Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Mencari Makna Peringatan Hari Pahlawan di Era Milenial

Tanamkan Jiwa Kepemimpinan Sejak Dini

11 November 2019, 12: 10: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

alun alun kediri

PUISI PERJUANGAN: Forum Peduli Budaya Kediri menggelar renungan di dekat patung Mayor Bismo, Alun-Alun Kota Kediri. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Banyak cara yang dilakukan untuk memperingati Hari Pahlawan. Tak hanya dengan upacara. Sebagian menggelar lomba yang sekaligus untuk meningkatkan karakter sejak usia dini.

Peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada hari ini (10/11) mulai dirayakan sejak kemarin. Seperti yang berlangsung di Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno. Mereka menggelar lomba deklamasi Bung Tomo dan pidato Bung Karno di PBB. Pesertanya adalah siswa-siswa sekolah.

“Sengaja kami lakukan kegiatan ini (lomba deklamasi dan pidato, Red). Selain untuk mengenalkan para pahlawan kepada para anak usia dini juga untuk menanamkan karakter leadhership,” terang Ketua DPC Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia Kabupaten Kediri Kushartono.

ndalem pojok

SERIUS: Penampilan peserta lomba deklamasi Bung Tomo yang berlangsung di Situs Ndalem Pojok. (Dwiyan - radarkediri.id)

Menurutnya, selain menanamkan karakter kepemimpinan sejak usia dini, pihaknya ingin memberikan edukasi pada anak-anak. Terutama terkait perjuangan pahlawan Indonesia dalam mempertahankan keutuhan negara.

“Kami juga memberikan edukasi nilai-nilai perjuangan para pahlawan dalam ekspansi pertempuran melawan penjajah,” ujarnya.  

Masih kata Kushartono, pihaknya sengaja mengadakan lomba menuliskan cita-cita tingkat dunia. Hal ini dilakukan, untuk memberikan konstruksi pemikiran para siswa dalam mengembangkan kualitas pemikiran dengan skala yang lebih besar. “Para siswa kami ajarkan untuk berpikir proyeksi ke depan yang dapat memberikan solutif,” tandasnya.

Selain lomba Deklamasi Bung Tomo, dan Lomba Pidato Bung Karno, agenda yang dikemas dalam tasyakuran Hari pahlawan Perdamaian Dunia Abadi ini juga mengadakan doa bersama untuk para pahlawan.

Secara terpisah, guru fasilitator Sekolah Alam Kadhiri (Saka) Esti Retno Falufi menyambut baik agenda ini. Menurutnya, momentum peringatan hari pahlawan bukan lagi diperingati secara formalitas saja. Namun, juga dilakukan dengan upaya-upaya yang dapat memberikan nilai manfaat kepada nusa dan bangsa.

“Siswa diajarkan agar bagaimana dapat berpikir secara jangka panjang melalui literasi cita-cita tingkat dunia,” terangnya.

Menurutnya, upaya ini dilakukan untuk memberikan stimulus kepada siswa untuk bisa berpikiran secara solutif. Lebih lanjut, kondisi pemuda yang krisis moral menuntut dirinya untuk turut andil dalam memberikan edukasi pada anak didiknya.

“Ini bagian dari tanggung jawab moral siswa dalam menentukan arah pandang yang jelas,” paparnya.

Sementara itu, momentum hari pahlawan juga dimanfaatkan oleh sejumlah pemerhati sejarah Kediri Raya. Pasalnya, sejumlah pemerhati sejarah yang mengatasnamakan Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia  mengusulkan tanggal 30 september menjadi hari perdamaian abadi Internasional. “Sudah saatnya Indonesia  memahami sejarah bahwa pada tanggal 30 September merupakan hari yang bersejarah,” terangnya.

Menurutnya, gagasan itu bukan tanpa alasan. Usulan tersebut mengacu kepada peristiwa besar bersejarah di sidang PBB terkait pidato bung karno “To Build The World A New” yang dibacakan pada tanggal 30 September 1960.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia