Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Melihat Kampung Emping Melinjo di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan

Terancam Putus Generasi

11 November 2019, 11: 41: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

melinjo

PROSES : Misdiono memukul biji melinjo hingga pipih sebelum dijemur. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Desa ini sudah puluhan tahun jadi sentra emping melinjo. Perajinnnya mencapai ratusan orang. Sayang, kini nasib kampung emping itu terancam putus generasi.

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Bunyi khas selalu terdengar begitu memasuki dusun ini, Dusun Sumbermulyo, Desa Mejono, Kecamatan Plemahan. Duk...duk....duk. Suara itu sudah terdengar dari kejauhan. Semakin khas lagi ketika masuk ke jalanan dusun. Sepanjang kiri kanannya, di halaman rumah warga, ada kawat anyaman yang sudah dibingkai untuk menjemur bulatan-bulatan kecil warna putih kusam.

Bulatan kecil yang dijemur itu adalah krecek (bahan mentah) emping melinjo. Nyaris semua warga di dusun ini berkecimpung dalam dunia pembuatan makanan ringan ini. Salah satunya adalah Slamet, 50.

“Saya baru menekuni usaha ini setelah menikah,” terang  Slamet. Saat itu Slamet tengah memproses pembuatan emping melinjo. Di  teras rumahnya. Ditemani anaknya, Sita Apriliana, 20, dan istrinya, Warsini, 46. Saat itu hari mulai menjelang siang. Sekitar pukul 09.00 WIB.

Slamet sibuk menggoreng biji melinjo. Tak menggunakan minyak. Tapi cukup dengan pasir yang memenuhi penggorengannya. Setelah itu dia mengupas kulit melinjo yang sudah matang itu dengan batu. Kemudian dioperkan ke Warsini yang ada di sebelahnya. Oleh Warsini biji yang matang dan masih panas itu langsung digeprak dengan pemukul tumpul dari besi. Hingga berbentuk pipih bulat.

“Harus dalam kondisi panas. Kalau dingin sulit,” terangnya.

Sebelumnya, menurut Slamet, usaha emping melinjo itu dikelola mertuanya. Pada 1990, ketika usianya 25 tahun, Slamet menikahi Warsini. Setelah itu dia membantu mertuanya mengelola usaha emping melinjo. Sementara Warsini, sudah ikut membantu usaha orang tuanya itu sejak usia 12 tahun.

“Setiap pulang sekolah saya langsung membantu orang tua membuat emping,” kenang perempuan kelahiran 1973.

Di Desa Mejonoterdapat sekitar 350 KK yang memiliki usaha perajin emping melinjo. Usaha ini memang jadi pilihan bagi warga yang memang tak banyak memiliki lahan pertanian. Saat itu menjadi perajin emping melinjo sangat menjanjikan dari sisi  hasil.

Sayangnya, seiring pergantian zaman, usaha ini mulai jarang diminati. Terutama bagi generasi melenial seperti saat ini. Karena itulah Slamet jauh-jauh hari sudah menyiapkan putrinya yang nomor dua sebagai penerus. Begitu lulus sekolah, Sita langsung diminta membantu pembuatan emping. “Bahkan ketika diajak kakaknya merantau, tidak saya izinkan,” tutur Slamet.

Sudah 20 tahun lamanya Slamet dan Warsini menekuni usaha sebagai perajin emping melinjo. Hal yang membuatnya bertahan hingga saat ini adalah pelanggan emping buatannya. Dia masih memiliki pelanggan setia. Yang suka dengan emping buatannya melebihi produk dari perajin lain.

Yang membedakan, menurut Slamet, adalah kualitas bahannya. Untuk membuat satu emping dia butuh dua biji melinjo. Kemudian, saat proses pemipihan dan pengeringan, dia juga tak menggunakan plastik. Biji melinjo dia geprak dengan pemukul dari besi. Kemudian dia jemur dengan bidai khusus yang terbuat dari anyaman kawat. Dengan model seperti itu melinjo juga lebih cepat kering dibanding dijemur dalam plastik seperti kebanyakan perajin lain.

“Pernah pelanggan saya membeli di tempat lain, katanya emping dagangannya tidak laku,” imbuhnya.

Dalam sehari, Slamet bisa memproduksi 5 kilogram emping. Dalam waktu kerja mulai pukul 06.00 hingga 16.00. Hasilnya bisa membuat Slamet menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya.

Perajin lainnya adalah Misdiono, 50. Ketika ditemui, bersama dengan istrinya, Sugiarti, 48, Misdiono juga sedang membuat emping melinjo di teras rumahnya. Berbeda dengan Slamet, Misdiono tak meneruskan usaha dari orang tua. Tapi dia berpindah pekerjaan setelah berhenti sebagai kernet truk. “Karena tak kuat kerja malam saya (akhirnya) mencari pekerjaan lain,” aku bapak satu anak yang jadi kernet truk selama delapan tahun tersebut.

Setelah keluar dari pekerjaan sebelumnya, Misdiono tidak langsung membuka usaha sendiri. Pada 1996 dia bekerja di tetangganya yang jadi perajin emping melinjo. Kemudian, setelah dua tahun menikah dengan Sugiarti dia mulai membuka usaha emping melinjo sendiri.

“Sejak tahun 1995, jadi sudah 25 tahun” kenang Misdiono.

Dengan usahanya menjual emping melinjo, pasangan suami istri ini tidak hanya dapat memperbagus rumah. Namun juga dapat menyekolahkan Elma Fitrian, 23, putri semata wayangnya, hingga perguruan tinggi.

Sama halnya dengan Slamet, dalam satu hari Misdiono bisa menghabiskan 12 kilogram melinjo mentah. Sedangkan untuk menjadi emping, berat akan menyusut menjadi sekitar 6 kilogram.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia