Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kemarau Panjang, Air Kawah Kelud Berubah

Tak Ada Hujan, Aktivitas Vulkanik Rendah

07 November 2019, 13: 56: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

kawah kelud

FENOMENA ALAM: Kondisi air kawah Gunung Kelud yang mengalami perubahan warna akibat musim kemarau panjang, kemarin. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

 KABUPATEN, JP Radar Kediri – Setelah letusan 2014 lalu, aktivitas Gunung Kelud kini sedang istirahat. Yang menarik, warna air kawahnya berubah. Mengapa? Itu karena musim kemarau panjang.

Beberapa bulan ini, warna air kawah Kelud memang lebih pekat. Jika dilihat, lebih cenderung kuning keoranyean. Hal tersebut dibenarkan oleh Petugas Pos Pemantauan Gunung Kelud Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Khoirul Huda.

"Memang karakternya seperti itu. Dari dulu kalau kemarau panjang, warna kawah Kelud selalu berubah. Karena tidak ada air yang memenuhi danau dan terjadi pengurangan volume air kawah," jelasnya kepada koran ini.

Khoirul menegaskan bahwa yang berkurang adalah volume air. Sementara untuk kandungannya tetap. Hal itulah yang mengubah warna air kawah. "Selama kemarau panjang, air kawah Kelud menguap besar-besaran. Sementara input air tidak ada. Ada pun sangat kecil, dari sumber yang ada di sekitar kawah," paparnya.

Termasuk dalam waktu lima bulan ini, puncak gunung tidak ada hujan sama sekali. Bahkan, terakhir permukaan air kawah turun sampai 10 meter. Jika dilihat seksama, sisa-sisa belerang terlihat jelas menempel di sekeliling bibir kawah.

Ketika musim penghujan, Khoirul menyebut, warna air kawah Kelud kuning cenderung kehijauan. "Tapi sekarang (musim kemarau) warnanya kuning cenderung oranye," jelasnya saat ditemui di kantor Pos Pemantauan PVMBG Desa Suhgihwaras, Kecamatan Ngancar, kemarin.

Penguapan air yang dimaksud Khoirul, mengakibatkan unsur-unsur kimia yang terkandung pada kawah Kelud seperti zat besi atau belerang tidak bisa cair. Beberapa terlihat mengendap. Termasuk kondisi penurunan permukaan air kawah itu juga berakibat unsur kimia tersebut tidak bisa keluar melalui terowongan paling dasar. Sehingga saat ini terjebak di kawah.

"Tetapi kalau volume air meningkat, maka unsur tersebut bisa mengalir keluar melalui terowongan. Akhirnya kandungan unsur kimia yang ada di kawah itu cenderung lebih rendah," urainya.

Sementara terkait aktivitas Gunung Kelud, Khoirul menyampaikan bahwa kondisinya saat ini sedang istirahat. Bahkan dalam satu bulan, gempa vulkanik paling banyak adalah lima kali." Padahal gunung-gunung lain sehari bisa sampai 10 kali. Ini (Gunung Kelud, Red) sebulan dapat lima kali," ujarnya.

Hal itu karena aktivitas di dapur magma setelah letusan dahsyat 2014 itu tidak terlalu tinggi. Lokasi dapur magma Gunung Kelud cukup dalam. Sehingga kekuatan untuk mendorong ke atas itu sangat rendah. Tidak seperti 2014 yang kondisinya berbeda.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia