Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
MAHFUD

Sekali Lagi tentang Desa

12 November 2019, 17: 39: 15 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh : Mahfud

Oleh : Mahfud (radarkediri.id)

Share this          

Berita Terkait

Apa yang terbayang bila kita membahas kata ‘desa’ saat ini? Bagi kita yang tinggal di Kabupaten Kediri pikiran pasti langsung mengarah ke pemilihan kepala desa. Pilkades serentak yang baru saja usai beberapa waktu lalu, yang masih menyisakan persoalan di beberapa desa itu. Yang berlangsung di lebih dari 250 desa. Yang dipenuhi hiruk-pikuk. Tak hanya pada hari H, tapi sebelum dan sesudah coblosan.

Yang menang, meskipun habis banyak uang, tentu merasa senang. Sebaliknya bagi yang kalah, apalagi dengan biaya yang melimpah, tentu dirundung susah. Sebagian yang belum bisa move on, akan mencari celah untuk menghindar dari kekalahan. 

Selain soal pilkades, kata desa mencuat lagi seiring munculnya isu tentang desa fiktif. Beberapa desa di luar Jawa dituding tak memiliki penduduk. Atau telah mengalami perubahan bentuk menjadi kelurahan. Namun,  tetap dilaporkan sebagai desa yang menerima alokasi dana desa dari Pemerintah Pusat. Setidaknya, tiga desa di Konawe, Sulawesi Selatan, beberapa tempat di pulau-pulau terpencil di Halmahera, atau beberapa desa yang kosong karena lahannya telah dibeli perusahaan tambang di Kalimantan, tiba-tiba mencuat ke permukaan. Menariknya, desa-desa itu masih masuk list sebagai penerima dana desa. Meskipun, konon, uangnya masih ada di kas pemerintah daerah masing-masing.

Bagi kami, Jawa Pos Radar Kediri, dan juga desa-desa di Kabupaten Kediri, kata desa kali ini bukan hanya tentang pilkades yang baru usai saja. Tapi, ada satu lagi isu yang terkait dengan desa dan akan berlangsung hari ini. Yaitu Anugerah Desa. Satu perhelatan kompetisi antardesa yang sudah berlangsung keempat kalinya pada tahun ini.

Seperti namanya, Anugerah Desa adalah penganugerahan penghargaan kepada desa-desa yang memenuhi kriteria penilaian panitia. Panitia di sini adalah gabungan dari berbagai unsur. Pemerintah Kabupaten Kediri yang diwakili oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), dan Tim Pertimbangan Percepatan Pembangunan (TP3). Kemudian dari akademisi. Dan tentu saja, tim dari Jawa Pos Radar Kediri sebagai pemrakarsa kegiatan ini.

Mengapa harus Anugerah Desa? Karena desa saat ini bukanlah antitesis dari kota. Desa, bukan lagi punya pengertian udik seperti di masa lalu. Desa, bukan lagi hanya berfungsi sebagai pemasok bahan-bahan kebutuhan orang perkotaan. Desa juga bukan lagi sekadar pemasok tenaga kasar untuk kebutuhan tenaga kerja di kota. Meskipun, sebagian dari fungsi itu juga belum benar-benar hilang.

Desa, saat ini, adalah tentang pemberdayaan. Desa adalah tentang inovasi. Desa adalah tentang kemandirian suatu komunitas. Desa adalah entitas tersendiri.

Bila merunut pada Undang-Undang nomor 6 2014, arti desa telah dirumuskan dengan jelas. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Suatu arti yang memberi makna sangat multidimensi. Desa adalah daerah otonom. Desa mengaut dan mengurus pemerintahannya sendir. Desa punya hak tradisional yang diakui dan dihormati oleh negara. Desa juga mengedepankan kepentingan masyarakat yang berdasarkan prakarsa masyarakat. Artinya, desa membuka ruang seluas-luasnya untuk melakukan inovasi. Tentu, semuanya dalam kerangka positif.  

Atas dasar pemikiran itulah Anugerah Desa bergulir hingga tahun keempat. Karena event ini memang membuka ruang yang sebesar-besarnya bagi setiap inovasi yang dilakukan desa. Di semua bidang. Yang terpenting adalah inovasi itu bergerak searah dengan kemauan masyarakatnya untuk maju. Karena sudah bukan zamannya lagi masyarakat desa selalu jadi masyarakat kelas dua.

Yang perlu mendapat perhatian, keinginan untuk berinovasi itu jangan sampai terlepas dari tujuan awal. Bahwa semuanya harus berakar pada kearifan lokal. Jangan sampai membuat perubahan yang justru membuat masyarakat desa tercerabut dari kearifan lokal yang sudah ada selama ini. Desa, harus tetap menjadi sesuatu yang khas. Artinya, jangan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi masyarakatnya, desa kemudian berlagak kekota-kotaan.

Karena sejatinya desa punya potensi keberdayaannya sendiri. Bagi warga desa, tak harus menjadi orang kota agar bisa sejahtera. Menjadi petani sayur-mayur pun mereka masih bisa mensejahterakan diri dan lingkungan. Demikian pula dengan pilihan menjadi peternak, nelayan, atau bidang-bidang lainnya. Yang penting adalah bagaimana inovasi dan keinginan untuk maju itu justru menyuburkan kearifan lokal yang dimiliki masyarakatnya.

Akhirnya, terlepas dari semua kekurangan yang terjadi, dan kekecewaan bagi yang belum beruntung, Anugerah Desa kali ini telah berusaha memunculkan desa-desa yang terbaik dalam berbagai kategori yang disediakan. Memang, di beberapa bidang juri perlu berdebat sengit. Menyodorkan berbagai argumentasi dalam penilaiannya. Bukan karena membela salah satu desa, tapi berusaha menyuguhkan data faktual tentang hasil penilaiannya.

Memang, tak akan ada sesuatu yang sempurna. Mungkin dalam salah satu kategori akan ada yang merasa kurang puas. Karena juri pun kadang merasa seperti itu. Namun, inilah kompetisi. Yang penting semua dilalui dengan rule of the games yang jelas dan terukur.

Selamat bagi yang menang. Jangan pernah kecewa bagi yang belum terpilih. Karena yakinlah bahwa tidak ada yang namanya kekalahan. Kata kalah itu hanyalah suatu kemenangan yang tertunda. Merasa kalah hanya milik seorang pecundang. Sementara desa-desa yang belum menjadi pemenang, atau yang belum masuk jadi nominator bukanlah desa pecundang. Mereka adalah fighter. Yang terus bekerja keras demi kemajuan desa. Baik ada atau tidak adanya penghargaan. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri dan anggota juri Anugerah Desa 2019).

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia