Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Waspada! Kediri Jadi Kota Transit Narkoba

12 November 2019, 17: 43: 21 WIB | editor : Adi Nugroho

narkoba kediri

PESAKITAN : Polisi memamerkan para pengedar dan penyalahguna narkotika dan obat-obatan terlarang yang berhasil mereka tangkap dalam satu bulan terakhir. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Kepolisian Resor (Polres) Kediri Kota pamer tangkapan kemarin (11/11). Puluhan pelaku peredaran dan penyalahgunaan narkotika serta obat-obatan terlarang mereka release di hadapan awak media. Jumlah itu merupakan hasil tangkapan dari satresnarkoba dalam waktu satu bulan terakhir.

Dalam sebulan itu, polisi telah mengungkap total 15 kasus narkoba. Dengan jumlah tersangka sebanyak 20 orang. Mereka terbagi sebagai pengedar dan ada pula yang hanya penyalahguna.

Yang menarik, dalam release yang dipimpin langsung oleh Kapolres Kediri Kota AKBP Miko Indrayana tersebut, mayoritas tersangka adalah pekerja di sektor informal. Seperti tukang atau kuli bangunan. Fenomena itu dianggap sesuatu yang patut untuk dicermati lebih mendalam.

“Masih kami dalami (tentang banyaknya pekerja informal sebagai tersangka narkoba). Sebagai contoh dari pengguna atau pengedar yang bekerja sebagai tukang (pekerja bangunan, Red) yang menggunakan narkoba dalam bentuk pil,” terang Miko kepada awak media.

Miko menjelaskan bahwa polisi, terutama satresnarkoba Polres Kediri Kota, akan terus melakukan pendalaman terhadap tren yang sedang berkembang itu. Termausk mencari jawaban kenapa muncul tren seperti itu. “Apakah mereka (pekerja informal, Red) menggunakan obat keras akibat suruhan atau memang ada dorongan karena harus bekerja keras, sehingga harus memakai obat keras,” imbuhnya.

Polisi berpangkat melati dua itu juga menjelaskan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi lain terkait penyebaran narkoba di kalangan remaja. Baik itu dengan dinas pendidikan maupun langsung melakukan penyuluhan dan kepada para remaja yang sudah masuk masa produktif.

Miko juga menjabarkan tren baru dalam bisnis narkoba ini. Dia menjelaskan bahwa dari hasil analisa polisi, kebanyakan barang haram itu datang dari luar kota. Hal itu diperoleh berdasarkan tren penangkapan dalam satu bulan terakhir. Setidaknya dari hasil penyelidikan sementara kepada para tahanan ada  dugaan Kota Kediri menjadi kota transit sebelum diedarkan ke daerah lain.

“Melihat banyaknya sarana yang ada di Kediri, baik hotel, kemudian tempat-tempat lain, sehingga pengedar mungkin menjadikan Kota Kediri sebagai transit,” paparnya.

Dari 15 kasus, lanjutnya, merupakan bentuk laporan masyarakat kepada anggota Polres Kediri Kota. Setelah mendapat laporan, satreskoba segera melakukan penyelidikan dan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan, terinci ada sebanyak delapan kasus terkait narkotika, dan tujuh kasus lain termasuk ke dalam golongan obat keras. Dengan total 11,65 gram narkotika jenis sabu-sabu, dan 1369 butir pil dobel l, dari hasil sitaan barang bukti dari tersangka.

Miko mengatakan, ada dua pasal yang disangkakan pada 20 tersangka ini. Yaitu pasal 112 UU nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Serta pasal 196 UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Keduanya memiliki hukuman pidana penjara maksimal yang berbeda.

Salah satu kasus yang baru terungkap adalah sepasang lelaki dan perempuan yang bukan suami istri yang diamankan di salah satu tempat kos di Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren pada Rabu (6/11) sore. Dua tersangka ini diketahui berinisial RA dan AK. RA, perempuan 28 tahun berasal Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Sedangkan AK, 28 tahun asal Ganungkidul, Kecamatan/Kabupaten Nganjuk. Dengan barang bukti total 8,12 gram sabu-sabu dari keduanya. Bahkan dari kasus tersebut, petugas satresnarkoba Polres Kediri Kota berhasil melakukan penangkapan terhadap tersangka baru. Yakni MES, 21, lelaki asal Dandangan, Kecamatan/Kota Kediri, yang diamankan di rumahnya. MES diamankan karena keterlibatan dengan tersangka RA dan AK yang hendak melakukan pesta sabu di Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren.

Miko menegaskan bahwa siapa saja yang melanggar hukum akan diproses secara sama. “Kami perlakukan sama, baik lelaki ataupun perempuan. Jika sama-sama melakukan tindakan kriminal, tetap akan kami proses,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia