Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Lebih Ringan dari Tuntutan

Sutiwo Divonis Sebelas Tahun Penjara

07 November 2019, 11: 20: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Sutiwo

BELUM FINAL: Endah, istri Sutiwo, menutupi wajah suaminya saat meninggalkan ruang Cakra, PN Nganjuk kemarin. Terdakwa pembunuh Vicky Febrin Piawai itu divonis 11 tahun penjara. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Hukuman penjara yang diterima Sutiwo lebih singkat. Pasalnya, sidang dengan agenda putusan di Pengadilan Negeri Kabupaten Nganjuk kemarin memvonis anggota Satlantas Polres Nganjuk itu dengan hukuman 11 tahun. Lebih ringan empat tahun dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU).

Dalam sidang dengan agenda tuntutan Rabu (23/10) lalu, JPU menuntut Sutiwo dengan pidana penjara selama 15 tahun. Tetapi, dalam sidang dengan agenda putusan kemarin, dia divonis 11 tahun.

Dalam sidang yang dimulai sekitar pukul 13.30, majelis hakim menilai peran Sutiwo dalam meninggalnya Vicky sangat sentral. Pun dia bukan eksekutor pembunuhan berencana tersebut. Melainkan Supriyadi. Pria yang hingga saat ini masuk daftar pencarian orang (DPO).

Grafis

(Grafis: Nakula Agie Sada - radarkediri.id)

Seperti halnya JPU, majelis hakim juga menjerat Sutiwo dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Menanggapi vonis majelis hakim terhadap terdakwa pembunuh Vicky Febrin Piawai itu, pihak keluarga langsung mengungkapkan kekecewaannya. “Saya tidak terima (putusan majelis hakim). Putusan yang diberikan terlalu ringan,” ujar Agung Murcahyo, ayah Vicky.

Lebih jauh Agung mengatakan, jika Sutiwo divonis 15 tahun penjara pun, pihak keluarga menilai hukuman itu masih terlalu ringan. Pria yang tinggal di Kelurahan Mangundikaran, Kota Nganjuk itu ingin agar Suwito divonis hukuman seumur hidup.

Hukuman itu menurutnya bisa dianggap setimpal. “Dia (Sutiwo, Red) itu telah mengambil dua nyawa,” keluh Agung tentang anaknya yang dihabisi nyawanya dalam kondisi mengandung empat bulan itu.

Sementara itu, jika keluarga Vicky menyatakan tidak menerima, Sutiwo langsung menyatakan menerima vonis majelis hakim. Kesempatan untuk berdiskusi dengan pengacara usai pembacaan putusan juga tak digunakannya.

Achmad Yani, penasihat hukum Sutiwo mengungkapkan, pihaknya menghormati keputusan yang diambil Sutiwo. Meski, keputusan tersebut diambil tanpa adanya diskusi terlebih dahulu. “Keputusan hukum kami kembalikan sepenuhnya kepada terdakwa (Sutiwo, Red),” terang Yani kepada koran ini.

Di lain sisi, JPU memilih untuk pikir-pikir terlebih dahulu atas putusan yang diberikan. Seperti diketahui, majelis hakim memberi waktu selama tujuh hari sebelum JPU menyatakan sikap terkait vonis terhadap Sutiwo.

Kasi Pidana Umum Kejari Nganjuk Roy Ardiyan Nurcahya berujar, pihaknya tidak ingin tergesa-gesa menyatakan menerima putusan majelis hakim. Di antaranya, untuk menghindari kemungkinan manuver hukum yang dilakukan oleh pihak Sutiwo.

“Kami akan menunggu hingga tujuh hari, apakah ada upaya hukum dari terdakwa atau tidak. Takutnya tiba-tiba mengajukan banding. Jadi kami akan menunggu terlebih dahulu,” paparnya saat dihubungi koran ini melalui sambungan telepon.

Sementara itu, sidang dengan agenda putusan kemarin jadi perhatian pihak keluarga Vicky. hampir separo ruangan sidang Cakra PN Nganjuk dipenuhi oleh keluarga perempuan berkulit putih itu.

Meski kecewa dan tidak terima dengan putusan yang diberikan, tidak ada ketegangan antarkedua belah pihak. Setelah hakim mengetuk palu, Sutiwo langsung dilarikan kembali ke ruang tahanan sementara PN Nganjuk. Seperti biasa, Sutiwo berjalan dengan muka ditutupi oleh Endah, istrinya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia