Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

-- Chef Get --

14 November 2019, 17: 56: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

sego tumpang chef get

sego tumpang chef get (radarkediri.id)

Share this          

“Nerakane bocor,” ucap Dulgembul pagi itu. Bagaimana tidak, jam masih menunjukkan pukul 07.00 WIB. Tapi, panasnya sudah seperti pukul 10.00-an. “Saauumuukk..,” keluhnya sambil menyingkap kaos hingga ke dada.

Ketiga alias kemarau memang datang lebih lama. Bulan sudah mulai ‘ber-beran’ –September, Oktober, November—tapi air belum juga nggrojok dari langit. Padahal, normalnya, bulan ini sudah bras-bres. Apalagi nanti Desember, gede-gedene sumber. Lalu Januari, hujan sehari-hari.

Ndak cuma siang yang the hot is potatoes alias panasnya kenthang-kenthang. Tapi, malam pun the hot is not public alias sumuk-nya ndak umum. Makanya, Dulgembul yang badannya segede gajah abuh mesti ndak betah. Kalau tidur pilih di lantai. Dengan baju atas yang terbuka. Perut ditempelkan ke lantai. Biar adem.

“Piye to iki Mbok…,” keluhnya lagi. Seolah sudah tidak betah. Padahal, jangankan neraka bocor, Gunung Kelud mbledhos saja dia lari pontang-panting.

“Sidamu dadi awu kalau sampai kepletikan material neraka, Mbul…,” komentar Mbok Dadap yang masih sibuk ngudek sambel tumpang di pawonan.

Hawa panas bin saumuk begini memang bikin otak gampang umup. Semremet. Emosional. Ya kalau semremet-nya itu malah mengundang uang. Seperti koki ‘sok kabeh’ yang sedang viral akibat atraksi ngamuknya itu. Orang-orang di dekatnya malah dibikin ketawa-ketawa.

Lha kalau emosionalnya seperti Dulgembul, sembarang-mbarang bisa diemplok. Apalagi jika hawa yang the hot is potatoes seperti sekarang ditambah dengan menghangatnya suhu pilkada. Justru di saat panasnya hawa pilkades belum sepenuhnya mereda.

Yang bikin menghangat itu adalah gorengan-gorengannya. Wong namanya juga politik. Tanpa intrik, rasanya kurang menggelitik. Intrik-intrik itulah yang mulai dimainkan. Goreng sana, goreng sini. Biar aromanya makin tercium. Mengundang orang untuk datang. Meskipun orang-orang yang berada di dekat wajan bisa kepanasan.

Tapi, itulah pekerjaan koki. Chef. Yang memang harus berdekat-dekat dengan kompor dan api. Agar masakan yang disajikan pas. Rasa maupun aromanya. Makanya, pasokan bahan dan bumbu-bumbu pun harus lancar. Dari para asisten chef.

Dan chef yang baik adalah yang mampu memperhitungkan bahan dan bumbu yang tersedia. Ada bahan apa, bumbu apa, akan dimasak bagaimana. Untuk disajikan kepada siapa. Disajikan kepada siapa itulah yang tak kalah penting. Sebab, seserius apapun, selezat apapun olahannya, ketika disajikan kepada orang yang tak berselera sama, ya ndak akan dapat jempol lima. Coba saja hidangkan menu Eropa kepada Matkriting yang berselera tumpang forever. Bisa dilepeh-lepeh.

Masalahnya, chef-chef politik biasa berpedoman pada buku resep ala Harold Dwight Lasswell, ilmuwan politik Harvard itu. Yang mengartikan politik sebagai ‘siapa, mendapat apa, kapan, dan dengan cara bagaimana’. Pada rumus ‘mendapat apa’ itu yang dalam praktik politik sehari-hari diartikan mendapat keuntungan apa untuk dirinya.

Ya, mendapat apa untuk dirinya. Bukan memberi apa untuk masyarakat luas, minimal konstituennya. Demi mendapat apa itulah apapun akan dilakukan. Padahal, jika ‘get’ dalam definisi Lasswell itu diubah menjadi ‘give’ hasilnya bisa berbeda. Bukan ‘who gets what, when, and how.’ Akan tetapi, ‘who gives what, when, and how.’

Get lebih berorientasi kepada diri dan kelompok. Sementara, give lebih berorientasi kepada orang lain dan masyarakat luas. Get bisa terseret untuk fokus pada penghancuran lawan politik agar menang. Sedangkan give akan lebih mendorong pada penguatan sediaan alternatif tawaran agar menang.

Get ibarat chef yang akan fokus memakai fitnah, kampanye hitam, kampanye negatif, bahkan santet dan guna-guna agar dagangan lawannya tak laku. Sedangkan give ibarat chef yang lebih fokus bagaimana membuat dan memasarkan olahan masakannya agar bisa diterima oleh lebih banyak orang dibanding olahan lawannya. 

Chef yang berilmu ‘give’ memang ingin memberikan sesuatu kepada orang lain. Sementara, chef yang berilmu ‘get’ ingin mendapatkan sesuatu.

“Chef-chef berilmu give itu yang sepertinya belum kelihatan di pilkada sekarang ya, Kang?,” tanya Dulgembul sambil kipas-kipas.

“Maksudmu piye, Mbul?,” tanya Kang Noyo balik.

“Lha belum-belum yang mengemuka malah serangan dan intrik politik. Tapi, belum satu pun yang menyediakan olahan alternatif. Yang setanding. Yang sebanding. Rasanya. Aromanya. Sehingga, wong-wong yang ndak suka pada olahan chef yang itu, misalnya, jadi punya pilihan,” jawab Dulgembul.

“Itu kan tugasnya partai. Chef. Menyediakan pilihan-pilihan masakan yang lebih lezat, lebih sehat, lebih gurih untuk warganya. Bukan cuma intrak-intrik yang malah bikin hawa yang sudah the hot is potatoes and not public begini tambah sumuk,” lanjutnya.

Kang Noyo terdiam. Tapi, sambil mikir, dengaren Dulgembul agak pinter. Mungkin karena otaknya sudah umup. Akibat hawa yang the hot is potatoes and not public itu… (tauhid wijaya)

 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia