Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
ANWAR BAHAR BASALAMAH

Ini Pasar, Bukan Ruang Kelas

11 November 2019, 12: 13: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

Anwar Bahar Basalamah

Oleh: Anwar Bahar Basalamah (radarkediri.id)

Share this          

Ingatan saya tiba-tiba kembali ke masa awal 2000-an. Ketika saya dan teman-teman SD bikin gaduh di kelas. Ketika asyik bermain itu, guru yang datang tiba-tiba dari luar langsung menegur kami. “Aja rame wae kayak neng pasar.”

Ya, pasar. Guru kami menyebut pasar sebagai metafora keriuhan di kelas. Artinya, pasar merupakan tempat keramaian. Sementara ruang kelas adalah antitesisnya.

Analogi itu sejatinya tidak salah. Pasar adalah pusat pertemuan segala macam orang. Seorang pembeli dan penjual. Pembeli, mereka berasal dari berbagai macam kalangan. Ada guru, pegawai negeri sipil (PNS), petani, buruh, polisi, tentara sampai anak-anak.

Di pasar tradisional, pembeli bisa membeli macam-macam kebutuhan. Di salah satu sudut, mereka mendatangi penjual buah. Di sudut yang lain, mereka menawar harga daging. Di kios, ada pakaian dan peralatan rumah tangga yang dijual.

Di pasar, mereka tentu saja tidak diam. Pedagang bercuap-cuap menawarkan barang dagangannya. Terkadang mereka berceloteh dengan lapak di sebelahnya. Bercanda dan tertawa di antara keramaian.

Pembeli pun demikian. Mereka harus pintar menawar. Merayu si penjual agar mau melepas barangnya dengan harga murah. Kadang-kadang, mereka teramat ceriwis. Beradu argumen dengan penjual.

“Masak barang gini dijual mahal.”

“Ya segitu harga jualnya.”

“Nggaklah. Aku cari tempat lain.”

“Ya silakan,” kata penjual sembari berharap calon pembelinya itu kembali ke lapaknya. Namun, setelah langkah pembeli terlalu jauh, pedagang pun berujar lagi.

“Ya sudah. Saya lepas segini buat Ibu.”

“Ya bungkus dua.”

Celoteh-celoteh itu yang kerap kita dengar di pasar. Makanya, bagi saya, menyelipkan kata ‘pasar’ untuk ruangan yang seharusnya tenang, adalah langkah yang tepat. Bagi Anda, para guru-guru, cobalah hal itu ketika murid Anda sangat berisik di kelas. Saya yakin, seketika mereka akan diam.

Ya, karena ruang kelas tidak memenuhi syarat sebagai lokasi keramaian. Saat pelajaran, siswa hanya boleh diam dan mendengarkan guru. Ketika jam pelajaran kosong, mereka bisa saja ramai. Tapi, ruang kelas lain juga membutuhkan ketenangan agar guru tidak terganggu ketika memberikan penjelasan.

Di pasar, Anda tidak akan dilarang ketika berceloteh. Bahkan, berteriak sekalipun. Semua memaklumi. Karena pasar memang harus diramaikan. Seramai-ramainya.

Lalu bagaimana jika kondisi pasar justru berbalik seperti ruang kelas? Sepi. Tidak ada celotehan. Minus perdebatan antara pedagang dan pembeli. Atau sekadar rasan-rasan yang menghabiskan waktu berjam-jam.

Satu kesimpulan awal, pasar yang sepi dari ‘perang mulut’ pedagang dengan pembelinya adalah pasar bermasalah. Bisa jadi, pembeli enggan datang karena tempatnya kurang nyaman. Atau sebab lain adalah banyak kios dan lapak yang tutup.

Padahal, syarat sebagai sebuah pasar, mereka harus menyediakan barang-barang yang dibutuhkan konsumen. Ketika barang dicari tidak ada penyedianya, maka jangan salahkan mereka berpaling ke tempat lain. Dari situlah, koneksi penjual dan pembeli terhubung.

Di Kota Kediri, Pasar Setonobetek Blok A yang kini jauh dari kesan ramai. Diresmikan Oktober tahun lalu dengan anggaran sebesar Rp 29 miliar, pasar di Jl Patimura itu belum memenuhi ekspektasi. Dari ratusan pedagang, hanya segelitir yang mau berjualan di sana.

Padahal, sebelum pembangunan gedung baru, Pasar Setonobetek terkenal sangat ramai. Para pedagang terbiasa membuka lapaknya sampai 24 jam nonstop. Namun, sekarang alih-alih 24 jam, untuk buka seminggu penuh saja, masih banyak bolongnya.

Sebenarnya, persoalan tidak terletak kenapa harus membuat gedung baru kalau akhirnya sepi. Revitalisasi pasar memang diperlukan. Pedagang harus mendapat tempat yang layak untuk berjualan. Di satu sisi, tempat harus lebih bersih.

Dari sudut pembeli, mereka juga membutuhkan tempat yang nyaman dan tidak kumuh. Tapi rupanya, bangunan yang megah itu tidak membuat Pasar Setonebetek lebih baik. Akhirnya, setelah dikaji, banyak persoalan yang melingkupinya.

Hal yang pertama soal desain bangunan. Para pedagang mengeluhkan bangunan berlantai dua. Karena itu, di awal-awal relokasi, antara pedagang berebut lapak di lantai satu. Sebab, ketika menempati lantai atas, mereka khawatir dagangan tidak laku. Jangkauan di lantai bawah lebih mudah dibandingkan atas.

Kalangan dewan lewat komisi B pun sepakat soal permasalahan bangunan berlantai dua tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur. Untuk membongkar kembali, dibutuhkan anggaran yang tidak kecil. Karenanya, salah satu solusinya adalah memindahkan semua pedagang ke lantai bawah.

Kedua, Pasar Setonobetek Blok A butuh magnet yang mampu menarik pembeli. Saat ini, sebagian pedagang memilih berjualan di luar pasar. Bahkan, di tepi-tepi jalan. Makanya, begitu sepakat semua lapak dipindah ke bawah, pedagang lain harus mau masuk ke pasar.

Dengan masuknya beragam pedagang, konsumen memiliki banyak pilihan. Mereka bisa memilih tanpa harus berpindah-pindah pasar. Sebab, pembeli sejatinya hanya ingin praktis.

Jangan sampai, Pasar Setonobetek menjadi ruang kelas. Kemudian, muncul tiba-tiba seorang guru sembari menyeletuk. “Aja sepi-sepi wae kayak neng kelas.”(Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia