Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Tangkap 11 Botoh Pilkades

Bertaruh untuk Cakades Unggulan

07 November 2019, 14: 07: 43 WIB | editor : Adi Nugroho

botoh pilkades

DITAHAN: Para tersangka kasus botoh pilkades di Desa Sekoto dan Pagu saat mengikuti pers rilis di Mapolres Kediri, kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Praktik perjudian dalam ajang pemilihan kepala desa (pilkades) serentak, akhir Oktober lalu (30/10), bukan isapan jempol. Buktinya, tim Satuan Tugas (Satgas) Antibotoh Polres Kediri dapat mengungkapnya. Sebanyak 11 pelakunya ditangkap.

“Mereka diamankan dari dua lokasi. Sembilan dari Kecamatan Badas, sementara dua lainnya berasal dari Kecamatan Pagu,” terang Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal Saiful Faton dalam pers rilis yang digelar, kemarin (6/11).

Dari para penjudi itu, tim satgas antibotoh satreskrim turut mengamankan  barang bukti uang Rp 36,8 juta. “Saat ini kasusnya dalam proses penyidikan. Para pelakunya tengah menjalani pemeriksaan,” imbuh Roni.

Dia menjelaskan, sebelas tersangka yang diamankan memiliki peran berbeda. Ada yang menjadi bandar, pengepul, dan pengecer yang mencari pemasang taruhan. Jumlah nominal uang yang dipertaruhkan diperkirakan hingga ratusan juta rupiah.

“Pengepul atau bandar bertugas memasang harga taruhan cakades (calon kepala desa),” ungkapnya.

Informasi koran ini menyebut, penangkapan kali pertama dilakukan pada Kamis (24/10). Tepatnya di Dusun Kauman, Desa/Kecamatan Pagu.  Di lokasi tersebut, tim satgas antibotoh mengamankan Taru Sanjaya, 45, warga Dusun Kauman, Pagu, dan Sujono, 52, warga Jalan Rahayu, Desa Sitimerto, Kecamatan Pagu.

Dalam perjudian tersebut, Taru berperan sebagai bandar. Dia memegang ‘jago’ cakades nomor satu, atas nama Sofidun. Sementara, Sujono berperan sebagai perantara penyerahan uang. Dalam ajang perbotohan ini, Taru menggunakan sistem voor. Terhadap botoh yang menjagokan cakades nomor tiga, atas nama Pendik Sarjono, mendapatkan tambahan sebanyak 200 suara.

Dari transaksi pertaruhan ini, Sujono mendapatkan komisi 10 persen. Uangnya dipotong langsung dari bursa taruhan. “Penombok akan datang ke rumah tersangka Sujono. Mereka dengan membawa uang taruhan,” beber Roni.

Dengan sistem voor itu, botoh yang membawa uang taruhan sebesar Rp 2 juta akan dikenai potongan sebesar Rp 100 ribu. Itu sebagai imbalan untuk Sujono. Dia  menerima uang taruhan tersebut pada 24 Oktober 2019. Itu saat berada di warung Desa/Kecamatan Pagu.

Siang itu sekitar pukul 14.00 WIB, Sujono menyerahkan uang kepada Taru.  Sujono memilih jago yang bawah. Sedangkan Taru memilih cakades yang diunggulkan.

Selang empat hari kemudian, tepatnya Senin (28/10) tim satgas antibotoh mengamankan sembilan tersangka kasus botoh di lokasi terpisah. Tepatnya di Desa Sekoto, Kecamatan Badas.

Mereka adalah Suwardi, 32; Sukamto, 49; Aris Setyo, 38; Mustakim, 37; dan Sugito, 41. Keempatnya warga Jalan Airlangga, Desa Sekoto, Kecamatan Badas . Selain itu, Sumilan, 60, warga Jalan Hayam Wuruk, Dusun Kranjang, Desa Sekoto; Lasnowi Adi Umbara, 36, warga Jalan Sultan Agung, Desa Sekoto; Winarto, 54, warga Dusun Templek, Desa Darungan, Kecamatan Pare; dan Dian Putra Pradana, 31, warga Jalan Soekarno Hatta, Desa Bendo, Kecamatan Pare pun ditangkap.

Dalam kasus botoh pilkades di Sekoto, Badas ini, Roni mengatakan, sebelumnya telah mendapatkan informasi dari masyarakat. “Bahwa terjadi perjudian atau taruhan dalam pilkades. Maka kami lantas melakukan penyelidikan,” tuturnya.

Dari penyelidikan tersebut, perwira Polri ini mengaku, telah menemukan beberapa warga yang berusaha bertaruh. Mereka memasang taruhan untuk menjagokan cakades tertentu.

Untuk diketahui, di Desa Sekoto ada empat calon kepala desa yang macung. Namun hanya dua cakades yang dijadikan taruhan. Adapun sistem botoh yang dilakukan adalah Cakades Samsul dipasang dengan taruhan Rp 15 juta. Sedangkan  rivalnya, Cakades Suprayitno, dipatok taruhan senilai Rp 25 juta.

Suwarno dan Mustakim berperan sebagai bandar. Perantaran dari ajang botoh ini mendapatkan komisi 5 persen. Itu dipotong dari nilai transaksi taruhan.

Dari tidak pidana tersebut, menurut Roni, diamankan barang bukti uang sebesar Rp 28,5 juta dan Rp 4,75 juta. “Akibat perbuatannya, kesebelas tersangka dikenai pasal 303 KUHP (tentang perjudian) dengan hukuman paling lama 10 tahun penjara,” terang orang nomor satu di wilayah hukum Polres Kediri ini.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia