Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Giliran Brambang Naik Harga

16 November 2019, 14: 03: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

bawang merah kediri

SEBAR SI MERAH: Pekerja di lapak milik Munawaroh mengeluarkan bawang merah dari karung sebelum dikeringkan, kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Sepertinya, akhir tahun menjadi saat yang menggelisahkan bagi para ibu rumah tangga. Penyebabnya, harga-harga kebutuhan pokok mulai mengalami kenaikan. Setelah telur yang melonjak tinggi, giliran bawang merah (brambang) yang harganya terkerek.

Di tingkat pedagang besar (tengkulak) harga brambang saat ini sudah mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 23 ribu per kilogram. Padahal, beberapa hari sebelumnya masih di kisaran Rp 18 ribu per kilogram.

Lalu, apa penyebab harga brambang yang melejit itu? Menurut Plt Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih, penyebabnya adalah mulai berkurangnya stok bawang merah. Sementara di sisi lain tingkat konsumsi masyarakat masih sama. Tidak ikut mengalami penurunan.

“Jika dilihat trennya sepertinya memang ada penurunan pada produksi (bawang merah),” kata Tutik ketika dihubungi kemarin.

Penurunan produksi tersebut, menurut Tutik, karena beberapa sebab. Salah satunya adalah karena belum masa panen raya. Meskipun saat ini ada yang telah memasuki masa panen tapi tidak secara bersamaan. Hanya di beberapa petani saja. Sehingga jumlahnya juga tak terlalu besar.

Menurutnya, jumlah stok brambang tak hanya ditentukan oleh sentra-produksi di Kediri saja. Tapi juga terkait dengan kondisi petani brambang di tempat lain. Sementara sentra produksi bawang merah ini tersebar di banyak tempat. Bila salah satu mengalami penurunan produksi akan berpengaruh pada stok di daerah lain. Bahkan akan mempengaruhi harga di tingkat nasional.

“Bawang merah tidak hanya dilihat di Kediri saja. Namun juga daerah sentra seperti Brebes (Jateng) atau Banyuwangi,” terangnya.

Selain faktor petani yang belum panen raya, menurunnya produksi juga dipengaruhi kondisi cuaca. Saat ini, meskipun hujan sempat turun tapi dengan curah yang tak terlalu tinggi. Membuat tanah menjadi kering dan kebutuhan air untuk tanaman brambang juga kurang. Kondisi itu membuat pertumbunan tanaman tersebut jadi terhambat. Imbasnya adalah pada jumlah panenan yang menurun. Ditambah lagi, petani di Kediri juga belum mengalami puncak panen saat ini.

Sementara itu, kenaikan harga bawang merah ini diakui oleh para pedagang di beberapa pasar. Seperti yang dikatakan oleh Mumut, 45, pedagang bawang merah di Pasar Induk Pare.

Kenaikan itu sudah mulai terasa sejak Sabtu (9/11). Menurut Mumut, sejak saat itu harga brambang terus mengalami kenaikan. Pedagang ini tak bisa memperkirakan kapan harga brambang bisa kembali turun. Hanya saja, biasanya harganya bisa turun bila petani mengalami panen raya.

Masih menurut Mumut, kenaikan harga ini tak terlalu memengaruhi omzet hariannya. Sebab, jumlah pembeli yang ke lapaknya juga tak berubah. Sementara stok yang dia siapkan juga tak terlalu banyak. “Saya stok (bawang merah) tidak banyak. Hanya dua karung saja,” aku Mumut yang mengaku menyediakan stok bawang merah dengan ukuran sedang ini.

Berdasar keterangan pedagang ini, satu karung beratnya sekitar 60 kilogram. Hanya, dia tidak bisa memastikan stok itu habis dalam berapa lama. Karena permintaan pedagang kecil yang dia layani juga berbeda-beda setiap harinya.

Pedagang lain di pasar yang sama, Munawaroh, 60, juga mengatakan hal serupa. “Karena panen berkurang, jadi harga menjadi mahal,” akunya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia