Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Hama Tikus Serang Puluhan Hektare Sawah

07 November 2019, 14: 35: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

gropyokan tikus

BIKIN RESAH: Petani menunjukkan hama tikus yang berhasil ditangkap dalam kegiatan gropyokan masal di lahan pertanian Desa Pagu, Kecamatan Wates, kemarin. (Faris - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Banyaknya hama tikus yang menyerang tanaman budidaya di Desa Pagu, Kecamatan Wates membuat petani resah. Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri pun turun tangan. Mereka ikut mengatasi meledaknya hama yang menurunkan hasil produksi pertanian tersebut.

Plt Kepala Dispertabun Anang Widodo menyampaikan, antisipasi mewabahnya hama jenis pengerat ini melalui gerakan pengendalian (gerdal) hama tikus, khususnya di areal perkebunan. “Jadi tidak hanya di tanaman pangan dan hortikultura, tetapi tikus itu juga menyerang tanaman perkebunan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Sehingga hal ini menjadi konsentrasi bersama, baik petani maupun pemerintah. Anang menyebut, pengendalian hama tikus tidak bisa dilakukan titik demi titik. Tetapi harus bersamaan. “Karena kami khawatir bila hanya dilakukan skala kecil, pasti tikus bergeser ke tempat lain. Dan mereka menggunakan pola,” ungkapnya.

Sejauh ini, menurutnya, pola pergerakan tikus di Kabupaten Kediri terjadi sekitar aliran Kali Konto. Mulai Desa Brumbung, Kecamatan Kepung hingga  Kecamatan Kunjang. Akan tetapi, kali ini tidak hanya di lokasi tersebut. Anang menyampaikan, telah ada laporan serangan di areal perkebunan tebu di Desa Pagu, Kecamatan Wates. Populasinya cukup besar.

“Saat ini pengendalian melalui sejumlah pendekatan, baik racun tikus maupun dengan pengasapan,” urainya.

Total, kemarin ada 40 hektare (ha) lahan yang dilakukan pengendalian serentak. Pada prinsipnya, dalam penanganan hama tikus ini, selain dengan kimia, ada juga dilakukan secara hayati. Dalam artian ramah lingkungan.

“Dalam waktu ke depan, harapan kami semua pengendalian akan kami lakukan secara ramah lingkungan,” tegas Anang.

Salah satunya, dalam dua tahun ini, secara masal dispertabun telah berupaya membagikan burung hantu atau tito alba di sejumlah lokasi yang menjadi sasaran hama tikus. “Tahun depan kita juga akan masuk ke daerah-daerah perkebunan, mungkin itu nanti karakternya berbeda dengan di areal lahan pangan dan hortikultura,” jelas Anang. Sehingga akan ada mekanisme khusus untuk pengendalian di areal lahan tebu.

Selain secara hayati, pengendalian juga bisa menggunakan tanaman sehat.

Anang menyebut, di Desa Pagu total ada 40 hektare lahan yang terserang hama bernama latin rattus argentiventer ini. Tentu, untuk pengendalian rutin hingga satu minggu ke depan dilakukan pengasapan masal menggunakan basmikus.

Di Kabupaten Kediri, serangan terbanyak di Kecamatan Kunjang dan Kepung. Anang mengungkap, sifat tikus mudah melakukan pergeseran dari satu tempat ke tempat lain. Maka upaya gerdal secara besar-besaran ini harus dilakukan.

Purwanto, salah satu petani, menyampaikan bahwa serangan tikus ini sudah sejak satu tahun belakangan. Petani di sana belum sepenuhnya mengerti cara pengendalian. Sehingga, perkembangan hewan pengerat ini cukup pesat. “Hampir seluruh tanaman, mulai padi, jagung hingga tebu,” ujarnya.

Bahkan, untuk tanaman jagung miliknya masih usia 10 hari sudah ludes diserang tikus. Rata-rata gagal panen. Ia menyebut, tahun ini sangat parah, bahkan tanaman miliknya lebih dari 50 persen terserang. “Selama ini hanya diberi obat kimia, tapi hasilnya tidak signifikan,” imbuhnya.

Purwanto berharap, dengan adanya gropyokan masal ini bisa menurunkan populasi tikus di Desa Pagu. “Semoga dengan berkurangnya tikus, produksi bisa kembali meningkat,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia