Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Kekeringan di Pojok: Minta Sumur di Tiap RT

14 November 2019, 18: 06: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

kekeringan pojok

TUNGGU GILIRAN: Warga Pojok antre menunggu giliran mendapatkan jatah air untuk keperluan mereka sehari-hari. Kekurangan air bersih menjadi problem warga Pojok setiap musim kemarau. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Warga Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, berharap ada solusi jangka panjang mengatasi problem kekeringan yang tiap tahun mendera mereka. Solusi itu adalah pembuatan sumur baru. Tak tanggung-tanggung, warga meminta ada sumber air di tiap rukun tetangga (RT).

Ketua RT 25 RW 05 Kelurahan Pojok Ahmad Kudori Muslih mengatakan, setiap kemarau panjang, lingkungannya selalu mengalami kekurangan air bersih. Penyebabnya karena Sumber Tretes debitnya turun. Padahal sumber air yang dibangun pada 1989 itu merupakan satu-satunya sumber air bagi mereka.

“Kalau debit menyusut, kami kekurangan air bersih,” kata Kudori kemarin.

Untuk jangka pendek, warga menerima bantuan air bersih. Namun dia mendesak pemerintah memikirkan solusi jangka panjang. Sehingga setiap kemarau datang, warga tidak kesulitan air. “Kami minta pengeboran air di RT 25,” pintanya.

Dia menambahkan, sebenarnya survei pencarian sumber mata air sudah pernah dilakukan oleh dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR). Akan tetapi warga belum mengetahui tindak lanjutnya. “Apakah jadi dibangun atau tidak, kami tidak tahu,” kilah Kudori.

Tahun depan, Kudori mengatakan, RT-nya mengajukan pembangunan tandon air di depan masjid di Lingkungan Tumpang. Anggaran diajukan lewat program pemberdayaan masyarakat (Prodamas). Tandon tersebut nanti bisa dimanfaatkan warga untuk mengambil air. “Hanya untuk kebutuhan sesaat,” katanya.

Sementara menurut Direktur PDAM Tirta Dhaha Kota Kediri Gatot Supriyono, pengeboran air di Lingkungan Nglebak-Tumpang butuh anggaran mencapai Rp 200 juta. Sebab, untuk mendapat sumber air, butuh kedalaman pengeboran sampai 150 meter. “Kira-kira anggarannya 200 juta (rupiah). Jadi kalau dari prodamas, tidak cukup untuk membuat pengeboran,” katanya.

Selama ini, pengeboran di lingkungan tersebut hanya punya kedalaman sekitar 40 meter. Sehingga sumber airnya masih berupa air permukaan. Begitu kemarau panjang, debit airnya berkurang. “Jadi lebih baik dibor dalam sekalian. Air akan tetap tersedia,” ujarnya.

Untuk diketahui, BPBD Kota Kediri kemarin kembali melakukan dropping air di Kelurahan Pojok. Ada empat RT yang mendapat bantuan air bersih. Total jumlah warga yang terdampak sebanyak 392 kepala keluarga (KK). Rinciannya, RT 22 sebanyak 107 KK, RT 23 (110 KK), RT 24  (75 KK) dan RT 25 (100 KK).

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kediri Adi Sutrisno mengakui warga di empat RT tersebut sangat membutuhkan air bersih. Karenanya, dari rencana awal pengiriman satu truk tangki atau setara 5 ribu liter, BPBD mengirim dua tangki. “Karena armada hanya satu, kami kirim bolak-balik. Jadi setelah habis, kami ambil lagi air ke bawah (PDAM),” terangnya.

Dengan kiriman dua tangki, menurut Adi, satu KK bisa mendapat jatah sampai sembilan bak. Meskipun jumlah tersebut hanya bisa dipakai habis selama dua hari saja. “Warga biasanya menggunakan untuk mandi, masak, cuci baju, bersih-bersih rumah, air minum, dan keperluan ibadah,” urainya.

Kemarin, anggota DPRD Kota Kediri juga ikut terjun ke lapangan. Keduanya adalah Wakil Ketua Firdaus alias Edo dan Ketua Komisi B Erita. Mereka menemui warga di empat RT.

Edo mengatakan, pihaknya sudah menampung aspirasi dari warga soal pembuatan sumber air lewat pengeboran. Karena itu, dewan akan segera menyampaikan masukan ke pemkot. “Supaya kekeringan di Pojok tidak terjadi berulang setiap tahun,” kata politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia