Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Senjata Pembunuhan Binti: PH Sebut Balok Kayu, JPU Nyatakan Linggis

13 November 2019, 18: 39: 29 WIB | editor : Adi Nugroho

pembunuhan binti

AJUKAN PLEIDOI: Sugeng Riyadi didampingi penasihat hukumnya mengikuti persidangan dengan agenda pembelaan terdakwa di PN Kabupaten Kediri, kemarin (12/11). (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

NGASEM, JP Radar Kediri – Dituntut 15 tahun penjara, Sugeng Riadi, 40, terdakwa kasus perampokan dan pembunuhan Binti Nafiah, 39, membela diri. Didampingi Rudy Bing Adiputra, penasihat hukum (PH)-nya, warga Dusun Pulosari, Pare ini mengajukan pleidoi.

Dia membantah melakukan perbuatan keji tersebut. Sugeng mengelak dakwaan membunuh perempuan pemilik konter pulsa di Desa Canggu, Kecamatan Badas itu.

Alibinya, dalam pleidoi yang diajukan PH disebutkan tanggal kejadian pembunuhan Binti pada Sabtu, 9 Juni 2018. Padahal saat itu Sugeng sedang berada di Gresik. Dia bekerja di sana. Hal tersebut berdasarkan keterangan saksi dan barang bukti berupa surat.

Selain itu, menurut Rudy, linggis yang dijadikan barang bukti oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ichwan Kabalmay bukan alat penyebab kematian Binti. Ini berdasarkan saksi dan hasil visum et repertum jenazah korban dari Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Kediri.

“Dokter C. Bambang Widhiatmoko dalam kesaksiannya yang di bawah sumpah menyatakan penyebab korban meninggal karena dipukul balok kayu,” ungkap Rudy dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri, kemarin (12/11).

Sementara pada sidang sebelumnya, JPU menyatakan bahwa Binti dipukul menggunakan linggis kecil. Dari ciri-ciri luka yang ada pada tubuh Binti tak menunjukkan hal tersebut. Sehingga, Rudy menganggap, dakwaan JPU terlalu dipaksakan.

“Dalam persidangan, terdakwa tidak mengakui BAP (berita acara pemeriksaan). Dikarenakan tidak melakukan perbuatan pidana yang didakwakan kepada terdakwa dan berdasarkan asas non self incrimination,” urainya. 

Dengan fakta-fakta hukum di persidangan itulah, Rudy menyatakan, kliennya bukanlah pelaku pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan kematian Binti Nafiah. Karena Sugeng dianggap bukanlah pelaku, tim PH meminta majelis hakim dapat mengabulkan seluruh nota pembelaan (pleidoi).

Yakni yang menyatakan bahwa Sugeng tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan. Sebab, JPU dianggap tidak bisa membuktikan dakwaan dan tuntutannya secara hukum. Bahwa Sugeng bukan lah pelaku tindak pidana pasal 365 ayat (2) (3) (4) KUHP tentang pencurian dengan kekerasan.

Makanya, tim PH Sugeng berharap, Sugeng dibebaskan sebagai terdakwa. Selain itu, juga memulihkan kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya.

Setelah pengacara selesai membacakan pleidoi, ketua majelis hakim Agus Thajo Mahendra memberikan kesempatan kepada JPU Ichwan Kabalmay yang didampingi Zanuar Irkham untuk menanggapi. Mereka menyatakan akan memberikan jawaban atas nota pembelaan terdakwa.

“Kami akan mengajukan duplik, mohon waktunya satu minggu,” terang Zanuar pada sidang yang berlangsung di ruang Kartika PN Kabupaten Kediri.

Karena duplik dari JPU belum siap, hakim pun menunda persidangan. Selanjutnya, sidang akan kembali dibuka pada Selasa (18/11). Setelah sidang berakhir, terdakwa kelahiran 1979 itu langsung digelandang ke ruang tahanan sementara PN.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia