Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Soeyono, Saksi Hidup Perjuangan Rakyat Melawan Penjajah

Dipaksa Tanam Jarak dan Mengambili Ulatnya

11 November 2019, 12: 04: 52 WIB | editor : Adi Nugroho

veteran

VETERAN : Soeyono saat sedang bersantai di rumahnya di Jalan Veteran Gang II Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Tubuhnya sudah renta. Namun jiwa dan semangatnya masih membara. Terasa kala dia berkisah tentang perjalanan hidupnya. Yang sebagian besar dihabiskan untuk bertaruh dengan maut. Menghadapi pasukan penjajah.

“Sebentar Mas¸saya buka pintu terlebih dulu.”  Suara parau dengan nada agak bergetar terdengar dari dalam rumah di Jalan Veteran Gang II, Sukorame, Kecamatan Mojoroto itu. Tak lama kemudian pintu bermotif kuno dan bercat putih itu terbuka. Sesosok pria tua muncul dari balik pintu. Tangannya memegang tembok. Digunakan sebagai penopang berdiri.

Lelaki itu adalah Soeyono. Usianya sudah mendekati angka 90 tahun. Setelah mempersilakan Jawa Pos Radar Kediri masuk, dia terlihat tertatih-tatih menuju kursi ruang tamu. Tangannya terus menempel pada tembok. Menggunakannya sebagai penopang langkah. Membantu kakinya yang seperti sudah tak kuasa lagi menopang tubuh rentanya.

Soeyono sudah merasakan sakit pada kedua kakinya sejak lama. Sejak enam tahun lalu. Tapi, rasa sakit itu berusaha dia abaikan. “Sudah agak lama tapi tidak apa-apa. Asal tangan saya masih kuat,” ucapnya sembari bercanda.

Anggota legiun veteran yang ramah senyum ini menjelaskan bahwa ia selalu bersyukur dengan apa yang dia miliki. Meskipun kaki kirinya tidak berfungsi dengan baik dia berusaha tak mengeluh. Karena masih ada kaki kanan dan kedua tangannya yang bisa menopang aktivitasnya. Seperti menyapu, membersihkan tempat tidur, hingga menyirami tanaman.

Soeyono menceritakan, kaki yang sakit itu bukan akibat perjuangan yang ia lakukan pada pada 1948 hingga 1949 silam. Tapi akibat usianya yang beranjak senja. Saat berjuang, saat itu usianya 18 tahun, kondisi fisiknya sangat bugar.

Soejono kemudian membuka memorinya bertempur melawan penjajah. Kala itu dia bersama dengan teman, saudara, dan warga Desa Purwokerto, Ngadiluwih. “Saya hanya ingat dulu diminta penjagaan di wilayah Tulungagung, dan Kediri, bersama teman-teman,” terangnya sembari mengingat-ingat.

Lelaki yang lahir pada 1930 ini benar-benar bisa merasakan bagaimana tidak enaknya hidup di masa penjajahan. Apalagi saat masa penjajahan Jepang. “Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Di Ngadiluwih. Masih teringat hingga sekarang,” kenang Soeyono.

Soeyono kecil mengaku tak pernah merasakan kekejaman langsung penjajah Jepang. Namun dia merasakan ‘jajahan’ dari orang sebangsanya yang justru bersekutu dengan Jepang. Misal, saat usia 11 tahun Soejono kecil bersama teman satu sekolahnya dipaksabercocok tanam. Menanam jarak, kepyar, hingga kapuk.

Selain dipaksa bercocok tanam, Soejono kecil bersama dengan teman-temannya juga disuruh memberantas hama ulat dari tanaman-tanaman tersebut. “Tidak pakai alat, tidak pakai sarung tangan, langsung bersentuhan dengan kulit  tangan dan jari,” paparnya.

Satu per satu ulat diambil dan dibuang oleh tangan-tangan kecil itu. Kesal, memang. Namun apa daya, saat itu, Soejono dan teman-teman sepermainannya masih berumur sekolah dasar. Masih merasa ngeri jika melawan orang yang lebih tua.

Kengerian itu hilang pada 1945. Usai kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, seluruh rakyat Indonesia hanyut dalam euforia ingin memerdekakan diri. Sejak Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945, Soejono pun bertekad tidak mau merasakan lagi penjajahan dalam bentuk apapun. Dan oleh siapapun. Bersama dengan saudara, teman, dan seluruh masyarakan Indonesia, khususnya di Ngadiluwih, Soejono bertekad melawan penjajahan. Dan ancaman penjajahan yang akan datang di kemudian hari.

“Sekitar tahun 1948, Belanda kembali lagi, namun warga Indonesia juga sudah kuat, dan semakin kompak. Makanya tidak lama Belanda kembali lagi ke negara mereka,” imbuhnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia