruna desa, kegiatan menjadi lebih masif. Semua pemuda bisa dilibatkan di setiap kegiatan. Meski begitu, karang taruna yang sudah terbentuk di dusun juga tetap aktif. “Di tingkat desa berjalan. Di dusun juga aktif,” ungkap Hengki.

Setelah dibentuk dua tahun lalu, karang taruna desa yang diberi nama “Mahardika” itu kini diketuai Suhendro. Lewat “Getar Jiwa”, mereka sudah banyak menelurkan program-program kreatif. Mulai dari pengembangan usaha, bakti sosial, dan keagamaan.

Di bidang usaha, Hengki menuturkan, karang taruna di desanya punya pengembangan tanaman anggrek di Dusun Sukomoro. Tanaman tersebut dikembangkan dengan konsep green house. Hasilnya, beberapa petani sudah mampu menjualnya ke pasaran. “Hasilnya lumayan. Beberapa orang dari luar Puncu datang ke sana (green house),” papar bapak dua anak ini.

Selain anggrek, mereka juga memiliki usaha daur ulang limbah kayu kopi. Di tangan pemuda Puncu, limbah tersebut disulap menjadi bunga hias yang biasa dipajang di kantor atau dalam rumah.

Hengki mengaku, hasil usaha tersebut dijual di sekitar Desa Puncu. Harganya bervariatif. Dari yang paling murah Rp 75 ribu sampai termahal Rp 200 ribu per buah. “Lumayan. Bisa menambah penghasilan pemuda desa,” katanya bangga.

Untuk kegiatan bakti sosial, lanjut Hengki, setiap Jumat Legi, karang taruna mengadakan kegiatan santunan anak yatim dan keluarga tidak mampu. Kegiatan tersebut dipusatkan di Dusun Sukomoro.

Adapun keagamaan, ada rutitinitas menggelar tahlilan setiap Jumat malam. Menurut Hengki, tahlilan tersebut untuk mendoakan para leluhur mereka. “Ada dusun yang rutin menggelarnya. Di Laharpang dan Sukomoro,” ungkap kades muda ini.

Hengki menyebut, total ada sekitar 150 orang yang aktif di karang taruna. Namun, jumlah tersebut masih bisa bertambah ketika ada kegiatan desa. “Bisa sampai 250 orang. Usianya antara 16 tahun sampai 40 tahun. Paling banyak di usia 20 tahunan,” ucapnya.

Makanya, tidak salah apabila Desa Puncu mendapatkan penghargaan sebagai desa terbaik bidang pembinaan anak muda. Pemerintah desa mampu merangkul dan menggali potensi para pemuda di setiap dusun. Sehingga, mereka menjadi kreatif dan mandiri.

Ke depan, menurut Hengki, pemerintah desanya akan mengembangkan bidang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan wisata. Sebagai rintisan, mereka sudah punya usaha rajut dan sepatu goni. Bahkan, produk tersebut beberapa kali diikutkan pameran.

Di bidang wisata, Desa Puncu sangat potensial. Hengki mengatakan, bersama para pemuda, pemerintah desa menyiapkan jalur pendakian ke Gunung Kelud lewat jalur puncu. Berbeda dari jalur Ngancar yang sudah beraspal. Dari Puncu, pendaki akan mendapati jalan yang lebih terjal.

“Tentu saja pemandangannya sangat bagus. Kami menyiapkan beberapa spot selfie dengan pemandangan gunung (Kelud),” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia