Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Oud Community dan Upaya Mereka Mengenalkan Gambus di Nganjuk

Jumlah Pemusik Minim, Kesulitan Regenerasi

08 November 2019, 11: 59: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

Gambus

MEMBUMIKAN GAMBUS: Pengurus Oud Community usai mengikuti pertemuan rutin yang digelar sebulan sekali. Mereka biasa sharing untuk membahas permasalahan musik gambus di Nganjuk. (Oud Community for radarkediri.id)

Share this          

Seni musik gambus yang biasanya hanya dipentaskan di pesantren, kini lebih “membumi” di Kota Angin lewat Oud Community. Belasan grup musik gambus bergabung di dalamnya. Mengenalkan seni dari jazirah Arab itu sekaligus melakukan syiar Islam.

SRI UTAMI. Nganjuk, JP Radar Nganjuk

Pernah mendengar lagu Magadir? Atau lagu Habibi ya Nurul Ain? Dua lagu yang pernah populer di awal 1990-an itu mungkin memang tidak begitu dikenal sekarang. Tetapi, bagaimana dengan lagu Ya Habibal Qolbi? Mayoritas dipastikan mengenal lagu dari Sabyan gambus ini. Lagu populer ini biasa dinyanyikan anak-anak hingga orang dewasa.

“Memang Sabyan gambus ini membuat musik gambus ikut ngetren. Semakin banyak yang mengenal musik gambus,” ujar Mahathir Mohamad, pemilik grup musik gambus Assalam, mengawali cerita tentang perkembangan musik gambus di Nganjuk. 

Geliat yang sama juga terjadi di Kota Angin. Selama dua tahun terakhir seni musik dari Timur Tengah itu semakin dikenal. Jika biasanya musik gambus hanya tampil di kegiatan pesantren, selama tiga tahun gambus tampil di banyak acara. “Sekarang acara partai juga biasa mengundang musik gambus,” tutur pria asal Desa Mlilir, Berbek ini sambil tertawa.

Pria yang akrab disapa Hathir ini lantas mengisahkan, di awal 1990-an silam, hanya ada satu grup musik gambus di Nganjuk. Yaitu, gambus Assalam yang kini dikelolanya.

Seiring berjalannya waktu, musik dari jazirah Arab itu semakin berkembang. Hingga, saat ini total ada 15 grup musik gambus. Dengan banyaknya grup musik, mereka lantas memutuskan untuk membentuk komunitas pada 2009 lalu. “Akhirnya lahirlah Oud Community,” sambung Affandi Albaimi, penasihat Out Community.

Lewat komunitas yang memiliki base camp di Kelurahan Kapas, Sukomoro ini, mereka biasa sharing berbagai permasalahan terkait musik gambus. Rutin bertemu sebulan sekali, mereka biasa membahas banyak hal. Utamanya perkembangan musik gambus.

Di Oud Community pula, belasan grup ini biasa saling “bajak” pemain saat ada job yang masuk. Maklum saja, meski ada belasan grup musik gambus, pemain musik gambus ini sangat terbatas.

Hathir mencontohkan, pemain gitar gambus atau oud hanya dua orang. Kemudian, pemain biola hanya satu. Demikian juga dengan pemain keyboard. Adapun pemain dumbuk yang hanya dua orang.

Tak ayal, para pemain ini biasa berpindah-pindah grup sesuai job yang masuk. “Kalau jadwalnya bareng, ya terpaksa ambil dari luar daerah,” urai pria yang juga ketua Oud Community itu.

Kebetulan, anggota Oud Community juga tergabung dalam Plat AG, komunitas gambus di eks Karesidenan Kediri. Jika pemain asal Nganjuk sudah mendapat job semua, mereka biasa meminta bantuan dari komunitas lainnya di berbagai daerah.

Mengapa mereka tidak bisa mengambil pemain keyboard atau biola biasa? Rupanya, musik gambus memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Pun dengan alat musik yang sama.

Bapak dua anak ini berujar, musik gambus memiliki maqamat atau variasi sendiri. “Di gambus ada skill Arab-nya. Ada qarik-nya. Tidak semua pemusik bisa. Itu yang sulit,” pria berusia 33 tahun itu.

Karena perbedaan itu, Hathir dan grup gambus lainnya tidak bisa asal comot pemusik. Melainkan, hanya bisa menggunakan pemain musik gambus dalam pentasnya.

Menyiasati kondisi ini, para pemilik grup musik gambus mulai memikirkan regenerasi. Mereka melatih pemusik untuk mendalami musik gambus. “Yang sudah bisa bermain keyboard diarahkan untuk bisa mengiringi. Tapi memang tidak mudah,” bebernya sembari menyebut kini tengah melatih beberapa pemain musik.

Tak hanya menghadapi masalah jumlah pemain yang minim, Baim, sapaan akrab Affandi Albaimi kembali menuturkan beberapa masalah lain yang dihadapi grup musik gambus. Di antaranya, kondisi alat gambus yang terbatas.

Sesuai asalnya, alat musik gambus yang bagus berasal dari Timur Tengah. Misalnya, oud yang bagus adalah buatan Siria. “Jadi harus impor. Calti yang bagus juga dari Siria. Harganya juga mahal,” terang pria yang tinggal di Desa Ngrawan, Berbek itu.

Karena tak bisa mendapatkan alat musik dengan kualitas nomor satu, grup musik gambus di Nganjuk pun menyiasati dengan menambah perform khusus. Misalnya, menyiapkan tari Sufi dan tari Zapin dalam setiap pentasnya. “Mana yang dipilih silakan,” imbuhnya sembari menyebut di Nganjuk ada seorang penari Sufi dan penari Zapin.

Baim, Hathir, dan pengelola grup musik gambus lainnya di Oud Community sepakat untuk terus mengembangkan musik gambus di Nganjuk. Pasalnya, bagi mereka musik gambus bukan sekadar musik biasa. Melainkan, sekaligus syiar Islam lewat syair-syairnya yang bernafas Islam. “Di Oud Community kami berupaya agar musik gambus semakin digemari semua kalangan,” tutup Baim.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia