Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Kekeringan Meluas ke Jarakan, BPBD Akan Cek Dumas

18 November 2019, 17: 57: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

kekeringan kediri

REALISASI BANTUAN: Adi Sutrisno (kiri) ikut mendampingi petugas yang mengirim air bersih di Lingkungan Tumpang, Pojok, Mojoroto, Rabu (13/11). (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Kekeringan di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, berpotensi meluas ke wilayah rukun warga (RW) lain. Setelah ada pengaduan masyarakat, kekurangan air bersih juga dikabarkan dialami warga Lingkungan Jarakan.

Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri masih mengecek pengaduan tersebut. Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kediri Adi Sutrisno mengaku, ada laporan kekurangan air di RW 03/RT 13. Pemukiman tersebut berada di Lingkungan Jarakan.

“Kami baru saja mendapatkan dumas (pengaduan masyarakat). Ada yang kekeringan lagi,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Untuk memastikan laporan tersebut, Adi menyatakan, BPBD akan melakukan asesmen ke sana. Hal itu untuk memastikan jumlah kepala keluarga (KK) yang membutuhkan air bersih. “Hari ini (kemarin, Red) kami asesmen ke Lingkungan Jarakan,” ungkapnya.

Kemarin, BPBD masih men-dropping air bersih ke Kelurahan Pojok. Adi mengungkapkan, total ada tiga rukun tetangga (RT) yang mendapat kiriman. Yakni RT 22, RT 23, dan RT 24. Untuk RT 25 yang sebelumnya mendapat bantuan, kemarin sudah dihentikan. “Sekarang hanya tiga RT,” ujarnya.

Adi menambahkan, ada satu tangki air atau 5.000 liter yang dikirim ke tiga RT. Sebelumnya, di empat RT, BPBD mengirim dua tangki. Setelah satu tangki didistribusikan, truk milik perusahaan daerah air minum (PDAM) balik lagi untuk mengambil air.

Untuk diketahui, total empat RT yang mendapat kiriman air bersih sebanyak 376 kepala keluarga (KK). Rinciannya, di RT 22 sebanyak 102 KK, RT 23 (114 KK), RT 24 (80 KK), dan RT 25 (79 KK).

Masing-masing KK mendapatkan pasokan air minimal 30-50 liter. Bantuan tersebut digunakan untuk kebutuhan mandi, masak, cuci baju, kebersihan rumah, air minum, dan keperluan ibadah.

Meski sebagian besar mendapatkan bantuan air bersih, Adi menjelaskan, ada beberapa sumur warga yang belum kering. Sehingga, mereka menggunakan sumur tersebut untuk kebutuhan keluarga. “Ada di RT 22, 23, dan 24. Debit airnya masih tinggi,” jelasnya.

Bahkan, tidak semua warga menggantungkan bantuan air bersih dari BPBD. Di RT 23, kata Adi, warga membuat sumur bor sendiri di pekarangan mereka. Dengan kedalaman sekitar 33 meter, air tanah mampu memenuhi kebutuhan untuk satu KK. “Hanya untuk kebutuhan sendiri,” imbuhnya.

Lebih jauh, Adi mengatakan, pihaknya masih terus mengirim air bersih di Lingkungan Nglebak dan Tumpang. Rencananya, dropping akan dilakukan pada Senin besok (18/11). “Kami kirim ke tiga RT. Bisa juga tambah ke Jarakan. Tergantung hasil asesmen,” paparnya.

Kekeringan di Kelurahan Pojok tahun ini menjadi yang terparah selama dua tahun terakhir. Agar kekeringan tidak terjadi di tahun mendatang, warga mengusulkan pembuatan bor di masing-masing RT. Usulan tersebut disampaikan anggota DPRD Kota Kediri yang datang ke sana pada Rabu lalu (13/11).

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia