Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
REKIAN

Belajar Menguliti Bambu ke Bandung

18 November 2019, 18: 03: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

REKIAN

Oleh: Rekian (radarkediri.id)

Share this          

“Memang harus ada kepedulian yang tinggi untuk mewujudkan wisata yang baik. Walau yang diangkat hanya satu nama, yakni, bambu.”

Saya termasuk golongan yang menyepelekan bambu. Yang kita tahu, negeri tirai bambu itu adalah Tiongkok. Negara yang kini perekonomiannya melesat karena kemampuannya menciptakan produk dari ATM (Amati, Tiru lalu Modifikasi). Belum pernah saya mendapat barang yang bahan dasarnya bambu buatan Tiongkok.

Di kepala saya, bambu selama ini hanya digunakan untuk membuat kursi, meja, tirai, kandang dan gazebo. Paling bagus untuk angklung atau dibuat sayuran dari rebung. Tidak pernah terlintas, kalau bambu memiliki nilai ekonomi tingkat dewa. Saya mendapat pelajaran berharga itu di Bandung, Jawa Barat pada awal November lalu saat gathering bersama PT Gudang Garam Tbk.

Kota Kembang ini tidak hanya menyimpan ragam sejarah, tapi juga wisata buatan yang bisa di-ATM daerah lain. Fokus wisatanya adalah bambu. Di sana, ada perkampungan bernama Dusun Bambu. Lokasinya jauh dari kota. Alamat lengkapnya ada di Jalan Kolonel Masruri KM 11, Cisarua, Bandung Barat. Betapa banyaknya ilmu yang bisa diserap dari kampung ini untuk pengembangan wisata.

Meski lokasinya jauh dari kota, kampung ini tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan, pada malam tahun baru, satu malam kunjungannya tembus 15 ribu wisatawan. Jika dikalikan tiket masuk per orang Rp 30 ribu, maka di malam pergantian tahun, pengelola Dusun Bambu bisa meraup pundi-pundi uang hampir setengah miliar.

Lokasinya memang dikonsep agar setiap pengunjung yang datang tidak ke mana-mana. Karena itu, tempatnya berada di pinggir jauh dari kota. Sekali masuk, minimal pengunjung membawa uang Rp 250 ribu. Karena di tengah kawasan rumpun bambu itu disediakan tempat untuk makan yang berada di atas danau buatan. Selain menawarkan kesejukan, Dusun Bambu memberikan suasana romantis bagi anak-anak muda yang ingin berswafoto.

Di tepi danau yang dikelilingi bambu ini ada bangunan rumah terbuat dari kayu dan bambu. Konsepnya tidak melulu untuk anak muda tapi juga keluarga. Sebab itu, tempat ini tidak pernah sepi pengunjung. Pertanyaannya, kenapa tempat ini selalu ramai, kalau hanya ada danau buatan yang dikelilingi rumpun bambu di daerah lain juga banyak?

Wawan Dandawan Margadipradja lah yang kemudian menjawab pertanyaan itu. Tidak mungkin tempat yang dikelolanya ramai jika tidak ada sesuatunya. Yang paling penting katanya adalah dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Meski tak dijelaskan secara detail, saya menangkap tak mungkin pariwisata bisa berjalan baik bila pemerintahnya ribet atau tak peduli. Memang harus ada kepedulian yang tinggi untuk mewujudkan wisata yang baik. Walau yang diangkat hanya satu nama, yakni, bambu.

Apa yang saya lihat, wisata ini tidak hanya menyajikan suasana dan makan saja. Yang tidak dimiliki tempat lain adalah penggabungan seni, budaya dan olahraga. Betapa tidak, kawasan penuh bambu ini memiliki fasilitas yang lengkap. Di tengah-tengah areal tanaman bambu itu ada lokasi outbound. Mereka yang datang berkelompok bisa menikmatinya. Disediakan instruktur keren dan masih muda-muda selama bermain outbond.

Sebelum rombongan masuk ke lokasi outbound sudah ada tim berpakaian adat Sunda memainkan alat musik dari bambu disertai dengan permainan egrang. Saya belum pernah datang ke lokasi outbound disambut dengan seni tradisional seperti itu. Baru kali ini. Rasanya masih membekas. Kesannya keren, santun dan santuy (santai).

Saat hendak keluar dari kawasan rimbunan bambu itu, Wawan lalu mengenalkan musik dan suara dari bambu. Alat-alat yang mereka ciptakan itu bisa laku jutaan rupiah bila dijual per unitnya. Alat-alat musik yang dimainkan cukup menarik minat pengunjung. Alunannya mistis, jadi terkesan horor. Alunan suaranya murni dari kayu sebagian dari bahan kerang. Untuk spot swafoto jangan ditanya, tempatnya ada di mana-mana yang disusun dan dirakit dari bambu membentuk gambar burung atau gerbang masuk ke lokasi wisata.

Tidak hanya di Dusun Bambu, pemanfaatan bambu juga kembangkan oleh Saung Angklung Udjo (SAU). Berada di Jalan Padasuka 118, Bandung, saung angklung ini tidak hanya mempertontonkan manfaat angklung sebagai alat musik. Tapi juga mengajak semua pengunjung untuk ikut serta bermain. Di sinilah kelebihan dari SAU yang didirikan Udjo pada tahun 1966. Selain menampilkan atraksi yang seluruhnya terbuat dari bambu, mereka juga mempertunjukkan ragam seni budaya dari tari sampai pertunjukan wayang golek.

Dan yang paling susah dilupakan adalah praktik bermain angklung. Bermain angklung secara massal adalah cara paling jitu mengajak pengunjung untuk mengenali angklung sebagai budaya asli Indonesia. Kiranya, wisata yang ada di Bandung itu bisa diterapkan di Kediri atau Nganjuk pastilah banyak manfaatnya. Selain menjadikan tanaman ini sebagai penghalang longsor, juga mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat dan menambah pendapatan daerah. Tentu bisa dilakukan dengan model ATM dan didukung oleh pemerintah daerah dan masyarakat. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia