Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Dampak Kekeringan di Klotok Meluas

11 November 2019, 11: 51: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

kemarau

MENGUCUR: Anggota TNI dari Kodim 0809 Kediri mengucurkan air ke bak-bak penampungan warga di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, kemarin. Wilayah ini masih didera kekurangan air bersih. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Beberapa wilayah di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, masih mengalami kekurangan air bersih. Bahkan, ada kemungkinan dampak kekeringan tersebut bisa semakin luas. Sebab, ada laporan beberapa RT lagi yang juga mengajukan permintaan dropping air bersih.

Hingga kemarin, Bantuan air bersih untuk RW 05 Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, juga terus berdatangan. Bahkan, bantuan tak hanya datang dari badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) dan unit pelaksana teknis (UPT) tempat pembuangan akhir (TPA) Klotok. Namun juga datang dari Kodim 0809.

Kemarin, tim dari Kodim 0809 mengirim bantuan air bersih ke RT 22. Sedangkan, seperti hari-hari sebelumnya, BPBD Kota Kediri men-dropping di dua RT sekaligus.

“Awalnya kami jadwalkan pagi tadi (kemarin). Tetapi sore baru bisa meluncur,” kata Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kediri Adi Sutrisno di lokasi kemarin.

Berdasarkan pantauan koran ini, dropping dari BPBD berlangsung sekitar pukul 13.00 WIB. Setelah memasok air bersih di RT 23 mereka kemudian mengirim bantuan ke RT 22. Sementara bantuan Kodim 0809 datang sekitar pukul 14.30 WIB.

Adi mengatakan, warga di dua RT masih membutuhkan air bersih. Bahkan, ada kemungkinan dampak kekeringan bisa meluas ke RT lain di RW 05. Jumlahnya sekitar 100 kepala keluarga (KK). “Kalau sebelumnya ada info dari RW 01, sekarang ada laporan di RW 05. Tetapi beda RT,” jelasnya.

Informasi kekurangan air bersih itu datang dari RT 24 dan RT 25. Meskipun berada di RW 05 tetapi nama lingkungannya berbeda dengan RT 22 dan RT 23. Adi menyebut, dua RT tersebut berlokasi di Lingkungan Tumpang. “Yang kami bantu sekarang di Lingkungan Nglebak. Batasnya (Nglebak dan Tumbang) jembatan,” katanya.

Karena itu, sebenarnya jarak lokasi empat RT tersebut tidak terlalu jauh. Bahkan, warga di sana memanfaatkan sumber air yang sama, yaitu Sumber Tretes. Pasokan air dari sumber tersebut dimanfaatkan bergantian. Namun karena Lingkungan Tumpang berlokasi lebih atas mereka menerima air lebih dulu dibanding warga Lingkungan Nglebak.

Adi melanjutkan, pihaknya perlu memastikan informasi kekurangan air bersih di Lingkungan Tumpang. Jika memang mereka membutuhkan air, BPBD Kota Kediri akan mengirim air  lingkungan tersebut pada Minggu besok (10/11).

“Kami harus pastikan dulu. Kami tadi sudah meminta bantuan ketua RT 23 untuk mengonfirmasi ulang keluhan kekurangan air,” katanya.

Untuk jumlah bantuan, Adi mengaku, pihaknya hanya mampu mengirim satu truk tangki atau setara 5 ribu liter air. Pasalnya, BPBD belum memiliki armada sendiri untuk mengirim bantuan. “Kami masih menggunakan milik PDAM,” ungkap Adi.

Sementara itu, Suparlan, warga RT 23, mengaku harus berhemat air bantuan. Kemarin, dia mengisi sembilan bak dengan volume yang berbeda-beda.”Biasanya dua hari sudah habis. Buat masak, mandi, minum, dan cuci,” kata pria 68 tahun ini.

Hal senada diungkapkan Rois, ketua RT 22. Dia mengatakan, sebanyak 94 membutuhkan air bersih. Selama ini, air digunakan untuk kebutuhan masak dan mencuci. Sedangkan mandi, biasanya warga memilih pergi ke sungai.

“Airnya masih ada. Harus turun 10 meter dari pemukiman warga,” katanya.

Untuk diketahui, selama ini warga Nglebak-Tumpang menggantungkan kebutuhan air bersih dari dua sumber air. Selain Sumber Tretes, ada pengeboran air Tirto Agung. Tahun depan, di rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah (RAPBD), kantor kelurahan merencanakan pembuatan pengeboran air di RT 22. Proyek tersebut diambilkan dari program pemberdayaan masyarakat (Prodamas) 2020.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia