Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Melihat Emak-Emak Pesilat di Padepokan Pagar Nusa Setonogedong

Tak Ada Tingkatan Sabuk, Telat Tetap Push Up

11 November 2019, 12: 33: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

pencak silat

TRADISIONAL: Emak-emak pesilat Padepokan Pagar Nusa Setonogedong membuat konfigurasi dengan memegang toya saat tampil dalam satu acara. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

Semula mereka hanya menunggui sang anak yang berlatih silat. Tapi, kini para emak-emak itu ikut berlatih. Membentuk grup silat di Padepokan Pagar Nusa Setonogedong. Di beberapa kegiatan Nadlatul Ulama (NU) Kota Kediri, mereka sering tampil mengisi acara.

ANWAR BAHAR BASALAMAH, KOTA, JP Radar Kediri

Tiga tahun lalu, kelompok silat ibu-ibu di Padepokan Pagar Nusa (PN) Setonogedong terbentuk. Menjelang Maulud Nabi, mereka sepakat untuk berlatih pencak silat setiap Minggu. Tidak banyak persiapan yang dilakukan saat membentuknya.

“Pokoknya sepakat ikut latihan. Nama (grup) pun tidak ada sampai sekarang,” kata Anwariyah yang didapuk sebagai koordinator.

Ya, ibu-ibu yang tergabung di grup silat tersebut sejatinya memang bukan pesilat. Mereka adalah orang tua dari anak-anak yang berlatih silat di Padepokan PN Setonogedong. Setiap anak-anak latihan, mereka yang menunggui.

Karena sering bertemu, ibu-ibu itu menjadi akrab. Ana yang mendorong mereka agar mau berlatih pencak silat. Kegiatan itu hanya untuk rekreasi dan olahraga. Bukan menjadi pesilat atau petarung di arena lomba. “Kami memilih seninya. Bukan fight,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di Padepokan PN Setonogedong, Sabtu lalu (9/11).

Tidak semua ibu-ibu bersedia ikut latihan. Awalnya, ada 15 orang yang mau berlatih. Latihan digelar setiap Rabu dan Minggu. Agar tidak bentrok dengan latihan sang anak, mereka mengatur waktunya. “Kebetulan anak-anak latihannya juga Rabu dan Minggu,” ujar perempuan kelahiran Kediri, 19 Januari 1977 ini.

Di hari Rabu, mereka berlatih sekitar 19.00 sampai 21.00. Sementara di hari yang sama, anak-anak latihan sore hari. Di hari Minggu, latihan dijadwalkan sekitar pukul 15.00 – 17.00. “Kalau anak-anak latihannya (minggu) pagi,” ucap Ana.      

Karena bukan pesilat, mereka semua mengenakan sabuk warna hijau. Itu merupakan simbol ikatan di PN. Sehingga tidak ada tingkatan sabuk seperti pesilat-pesilat umumnya. “Kami hanya latihan gerakan-gerakan silat. Tidak ada peningkatan sabuk,” ungkapnya.

Latihan digelar di Padepokan PN Setonogedong Kompleks Makam Syekh Al Wasil Syamsudin (Mbah Wasil), Kota Kediri. Pelatihnya adalah Rokim, yang juga melatih anak-anak mereka.

Saat latihan, kata Ana, ada banyak gerakan diberikan oleh pelatih. Yang pertama, mereka diajari salam PN. Kemudian ada jurus satu, dua, dan tiga. Ada pula jurus sabung.

Untuk gerakan lain, pelatih juga mengajarkan toya, celurit, dan golok. Namun menurut Ana, hanya toya atau tongkat yang sering dimainkan. Untuk tendangan, mereka diperkenalkan dengan tendangan A, C, dan T. “Ada juga tangkisan, pukulan, dan salam jangka,” ungkap Ana.

Selain jurus-jurus tersebut, ibu-ibu itu juga berlatih koreografi. Maklum, gerakan silat mereka ditampilkan dalam kegiatan atau festival yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama (NU) Kota Kediri.

“Jadi perlu belajar koreografi agar terlihat kompak dan padu,” kata perempuan yang juga dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kota Kediri ini.

Meski gerakan seni, Ana mengatakan, ibu-ibu juga berlatih fisik. Jadi sebelum latihan dimulai, mereka akan mengawalinya dengan pemanasan. Setelah itu latihan fisik dilakukan dengan berlari-lari mengelilingi tempat latihan. “Baru latihan gerakan,” ujarnya.

Bahkan, sikap disiplin pun diterapkan kepada ibu-ibu tersebut layaknya pesilat sesungguhnya. Karena itu, jika ada yang terlambat datang latihan, pelatih meminta untuk push up. “Saya kalau telat selalu push up. Tapi ada juga yang ogah-ogahan,” kata perempuan yang menjadi pembina PN di IAIN Kediri itu seraya tertawa.

Sekarang, ada 20 orang yang biasa ikut berlatih silat. Biasanya, mereka menjadi pengisi acara di sejumlah kegiatan NU. Seperti Maulud Nabi, Hari Santri, dan beragam kegiatan lain.

Selain anggota senior,  ada beberapa anggota baru yang masuk ke padepokan. Karenanya, saat pentas, mereka untuk sementara bertugas membawa bendera di bagian belakang. “Belum bisa masuk ke formasi inti. Karena semua gerakannya harus dipelajari dulu,” papar ibu lima anak asal Tamanan, Kecamatan Kota ini.

Ana mengaku, tidak bisa memaksa ibu-ibu yang tidak mengikuti latihan silat. Sebab, pada dasarnya, grup tersebut dibentuk untuk sekadar olahraga. Apalagi, sejak awal sebenarnya mereka hanya menunggui anak-anak berlatih “Karena di luar ibu-ibu yang sekarang latihan, ada juga yang tidak bersedia. Kami tidak memaksa,” ujarnya.

Dia juga tidak boleh memaksakan ibu-ibu yang tidak bisa tampil di acara. Mereka sebelumnya harus mendapatkan izin dari suami. Pasalnya, rata-rata kegiatan dilaksanakan malam hari. “Tanpa izin suami, ibu-ibu memilih absen. Mereka juga punya pekerjaan lain. Intinya, dibuat fun saja,” ungkap Ana.

Ke depan, Ana berharap, grup silat ibu-ibu tidak hanya pentas di Kota Kediri. Mereka juga bisa unjuk gigi di kabupaten lain lewat kegiatan festival. “Inginnya bisa ikut festival di sejumlah kota,” harap Ana. a

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia