Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Catur Wijaya, TNI Asal Kediri, Lestarikan Jaranan di Bumi Cendrawasih

Bocah Papua Kini Bisa Berinovasi

12 November 2019, 18: 22: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

tni di papua

KREATIF: Catur berfoto bersama remaja Papua yang dia ajari tari. (CATURMAS JANGKUNG WIJAYA for radarkediri)

Share this          

Catur dituntut selalu siaga di tempat tugasnya, di Papua. Di sela-sela menjalankan tugasnya itu prajurit TNI asal Kediri ini masih menyempatkan diri melakukan ‘tugas’ lain. Melestarikan budaya Jawa dengan mengenalkan jaranan ke warga Papua.

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

Di Jayapura, keseharian pemuda ini bertugas jadi ‘tukang parkir’. Namun jangan salah, ‘kendaraan’ yang diaturnya itu adalah pesawat. Yakni pesawat milik TNI Angkatan Udara (AU) yang setiap hari berada di Lanud Silas Papare, Jayapura. Selain mengatur parkir kendaraan, Catur juga ditugaskan untuk mengatur lalu lintas udara khusus militer.

caturmas jangkung

PANDANG BARONGAN: Catur sesaat sebelum tampil di salah satu pementasan jaranan. (CATURMAS JANGKUNG WIJAYA for radarkediri)

Nah, dalam kesibukannya menjadi anggota TNI AU, pria kelahiran Kediri 26 tahun lalu itu juga memiliki kesibukan lain. Yakni ikut dalam paguyuban jaranan di daerah transmigrasi di dekat Kota Jayapura. Tentu, keikutsertaannya bergabung dengan grup kesenian asal Jawa Timur itu tak terlepas dari kecintaan Catur dengan budaya asli Kediri tersebut.

“Suka jaranan sejak SD. Tapi dulu tidak boleh ikut oleh Ibu, jadi hanya sebagai penonton saja,” ungkap pemilik nama lengkap Caturmas Jangkung Wijaya ini.

Putra bungsu dari empat bersaudara ini pun akhirnya bisa melampiaskan kecintaan pada jaranan pada 2018 lalu. Saat itu ia kenal dengan masyarakat transmigrasi di Jayapura. Rata-rata adalah orang Jawa. Nah, transmigrans itulah yang juga mendirikan paguyuban jaranan bernama Satrio Manunggal Budoyo dan New Wijoyo Kusumo.

“Akhirnya saya bisa bergabung jaranan dengan mereka. Ada beberapa anak asli Papua yang juga bergabung di sini,” paparnya. Pertama gabung, Catur menjadi pembarong, namanya Kanthil Crew Papua.

Dengan kesibukannya bertugas di Lanud TNI AU harus diatur sebaik mungkin oleh Catur. Itu pun juga izin dengan atasan dan senior. Rata-rata latihan dilakukan setiap malam minggu. Catur sangat ingin memberikan pengetahuan jaranan pada anak-anak di sana. Rata-rata memang tertarik dengan barongan. Namun itu sulit sekali dilakukan anak-anak Papua. “Mereka awalnya gemetar saat mbarong, jadi butuh latihan ekstra untuk bermain jenis ini,” ungkapnya.

Termasuk mengawasi gerakan hingga luwes. Meski demikian Catur mengakui bahwa  melatih anak Papua dalam bermain jaranan relatif gampang. Saat ini, total ada tujuh anak asli Papua yang ikut bergabung. “Apalagi mereka semangat untuk latihan. Bahkan ada yang minta tambahan waktu. Minta variasi-variasi dan dia sendiri yang berinovasi gerakan. Malah kita senang,” terangnya.

Catur sangat senang dan bangga bisa ikut melestarikan jaranan di Papua. Menurutnya, hal tersebut sangat penting untuk dilakukan terutama bagi generasi muda saat ini.

“Saya tanya kamu kok bisa suka jaranan, katanya bagus saja kesenian itu. Apalagi mereka bangga menjadi pemainnya,” ungkapnya.

Hal itulah yang membuat Catur semakin semangat untuk memberikan pengetahuan lebih jauh terhadap kesenian ini. Terutama cara mbarong yang menurut Catur masih menjadi daya tarik bagi warga di sana.

“Banyak yang penasaran bagaimana caranya jadi barongan karena ada yang ingin jadi pembarong. Tapi rata-rata saat pegang Barong itu masih gemetar. Memang jadi barong itu sulit. Latih terus gimana luwesin gerakannya. Sebenarnya mereka bisa tapi belum berani,” paparnya.

Catur mengungkapkan, melestarikan budaya jaranan ini sangat penting.  “Kalau bukan kita siapa lagi? Mengenalkan kebudayaan itu bisa di manapun berada. Sekalipun itu jauh dari kampung halaman,” ungkap pemuda yang memiliki nama Barong Moksa tersebut.

Ke depan, Catur bertekad untuk mengajari anak-anak TNI yang saat ini berada di mess. Menurutnya banyak orang Jawa dan suka jaranan. “Ke depan ingin ada crew sendiri dari TNI AU,” tambah pria yang kini memiliki jabatan sersan dua tersebut.

Catur menjadi bukti pemuda Kediri yang cinta dengan kebudayaan. Pemuda asli Kediri yang berperan di perantauan. Menjadi inspirasi bagi pemuda masa kini.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia