Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Mahalnya Telur Diduga karena Faktor Ini

16 November 2019, 12: 30: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

harga telur

MAHAL: Sri Widiarti, pedagang di Pasar Setonobetek, membungkus telur dagangannya kemarin. Harga komoditas ini mengalami kenaikan harga hampir setiap hari. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Harga telur terus mengalami kenaikan hingga kemarin. Bahkan, kenaikan harga bisa terjadi dua kali dalam sehari. Faktor cuaca diperkirakan menjadi salah satu penyebab kondisi ini. Cuaca panas yang tiba-tiba berubah jadi mendung membuat produktivitas ayam bertelur berkurang. Sementara, permintaan di pasaran terus mengalami kenaikan.

Kemarin (14/11), harga eceran di pasaran bisa mencapai Rp 22.500 per kilogramnya. Padahal, tiga hari sebelumnya harga masih di kisaran  Rp 18.500 per kilogramnya.

Beberapa pedagang yang ditemui Jawa Pos Radar Kediri mengatakan konsumen sempat shock dengan kenaikan drastis seperti itu. Yang juga sempat mempengaruhi keinginan mereka untuk membeli. Untungnya kondisi seperti itu tak berlangsung lama.

“Waktu pertama (harga naik) jadi kaget. Kalau sekarang sudah stabil untuk penjualannya,” aku Sri Widiarti, 42, pedagang telur di Pasar Setonobetek, kemarin.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos  Radar Kediri, kenaikan harga telur mulai terjadi setelah hari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (9/11) lalu. Saat itu kebutuhan telur memang meningkat karena konsumsi bertambah. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, tradisi selamatan di berbagai pelosok ikut mengerek harga telur.

Masih menurut Wiwid, panggilan sang pedagang, permintaan telur masih akan mengalami kenaikan. Sebab, setelah peringatan Maulid Nabi, yang akan dihadapi masyarakat adalah perayaan Natal dan Tahun Baru.

Untungnya, soal pasokan telur masih mencukupi. Sri mengatakan masih mendapatkan kiriman dalam jumlah yang sama dari suplier. “Namun untuk pasokan telur masih sama. Saya mengambil dari kandang yang berada di Wates,” terang Wiwit.

Selama ini, bila tak ada lonjakan tajam, Wiwit menyiapkan hingga 400 kilogram telur sebagai persediaan. Stok sebanyak itu biasanya untuk persediaan selama tiga hari. Meskipun harga naik seperti sekarang ini, tingkat penjualan Wiwit masih stabil di angka itu.

Soal kenaikan harga itu juga diakui oleh pedagang lain di pasar yang sama, Joko Widodo. Pedagang 56 tahun itu tak tahu kondisi seperti ini berlangsung hingga kapan. “Setiap hari harga telur naik. Turun tidak pasti,”kata Joko.

Sama seperti Wiwit, meski harga telur mengalami kenaikan permintaan masih tinggi. Terutama bagi konsumen yang sudah berlanganan. Menurutnya meski mahal, telur mesih banyak dibutuhkan sebagai salah satu bahan pokok.

Sementara itu, dinas perindustrian dan perdangan (disperindag) mengatakan bahwa kenaikan harga telur dikarenakan faktor cuaca. Kepala Disperindag Yetty Sisworini, melalui Kasi Pengendalian Barang dan Jasa Disperindag Yongki mengatakan, saat ini sering terjadi cuaca panas yang secara tiba-tiba berganti mendung dan hujan. “Ini mempengaruhi produksi ayam telur,” terang Yongki ketika dikonfirmasi.

Yongki menambahkan, meningkatnya harga telur masih dinilai dalam tahap wajar. Masih mampu dijangkau oleh masyarakat. Sedangkan dari sisi peternak, kenaikan ini menambah keuntungan mereka.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia